Mencermati Penurunan Produksi Ayam Petelur

Tujuan akhir dari pemeliharaan layer komersial atau breeding farm adalah mewujudkan suatu flock yang mencapai standar produksi telur secara berkesinambungan. Mayoritas penyebab turunnya produksi telur disebabkan oleh kesalahan manajemen dan nutrisi, di samping penyakit-penyakit infektius. Untuk memastikannya kita harus mengikuti langkah-langkah logis yang spesifik.
 
Penyebab Turunnya telur Ayam
Layer telah diseleksi secara genetik untuk dapat bertelur secara maksimum sesuai potensi genetiknya. Dalam rangka mewujudkan potensi genetik, unggas tersebut harus mendapatkan nutrisi, manajemen dan lingkungan yang tepat. Tentu saja unggas tersebut juga harus dilindungi dari penyakit infeksius yang dapat menurunkan produksi telurnya. Yang kerap ditemui dewasa ini, peternak unggas hanya memikirkan kemungkinan penyakit infeksius saja ketika mendapati kondisi produksi yang turun. Padahal penyebab penurunan produksi tidak hanya itu, mayoritas karena kesalahan manajemen atau nutrisi dibanding adanya kasus penyakit infeksius.

Mendeteksi asal masalah penurunan produksi telur

Unggas petelur modem membutuhkan kesempurnaan dalam hal nutrisi dan lingkungan. Mereka Juga sangat sensitif terhadap hal-hal kecil yang nampaknya tidak signifikan pengaruhnya terhadap turunnya produksi telur. Turunnya produksi telur dapat diakibatkan oleh beberapa hal berikut:

Masalah di lingkungan kandang dan atau manajemen. 
Masalah di lingkungan kandang yang perlu diperhatikan adalah tinggi rendahnya temperatur kandang. Suhu tinggi (di atas 29° C) menyebabkan stres pada unggas, menurunkan FI (Feed Intake), serta menekan produksi telur -baik jumlah maupun ukurannya. Suhu rendah (di bawah 13° C) juga dapat menyebabkan produksi turun. Selain itu, ventilasi yang kurang, lama dan intensitas cahaya, perubahan mendadak dari kondisi harian, banyak binatang pengerat, kondisi kepadatan dalam /Jodt, kebisingan yang membuat ayam takut juga merupakan masalah di lingkungan kandang yang sangat serius.

Masalah di pemberian pakan atau nutrisi. 

Masalah pemberian pakan sering terjadi antara lain:
ketidakcukupan pakan atau distribusi pakan yang kurang baik, kesalahan pada nutrient atau komponen pakan karena ketidaktepatan mixing pakan, ketidakcukupan kandungan energi pada nutrient karena komposisi protein/A A, Ca, P, Na, vitamin maupun mineral premiks yang kurang tepat.
Mayoritas penyebab turunnya produksi telur disebabkan oleh kesalahan manajemen dan nutrisi.
Perubahan mendadak pada kandungan pakan, komposisi pakan atau tekstur pakan akan menimbulkan penurunan Fl, yang selanjutnya dapat menurunkan produksi telur dalam beberapa hari. Pemberian pakan energi tinggi pada puncak produksi di kandang model cage akan menimbulkan kegemukan, sehingga kadang-kadang terjadi sindrom pendarahan pada hati yang berlema

Penyakit-penyakit infeksius. Beberapa penyakit dapat menyebabkan turunnya produksi dengan cara menginfeksi organ reproduksi sebagai bagian dari proses infeksi penyakit. Turunnya produksi telur (baik diikuti perubahan kualit maupun tidak) pada unggas biasanya diakibatkan oleh penyakit-penyakit seperti IB, ND, EDS, Al, AE, cacar, Mycoplasmosis, Coryza dan parasit parasit eksternal.

Bahan beracun

Beberapa bahan beracun yang menyebabkan Iurannya produksi antara lain Mycotoxin (seperti: aflatoksin, trichthecenes, ochratoxins dan oosporein); logam atau mineral (seperti: tembaga, sodium, arsenik, nitrat, seng bikarbonat); bahan anorganik (seperti : insektisida, rodentisida organik, fungisida dan herbisida) serta penggunaan obat-obatan yang tidak kompatibel (cocok/tepat).

Langkah-langkah logis yang spesifik

Ada beberapa langkah yang harus di ambil dalam mengatasi menurunnya produksi layer, yaitu :
  1. Menentukan masalah dan lama berlangsungnya. Mengetahui perkiraan persentase HD (Hen Day) strain ayam. Umumnya 4-5% penurunan produksi di atas satu minggu sudah cukup untuk memulai penyelidikan.
  2. Mempelajari sejarah produksi secara detail, seperti mengkaji program pengobatan dan vaksinasi, sejarah penyakit, perubahan pada ukuran telur, bentuk telur, kualitas kerabang, tanda-tanda klinis, kenaikan mortalitas dalam flock, penurunan Fl, penurunan atau kenaikan konsumsi air minum, perubahan pada kandungan pakan, komposisi dan tekstur pakan, pengiriman pakan. Pendekatan dengan petugas kandang untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi selama proses pemeliharaan sangat penting dilakukan.
  3. Melakukan uji serologi untuk melihat titer antibodi virus atau mikoplasma yang menyebabkan turunnya produksi. Sampel darah harus diambil secepatnya ketika terjal’ penurunan produksi. Pengambilan darah selanjutnya diupayakan dua atau tiga minggu keatiidian dari ayam yang sama.
  4. Memeriksa kandang-kandang yang produksi telurnya bermasalah, khususnya pada pengaturan lama dan intensitas cahaya lampu. Mengambil sampel pakan jika dicurigai adanya masalah. Pakan harus diuji untuk kadar peroksida dan level nutriennya, khususnya protein, Ca, P, Na, Cl, Zn dan Mg. Jika perlu pakan dapat diuji pada faktor racun.
  5. Periksa unggas dari kandang yang bermasalah. Jika kandang yang bermasalah tidak menunjukkan tanda klinis, cari ayam yang tidak bertelur, tampak stres, bulu rontok atau pucat dengan jengger berwarna pudar.
  6. Mengambil sampel untuk pemeriksaan mikrobiologi dan histopatologi. Diupayakan diambil di saat terjadinya penurunan produksi yang paling parah. 
 Tipe sampel yang diambil tergantung pada penemuan saat bedah bangkai. Sampel yang telah terkontaminasi berat atau specimen yang berasal dari bangkai yang telah membusuk tidak dapat digunakan untuk pemeriksaan mikrobiologi dan histopatologi. Pengajuan untuk uji laboratorium haruslah relevan, ekonomis dan diyakini dapat memberikan hasil

https://www.myanimalmyhealth.org/2016/10/12-factors-that-may-affect-egg-production-in-poultry-farms/
https://www.thedollarbusiness.com/magazine/eggs---not-so-fragile-profits-/39583
Share:

No comments:

Post a Comment

Recent Posts