Kamis, 23 Mei 2019

Pelestarian Hutan Untuk Anak Cucu

Hutan alam Indonesia terus berkurang. Dalam rentang waktu 30 tahun, kita kehilangan lebih dari 40-juta ha hutan. Apa lagi yang dapat kita wariskan untuk generasi mendatang jika hutan kita tak lagi bersisa? 

Sebelum bencana datang melanda, sudah saatnya rehabilitasi hutan dilakukan.tak salah jika masyarakat dunia menganggap Indonesia sebagai paru-paru dunia. Wilayah hutan Indonesia yang mencapai 193-juta ha pada 1950 memang r menjadi salah satu yang terluas KUluLira di dunia. Bahkan, hutan tropis kita yang mencapai 150-juta ha merupakan hutan hujan terluas kedua setelah hutan hujan di kawasan Amazon. Hutan dengan luasan mencapai 10% dari total luas hutan hujan dunia itu jelas menyimpan kekayaan hayati yang sangat besar. Tak kurang dari 30.000 spesies tanaman dan 2.000 spesies binatang hidup di sana. Di antaranya 430 jenis burung dan 200 jenis hewan mamalia.

Menurut Asosiasi Panel Kayu Indonesia (APKINDO), hutan Indonesia menjadi habitat penting bagi 10% dari total spesies tanaman, 12% spesies mamalia, 16% reptil dan ampibi, serta 17% burung yang ada di muka bumi. Dengan keanekaragaman hayati yang dimiliki itu, kepulauan Nusantara pun telah menjadi laboratorium alam yang menarik bagi para ilmuwan di berbagai penjuru dunia.


Habis dibabat

Bagi Indonesia, hasil hutan pun menjadi salah satu sumber devisa yang dapat diandalkan. Sejak pemerintah memberikan hak pengusahaan dan pengelolaan kawasan hutan melalui sistem Hak Pengusahaan Hutan (HPH) kepada swasta pada 1967, perolehan devisa dari ekspor hasil hutan terus meningkat. Dari 6-juta US$ pada 1960 menjadi 56-juta US$ pada 1969, lalu meningkat menjadi 300-juta US$ pada 1988. Bahkan, sejak 1987 devisa dari ekspor hasil hutan telah menempati peringkat kedua perolehan devisa setelah minyak dan gas bumi.

Memang tidak dapat dipungkiri, hasil hutan memberikan peran penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Selain melalui perolehan devisa, industri kehutanan juga telah memberikan lapangan kerja bagi jutaan jiwa penduduk.

Sayangnya, sejak industri kayu hutan dibuka, telah berjuta-juta ha hutan yang dibabat. Bertambah tinggi harga kayu di luar negeri, pembabatan hutan pun makin cepat dilakukan. Akibatnya, luas hutan Indonesia terus merosot. Badan dunia FAO memperkirakan selama 15 tahun (1976— 1980) Indonesia kehilangan hutan seluas 550.000 ha/tahun. Bahkan, selang 30 tahun


sejak adanya kebijakan HPH, luas hutan tropis Indonesia terdegradasi seluas 40-juta ha. Saat ini diperkirakan luas hutan Indonesia tinggal 90-juta ha.

Jangan tunda rehabilitasi

 Berdasarkan laju penebangan kayu di hutan-hutan Indonesia selama ini, bukan tidak mungkin dalam 10—20 tahun mendatang, seluruh hutan di negeri ini yang sangat kita banggakan akan habis. Apa lagi yang dapat kita wariskan kepada anak cucu jika hutan kita habis tak berbekas? Mungkin hanya bencana demi bencana yang bakal dirasakan anak cucu kelak. Sudah waktunya, jauh sebelum bencana benar-benar terjadi, kita menata Kawasan tambang yang rusak dalam proses reklamasi
kembali hutan milik kita. Tidak ada jalan lain untuk melestarikan alam kita selain melakukan rehabilitasi kawasan hutan secara baik dan intensif.

Penggunaan bahan tanam berkualitas menjadi kunci rehabilitasi hutan secara intensif. Namun, ketersediaan bibit berkualitas dalam jumlah masai sering menjadi kendala. Hanya keunggulan bioteknologi yang mampu menjawab masalah itu. Melalui teknologi kultur jaringan, kebutuhan bibit berkualitas dalam jumlah masai dapat dipenuhi.

Bila keunggulan bioteknologi yang Anda butufiEan, PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk pilihan tepat. Dengan tenaga SDM berpengalaman serta didukung fasilitas lengkap dan modern, PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk siap membantu mewujudkan cita-cita mulia Anda untuk menciptakan hutan lestari demikian penuturan Yudistira Hayat salah satu konseptor andalan TEKNO.
Melalui konsep bioteknologi, PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk siap menangani reklamasi kawasan bekas tambang. Dengan bibit unggul berkualitas dan kemampuan bioteknologi, kerusakan kawasan tambang dapat diperbaiki. Saat ini PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk mengerjakan reklamasi kawasan bekas tambang di Batulicin, Kalimantan Selatan.

Selain reklamasi kawasan, TEKNO juga sedang melakukan perbanyakan jati muna secara kultur jaringan untuk rehabilitasi kawasan hutan jati di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Proyek-proyek besar itu hanyalah sebagian dari kegiatan yang sedang dilakukan para ahli berpengalaman yang dimiliki perusahaan

Pelestarian Hutan Untuk Anak Cucu Rating: 4.5 Diposkan Oleh: rosari J

0 komentar:

Posting Komentar