Raup Untung Melalui Produk Pertanian Organik Skala Kecil

Produk organik dicirikan oleh rasa renyah, manis, dan padat. Perlakuan tanpa pestisida dan bahan kimia sintetis dalam proses budidaya jaminan bagi para konsumen akan sayuran sehat. Itulah sebabnya kini ia makin diminati banyak kalangan.

Sayangnya produk organik masih identik dengan harga mahal. Penetapan harga mahal bukan semata mengejar keuntungan belaka.

Sebab para pelaku organik sampai saat ini belum bisa meningkatkan produksi. Di lain pihak serapan pasar produk organik belum terlalu tinggi. Apalagi biaya operasional, penyediaan sarana produksi pertanian, biaya tenaga keija, transportasi, dan biaya sortir yang tinggi membuat harga produk jauh melambung dibandingkan produk anorganik.
Produk Organik
Produk pertanian Organik

Harga Produk Organik Yang Cukup Mahal

Dalam pengusahaan produk organik sumber daya manusia perlu diselaraskan dengan konsep pertanian organik. Pemahaman pekebun tentang organik harus sevisi. Kenyataannya masih terdapat pola pikir, sayuran tanpa obat dan tanpa pupuk kimia itu identik tanpa perawatan. Dampaknya sayuran hancur.

Penanganan pascapanen terkadang sekenanya saja. Misalnya, mencabut dengan paksa, kemudian ditumpuk tak beraturan. Akibatnya, sayuran organik yang diproduksi selama 3 bulan, rusak hanya dalam waktu 0,5 jam saja. Sayuran menjadi patah-patah, rusak, bahkan hancur.

Biaya transportasi ikut melonjak karena lahan penanaman organik di pelosok dan jauh dari jalan raya. Sayuran juga mungkin mengalami kerusakan sebelum sampai di konsumen karena lamanya perjalanan. Sortir produk yang mencapai 30—50% untuk bisa masuk pasar swalayan juga menyebabkan naiknya harga. Hal itu diperburuk bila produksi menurun lantaran musim yang tak bersahabat.

Konsumen

Yang memprihatinkan bila masyarakat menengah ke atas—yang tidak bermasalah dengan harga—enggan jadi konsumen. Itu bisa jadi karena pemahaman tentang sayuran organik belum tersosialisasikan.Sosialisasi dapat diangkat melalui 3 isu, kesehatan, fair trade, dan lingkungan hidup.
Di Indonesia, kesadaran lingkungan masih sangat rendah.

Begitu juga kejujuran dalam perdagangan, sehingga isu yang dapat diangkat sementara ini adalah masalah kesehatan. Untuk itu upaya mengopinikan produk organik ke masayarakat harus senantiasa dilakukan. Caranya, dengan penyebaran brosur berisi Wardah Alkatiri manfaat organik, promosi produk, kajian-kajian khusus, dan publikasi di media massa.

Para produsen organik skala kecil kerap mejual dengan sistem door to door. Efektivitas sistem itu perlu dikaji ulang. Sebab pasar swalayan di Jakarta dan kota-kota besar merupakan wahana yang efektif untuk memperkenalkan produk organik. Ia dikunjungi ribuan orang sehingga merupakan pemilik pangsa pasar. Penataan produk organik di gerai pasar swalayan juga menjadi ajang promosi tak langsung.

Sayangnya pasar swalayan masih mengutamakan penampilan. Padahal produk organik tidak seluruhnya berpenampilan menarik. Hingga kini, pasar swalayan belum menurunkan batas toleransinya, sehingga merepotkan pekebun organik. Sebab, ketika disortir banyak yang terbuang. Solusinya dapat membuat gerai tersendiri.

Produk organik yang masih berkualitas baik tetapi tidak masuk standar pasar swalayan dapat ditampung. Antarpelaku organik, para penyedia benih, pupuk, dan pestisida organik perlu bersatu, bergandeng tangan untuk menggalakkan pertanian organik.

Sinergi

Keinginan untuk membentuk usaha kecil pertanian yang baik, profesional, dan good practise dalam pertanian organik menjadi cita-cita. Seluruh stakeholders perlu mendukung program ini. Negara agraris ini tidak memiliki kendala musim, biaya tenaga keija rendah, dan sumber daya alam memadai harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Lembaga Swadaya Masyarakat di bidang organik, seperti IOC {Indonesia Organic Centre). APOI (Asosiasi Produsen Organik Indonesia), dan pemerintah perlu berjalan sinergis. Wadah itu dapat menjembatani sosialisasi tentang organik dan kemurnian pelabelan yang masih merupakan hal baru di Indonesia.

Alangkah baiknya bila ada sertifikasi terhadap produk organik sehingga konsumen tidak tertipu. Saat ini mungkin saja ada produk yang proses budidayanya tidak organik, tapi dipasarkan sebagai produk organik. Sertifikasi itu dilakukan bertahap, mulai dari pemilihan benih, sterilisasi lahan, sumber air, perawatan hingga penanganan panen.

Kejujuran produsen juga amat menentukan untuk tidak sembarangan mencantumkan label organik pada produknya yang menggunakan pestisida dan pupuk kimia. Sayangnya lembaga yang berwenang belum terakreditasi dari lembaga internasional seperti IFOAM {International Federation of Organic Agriculture Movement).

Untuk menghindari penipuan terhadap konsumen, sebaiknya diterapkan pembelian langsung ke kebun, konsumen dapat memilih langsung dan berkomunikasi dengan pekebunnya seperti model tei kei di Jepang. Pekebun organik di Jerman, Jepang, dan Inggris sangat didukung oleh pemerintah. Itulah yang membuat pekebunnya berlomba-lomba untuk bertanam organik.

Pemerintah negara-negara itu amat ingin memberi makanan sehat dan lingkungan hidup yang teijag.; untuk warganya. Saatnya negara kita men\atukan langkah, untuk mendukung penaman organik. Tak pemah asa terhenti untuk berharap, suatu saat nanti produk organik bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Post a Comment

0 Comments