Home / Tak Berkategori / Kendala Yang Akan dihadapi Pebisnis Kayu Cendana

Kendala Yang Akan dihadapi Pebisnis Kayu Cendana

Dua buah kuali baja bergaris tengah 2 m itu diselimuti debu.Sebilah papan berukuran 4mx4 m tampak menyungkupi permukaan kuali. Di atas papan itu tergeletak 2 kursi plastik berwarna merah. Kusam dan berdebu pula. Suasana di sebuah pabrik pengolah cendana di Batu Plat, Kecamatan Alak, Nusa Tenggara Timur, itu menjadi pemandangan biasa sejak cendana semakin langka diperoleh.

Pabrik yang berdiri sejak 1974 itu kini memang bagai hidup segan mati pun tak mau. Hanya lantaran menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi puluhan karyawan yang sudah mengabdi belasan tahun, rencana menamatkan pabrik pun urung dilakukan. Padahal pabrik sejenis, PT Sumber Agung, yang berjarak sekitar 200 m sudah resmi dibubarkan sejak awal 2002.

Kesibukan sehari-hari di pabrik itu hanya menjemur ampas sisa-sisa penyulingan cendana. Di teras belakang seluas 300 m2 itu semua ampas dikeringkan dengan cara dibolak-balik sebulan lebih lamanya. Semua tergantung cuaca. Setelah benar-benar kering mirip butiran debu,
ampas itu kemudian dimasukkan ke dalam karung-karung plastik berkapasitas 50 1. Mereka akan bergabung bersama puluhan karung serupa di gudang sebelum kemudian dipasok ke Singapura dan Hongkong untuk bahan baku dupa dan kemenyan.

Kelangkaan aicemelin—cendana dalam kosakata tetum—pangkal semua itu. “Cendana semakin sulit didapat. Di sini kuali-kuali itu baru beroperasi setelah ada bahan baku minimal 1 ton,” ujar Rosliati Pohan dari PT Tropical Oil, produsen minyak cendana—santai—dan serbuk cendana itu. Untuk memperoleh bahan baku sebanyak itu perlu waktu 1,5 bulan untuk mengumpulkannya. Padahal pada kondisi normal kapasitas produksi pabrik mencapai 500 ton per tahun.

Eksploitasi tanpa diimbangi penanaman, cendana semakin sulit dijumpai

Punah secara ekonomi

Menurut Ir Sundoro Darmokusumo, kepala Dinas Kehutanan Provinsi NTT, kayu cendana di NTT secara ekonomi telah punah sejak 2000. “Tidak ada lagi sumbangan untuk pendapatan daerah. Saat ini cendana umur tebang (40—50 tahun, red) sudah habis,” ujarnya pada Trubus. Di NTT penyebaran cendana hanya terpusat di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, dan Pulau Sumba.

Produksi cendana di sentra terbesar di Timor Tengah Selatan (TTS) seluas 3.947 km2 kini turun drastis. Sejak 1991—1995 rata-rata cendana yang dieksploitasi mencapai 400.000 kg. Bahkan pada 1996 volume menjulang hingga 1.744.161 kg. Setahun berikutnya berbalik, menukik tajam menembus 25.650 kg. “Data kami menunjukkan sejak 2000 tidak ada lagi hasil penebangan di sini,” tutur John Chr Mella, kepala Dinas Kehutanan setempat.

Penurunan itu signifikan dengan keluhan pabrik-pabrik pengolah yang kesulitan memperoleh bahan baku. Menurut Rosliati pada kurun 1990-an PT Tropical Oil mampu memproduksi minyak cendana dari bahan baku sebanyak 300 ton per tahun. Dengan volume itu dapat dihasilkan 7.500 kg minyak santai (1 ton cendana = 25 kg minyak). Minyak yang dipakai sebagai pengharum dan kosmetik itu diekspor ke Perancis, Jepang, Taiwan, Hongkong, dan Singapura.Memasuki 2000, untuk memperoleh 20 ton per tahun, pabrik disokong penanaman modal dalam negeri itu (PMDN) itu megap-megap. Malah selama Januari—April 2004 saja total bahan baku yang didapat 5 ton. “Kebanyakan rembesan cendana dari Timor Leste yang dikumpulkan oleh pengepul yang mengirim ke sini (Indonesia, red),” ujar Rosliati.

Perajin-perajin kayu ai nitu alias kayu setan itu ikut terimbas. “Kerajinan dan pemak-pemik cendana di sini hanya sisa yang belum terjual,” ujar Ambar dari Padang Bulan Souvenir di bilangan jalan Suharto, Kupang. Kalaupun ada yang memasok harga yang ditawarkan melambung. Segulung tasbih cendana umpamanya pada 2001 hanya ditawarkan Rpl5.000 kini melonjak hampir 2,5 kali lipat.

Tersandung peraturan

Langkanya cendana di NTT lantaran rasa enggan masyarakat membudidayakan kayu beraroma harum itu. Ini akibat belenggu aturan daerah No 16/1986 yang menyebutkan seluruh pohon cendana dimiliki pemerintah. Baik yang tumbuh alamiah, ditanam warga, dan tanaman mati. Bahkan kepingan dan akar yang belum diolah juga dimiliki pemerintah. Masyarakat pemilik hanya mendapat kompensasi ongkos tebang sebesar Rp3.000—Rp5.000 per pohon.

“Jadi jangan heran banyak yang malas menanam. Masyarakat di sini (TTS) sudah menganggap cendana bukan kayu mereka lagi,” ujar John Chr Mella. Pekebun yang masih memiliki cendana di lahan cenderung menebangnya. Tak heran cendana di NTT menuju jurang kepunahan. Merujuk data inventarisasi Dinas Kehutanan di TTS, sejak 2000— 2003 hanya terdapat 112.710 pohon cendana yang rata-rata berumur 8—10 tahun.

Beruntung, belakangan peraturan yang dirasa merugikan pekebun itu mulai dicabut. “Sekarang masyarakat dipersilakan menanam sebanyak-banyaknya dan hasilnya sepenuhnya milik mereka. Yang tetap menjadi milik pemerintah hanya cendana yang tumbuh alamiah di hutan atau lokasi lain,” papar Sundoro Darmokusumo. Meski demikian upaya itu kurang mendapat sambutan baik. Maklum secara ekonomi mereka tidak dapat secara langsung merasakan keuntungan. Pertumbuhan cendana sangat lambat. Pohon itu baru dapat dipanen setelah berumur 40—50 tahun.

Di pihak lain peraturan itu menjadi keberuntungan bagi pekebun yang masih memiliki beberapa hu meni—sebutan cendana bagi masyarakat TTS—di pekarangannya. Sebut saja Absolom Baitanu di Desa Binaus Kecamatan Mollo Selatan, TTS. Sebuah pohon cendana berusia belasan tahun sudah ditawar Rp25-juta. “Saya belum mau lepas. Biarkan saja dia hidup di sini untuk anak cucu saya,” ujar kakek 3 cucu itu.

About adi

error: Content is protected !!