Mengatasi Serangan cendawan Verticillium dahliae Pada Tanaman Vanili | Adi Sucipto

Wednesday, May 15, 2019

Mengatasi Serangan cendawan Verticillium dahliae Pada Tanaman Vanili

Tamu tak diundang telah menghempaskan harapan Saidi, pekebun di Pinolosian, Bolaangmongondow, Sulawesi Utara. Sang tamu lalu menetap di penampang batang vanili. Dampaknya, batang cokelat kehitaman, keriput, dan mengering. Seluruh bagian daun juga menguning dan kering. Vanili berumur setahun itu layu sebelum berkembang. 

Harapan menuai laba pun musnah. Tamu tak diundang yang menyambangi kebun Saidi bernama Verticillium dahliae. Buktinya, saat tanaman yang masih hijau dibelah, penampang batang terlihat garis-garis hitam—ciri khas verticillium. Serangan fusarium akan memunculkan garis-garis berwarna cokelat.

Meski sosoknya amat kecil, dampak yang ditimbulkannya amat besar. Hampir separuh dari populasi tanaman di kebun milik Saidi mengering dan mati. “Yang masih tampak hijau hanya 2—3 daun di pucuk tanaman,” papar Prof Dr Bambang Hadisutrisno, ahli vanili dari UGM Yogyakarta, menceritakan hasil kunjungannya.

Seperti halnya fusarium, verticillium juga menyebabkan batang membusuk dan mengering. “Karena itu penyakit yang ditimbulkan juga disebut busuk batang,” papar doktor keluaran ENSA de Montpellier, Perancis, itu.

Serangan verticillium lebih ganas. Pada umur 1—2 tahun, batang membusuk akibat fusarium baru tampak pada 2—3 ruas di atas permukaan tanah. Pembusukan pun seringkah terpencar di beberapa bagian jaringan batang. Sedangkan serangan verticillium membuat hampir seluruh jaringan tanaman busuk dan mati pada umur di bawah 2 tahun.

Daerah kering



Bambang pertama kali menemukan vanili terserang verticillium di daerah Luwus, Bedugul, Bali, pada 1987. “Di sana saya mendapati beberapa tanaman sakit yang gejalanya berbeda dibanding akibat fusarium,” ujar gurubesar epidemiologi penyakit tanaman UGM. Gejala serupa ditemukan di beberapa sentra vanili di Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Wilayah penemuan kebanyakan di daerah dataran tinggi kering bersuhu 20—22°C dan kelembapan 60—70%.

Dari sederet temuan itu Bambang berpendapat, layu verticillium banyak menyerang vanili di wilayah Indonesia bagian Timur. Terutama di daerah-daerah pegunungan yang menjadi daerah bayangan hujan. “Di wilayah seperti itu biasanya kondisi iklim kering dan curah hujan rendah,” ungkapnya. Di sana fusarium memang hampir tak ada, tapi justru verticillium yang berkembang biak. Semakin rendah letak kebun, pengaruh verticillium semakin kuat.

Urai pektin

Verticillium dahliae merupakan cendawan imperfecti alias tidak mempunyai stadium sempurna. Ia memiliki konidiofor panjang, bercabang-cabang, dan sebagian cabang membentuk berkas seperti sapu. Konidium tidak berwarna, lonjong, bersel 1, menyebar, dan membentuk kelompok berlendir.
Rahasia dahsyatnya serangan lantaran ia menghasilkan enzim yang memutus rantai pektin pada jaringan tanaman dan mehibentuk enzim pektinase. Enzim itulah yang menyebabkan dinding-dinding sel vanili menjadi lunak dan terjadi pembusukan jaringan.

Penguraian pektin itu pula yang masuk ke dalam pembuluh batang dan menyumbat aliran air. Akibatnya, pertumbuhan tanaman terhambat. Tanaman menjadi kerdil, daun layu, menguning, dan mengeriput. “Selain enzim, ia juga menghasilkan senyawa toksik yang meracuni tanaman,” kata mantan dekan Fakultas Pertanian UGM itu. Kondisi itulah yang mempercepat tanaman menemui ajal.
Gejala serangan biasanya mulai terlihat pada 10—14 hari setelah infeksi. Ditandai dengan menguningnya daun-daun di bagian bawah batang. Tiga pekan berselang, pucuk-pucuk tanaman pun layu. Pada tingkat serangan berat hampir semua daun kuning dan kering mulai dari pangkal batang hingga pucuk.

Kurang dukungan

Walau menyeramkan, upaya menekan penyebaran verticillium belum optimal. “Banyak yang menganggap penyakit BBP (busuk batang panili) di Indonesia hanya disebabkan fusarium,” papar Bambang. Itu lantaran Indonesia dianggap memiliki iklim tropis basah. Akibatnya, berbagai penelitian untuk mengatasi masalah busuk batang pun hanya diarahkan pada fusarium.
Dr Mesakh Tombe, peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor mengaku belum pernah menemukan verticillium di pertanaman vanili di Indonesia. “Kami sudah berkeliling ke berbagai sentra di Indonesia Timur, tapi cendawan itu tidak ditemukan pada vanili,” paparnya.
Menurut Mesakh, selain fusarium, pada vanili juga ditemukan serangan Sclerotium rolfsii. Cendawan itu memunculkan miselium putih di bagian pangkal batang tanaman. “Ia kebanyakan hanya menyerang tanaman di persemaian,” ungkap peneliti penyakit tanaman itu.

Monitor kebun


Untuk mencegah serangan verticillium, kebun harus dipantau rutin. “Kalau memang ada serangan, metode penanggulangan seperti pada masalah fusarium dapat dipakai,” papar Mesakh. Sebab, verticillium, fusarium, dan sclerotium termasuk cendawan tular tanah yang dapat menimbulkan gejala sama.

Langkah pencegahan lain gunakan bibit tahan penyakit. Tanaman yang menunjukkan gejala sakit langsung dipotong dan dimusnahkan. Untuk menekan perkembangan cendawan, lingkungan akar dapat ditanami paku-pakuan atau diberi serasah daun cengkih. Berikan pula sabut kelapa di pangkal batang, terutama pada musim kemarau, untuk menjamin kelembapan di lingkungan perakaran.
Penggunaan biovaksin juga dibenarkan Mesakh Tombe. Menurutnya, kalau tak ada verticillium lemah, isolat Fusarium oxysporum nonpatogenik juga dapat dipakai. Sebab, “Penelitian di luar negeri membuktikan, isolat cendawan avirulen itu juga efektif mengatasi penyakit verticillium pada berbagai tanaman,” ujar Mesakh.

Mengatasi Serangan cendawan Verticillium dahliae Pada Tanaman Vanili Rating: 4.5 Diposkan Oleh: rosari J

0 comments:

Post a Comment