Senin, 27 Mei 2019

Manfaat Dan Produk Dari Kayu Cendana

Di atas anglo mungil, minyak cendana itu dihangatkan oleh nyala lilin. Aromanya memenuhi ruangan yang bercitra natural. Tak jauh dari anglo perempuan muda menelungkup di atas dipan. Seiring irama musik yang mengalun lembut, terapis memijat setelah mengoleskan minyak cendana di punggung perempuan itu.

Minyak cendana senantiasa hadir di spa-spa atau pusat perawatan tubuh yang kini menjamur di kota-kota besar. Bagi masyarakat perkotaan yang amat peduli terhadap kesehatan plus kecantikan, pergi ke spa merupakan gaya hidup. Di sanalah mereka merasakan kesegaran minyak cendana.

Jiwa seolah tenteram saat harum cendana menelusup ke saraf. Sampai-sampai pengunjung spa yang terus dipijat itu terlelap hingga sejam. “Setelah bangun tubuh terasa lebih segar dan energik,” kata Drs Mohammad Asyahadi, manajer operasional Taman Sari Royal Heritage Spa.



Bikin gpeng

Tak melulu para nona yang kecantol minyak cendana. Pasangan suami-istri gaek pun menyukai minyak yang disuling dari sandalwood itu. Ditengarai keharuman minyak Santalum album berefek afrodisiak. Kualitas hubungan pasangan pun meningkat pesat. “Namun jangan salah duga. Ia hanya meningkatkan dan mencegah. Bukan mengobati,” ujar alumnus Fisioterapi Universitas Airlangga itu.

Di tempat-tempat perawatan tubuh minyak cendana tak bisa digunakan mandiri. Ia perlu dicampur dengan base oil alias minyak dasar seperti minyak jagung dan minyak kedelai. Sebab santanol murni—dan asiri lainnya— seperti air keras. Ia merusak kulit dan menimbulkan gatal-gatal. “Alih-alih stamina terjaga. Malah kulit rusak,” ujar Asyahadi. Untuk mengatasi itu 10 tetes minyak asiri cendana dicampur dengan 20 ml minyak kedelai.

Sejak lampau

Jauh sebelum penggunaan minyak cendana marak di spa-spa, kayu ai camelin—sebutan di Timor-Timur—telah digunakan oleh resi, brahmana, dan ksatria kerajaan di Pulau Jawa untuk tapa brata. Kayu cendana dibakar di atas anglo di depan pertapaan. Harumnya membuat daya konsentrasi meningkat. Tujuan berkomunikasi dengan sang Hyang Widi pun lebih mudah tercapai. Dewasa ini, tujuan serupa masih digunakan terutama oleh mereka yang rutin bermeditasi.

Putri dan pangeran di zaman kerajaan pun gemar memanfaatkannya sebagai campuran air mandi. Kolam mandi di istana alias Taman Sari selalu ditetesi wewangian seperti minyak cendana sehingga air kolam harum semerbak. Haraf mafhum, bila dicampur dengan ramuan lain seperti temulawak, kunyit, dan pulasari maka cendana berkhasiat meremajakan kulit dan wajah. Wajar paras putri keraton halus dan elok.

Berbagai khasiat cendana pun tercatat di lontar usada dalem rakyat Bali. Cendana menjadi campuran ramuan untuk obat penawar racun. Air gosokan cendana dicampur dengan kulit batang pohon kemiri, santan kental, rempah-rempah, dan majakene (sejenis buah maja) dipanaskan. Air perasan ramuan itu diminum oleh penderita yang terkena racun. Kini berbagai resep pengobatan di lontar itu telah dialihbahasakan ke bahasa Indonesia oleh Fakultas Pengetahuan Budaya Universitas Udayana.
Produk minyak kayu cendana


Cegah kanker

Kabar gembira datang dari Purnama, pengobat di Semarang. Ia menyebutkan campuran kayu cendana dan ratus bermanfaat bagi kesehatan organ kewanitaan. Kedua bahan itu diramu sedemikian rupa menjadi serbuk untuk gurah vagina. Serbuk kayu itu membuat bagian penting perempuan itu harum dan bersih sehingga dapat mencegah kanker mulut rahim.

Khasiat cendana lebih lengkap diterangkan oleh BRA Mooryati Soedibyo dalam seminar bertema tumbuhan untuk kecantikan. Menurutnya sandalwood oil berguna untuk perawatan infeksi saluran kencing dan alat kelamin, mengobati radang, dan luka bakar, wasir, batuk yang membandel, dan masalah tenggorokan, serta beberapa penyakit saraf.

Setelah dicampur dengan ramuan lain minyak itu cocok untuk mengatasi gangguan kulit, seperti bercak merah,luka bakar, dan kulit kering. Aromanya pun mampu mengurangi depresi, cemas, sulit tidur karena keharumannya menenangkan hati

Manfaat Dan Produk Dari Kayu Cendana Rating: 4.5 Diposkan Oleh: rosari J

0 komentar:

Posting Komentar