Memupuk Semangat Beternak Dikalangan Para Peternak Ayam

Ketika genetis ayam terus terbarui, lingkungan ayam mendukung, serta nutrisi yang diberikan baik, maka pencapaian keberhasilan beternak terletak pada manajemen, sebagaimana formula baku P = (G + E + N) x M. Secara genetis ayam ISA hingga 80 minggu mampu memroduksi telur HH 351 butir atau 22,1 kg dengan puncak produksi yang cepat dan bertahan lama hingga 24 minggu di atas 90% HD, dengan berat telur yang cepat naik dan stabil hingga masa afkir. Dengan demikian, yang terpenting adalah mampukah manajemen kita dapat menghasilkan produksi sesuai potensi genetis yang dimiliki?
semangat beternak

Ada pengaruh tak langsung terhadap produktivitas ayam, di luar formula di atas tapi sangat vital, yakni 'semangat beternak'. Paling tidak semangat ini harus dimulai dari visi beternak sehingga implementasinya mengarah pada usaha untuk mencapai performa tersebut. Kadang lupa bahwa kita bertanggungjawab untuk memaksimalkan produktivitas, karena terlupakan dengan rutinitas pekerjaan harian di farm. Belum lagi secara tidak sadar mengalami kejenuhan kerja karena kurang-nya inovasi atau bahkan tidak sadar penyebabnya apa.

Pengaruh tak langsung seperti kondisi politik bangsa, krisis finasial Amerika Serikat, yang belakangan ini dibicarakan di mana-mana; media cetak, TV, hotel-hotel berbintang, cafe hingga di warung kopi bahkan di kandang ayam, diwarnai keluh kesah sebagai ungkapan pesimistis kolektif. Pesimisme seolah menjadi bahasa bersama yang merupakan kondisi yang tidak sehat. Tidak sedikit yang membuat loyo dalam menjalankan tugas bekerja karena saking asyiknya diskusi membahas masalah bangsa ini. Hal ini berkaitan dengan sulitnya tekanan ekonomi diberbagai sektor.

Menyitir tulisan Anis Baswedan Ph.D. Rektor Universitas Paramadina "Bentangkan Optimesme Kolektif Bangsa" . menyebutkan bahwa anak muda dan para pemimpin di '• - berbagai sektor dan segala strata harus menjadi motor tumbuhnya optimisme. Pelajaran yang cukup baik sebagai cermin bagi kita di jalur peternakan ayam, karena kadang kurang memperhatikan jalur bisnis. Masih kebanyakan pelaku hanya sekedar menjalankan tugas, belum berusaha menjadi inisiator sehingga kurang responsif dan segala sesuatu masih tergantung pada pemilik (owner). Kita juga dapat mengambil pelajaran dari buku Classic Druker tulisan Peter F. Drucker 2006 by Harvard Business School disebutkan Perusahaan dewasa ini tidak mengelola karier karyawannya, pekerja berpengetahuan (knowledge worker) harus secara efektif menjadi eksekutif bagi dirinya sendiri. Anda berhak mengukir tempat Anda, tahu kapan mengubah nasib, dan menjaga agar tetap produktif selama masa kerja berlangsung. Untuk dapat melakukan hal ini dengan baik, perlu ditanamkan pemahaman mendalam tentang diri sendiri-tidak hanya kekuatan dan kelemahan tetapi juga bagaimana belajar, bekerja dengan orang lain, dan nilai-nilai yang harus dipegang, serta ke maha kontribusi terbesar diberikan. Karena hanya jika bekerja dengan keunggulan, Anda dapat mencapai kesempurnaan yang sesungguhnya
Share:

No comments:

Post a Comment

Recent Posts