Tips Dan Kiat Menanam Vanili Di Ruang Sempit

Ruang terbuka seluas 10 m x 6 m di dak teratas gudang Harwanto di Temanggung sudah 4 bulan bersalin rupa. Semula di sana menghampar deretan para-para tempat menjemur vanili. Kini kehadirannya digantikan 500 pot terakota berdiameter 40 cm berisi 1—2 sulur vanili. Dua tahun mendatang Harwanto berharap menuai si emas hijau dari atap gudang sendiri.

Pemandangan serupa terlihat di salah satu sudut halaman Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) di Bogor. Polibag-polibag hitam berdiameter 40 cm berjejer rapi dengan jarak 80 cm x 80 cm. Vanili setinggi 1,5—2 m tumbuh subur merambat di pipa PVC berlapis ijuk. Dari sanalah Dr Mesakh Tombe, peneliti Balittro, memanen setek untuk bibit.

Cara ala Harwanto dan Mesakh Tombe itu layak ditiru mereka yang ngebet menanam vanili tapi tak punya lahan luas. Atau terlalu sibuk untuk mondar-mandir ke kebun di daerah sentra. Sepanjang di rumah masih ada ruang terbuka yang menganggur, vanili bisa ditanam.

Populasi padat Diruang Sempit

Mesakh Tombe menanam 160 polibag di luasan 80 m2. Bila ditanam langsung di tanah, paling hanya 42 batang. Populasi lebih padat lantaran menggunakan tiang rambat dari pipa PVC. Pada penanaman sistem konvensional, tiang berupa kayu hidup seperti gamal dan lamtoro. Supaya akar dan tajuk tanaman rambat tak saling bersinggungan, jarak tanam ideal 150 cm x 125 cm.

Populasi lebih banyak bila menggunakan model seperti Harwanto. Sejumlah 500 pot mengisi luasan sekitar 60 m2. Pot-pot terakota atau berbahan karet ban mobil disusun berdempetan di dua sisi. Duaratus limapuluh pot berderet di kanan, sisanya di kiri. Bagian tengah selebar 80 cm dikosongkan untuk lalu-lalang orang. Pot terakota berdiameter 30 cm diisi
1 sulur, diameter 40 cm,2  sulur. Wadah tanam berbahan karet ban berdiameter 50 cm mampu memuat 4 sulur.

Dengan ditanam di pot kesehatan tanaman lebih mudah diawasi. Bila ada tanaman sakit, tinggal angkat potnya supaya tidak menulari yang lain. “Lagipula karena ditaruh di dekat rumah, lebih aman dari penjarahan,” tutur Harwanto. Sudah menjadi rahasia umum, belakangan ini vanili jadi tanaman incaran si tangan jahil. Maklum harga vanili melonjak hingga Rp3-juta per kg polong kering.

Menggunakan Media Tanam Sabut kelapa

Vanili ditanam di dalam “greenhouse” sederhana. Bagian atap rumah tanam setinggi 2,5 m berupa shading net 35%. Artinya, intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam hanya 35%, sesuai dengan kebutuhan kerabat anggrek itu. Jaring penaung pun menjadi dinding “greenhouse” ala Harwanto.

Atap terlalu tinggi menyebabkan kelembapan berkurang karena sirkulasi udara lebih lancar. Padahal kelembapan yang dibutuhkan antara 80—90%. Seorang hobiis di Jakarta menggunakan ketinggian hingga 4 m. Dampaknya tanaman kerdil.

Media tanam berupa campuran tanah dan pupuk kandang terfermentasi. Perbandingan 2:1 atau 1:1. Media lain yang dapat dipilih cocopeat. Di atas media, Harwanto menumpukkan potongan sabut kelapa. Ia berfungsi menahan air sehingga kelembapan media teijaga. “Nantinya akar juga berpegangan pada sabut kelapa,” kata Sidik, adik Harwanto.

Sebelum penanaman, siapkan tiang rambatan. Mesakh Tombe memilih pipa PVC yang dicor dan dibenamkan sedalam 30 cm ke tanah. Polibag atau pot disandarkan di tiang itu.

Harwanto memanfaatkan kayu kopi mati yang ditancapkan ke media atau disangga kayu lain yang melintang di tengah-tengah pot. Sayang, lanjaran kayu rentan serangan hama cendawan. Tiang beton awet tapi harga lebih mahal; besi mudah berkarat. Tiang rambatan diselimuti ijuk supaya akar vanili nantinya gampang menempel di situ. Selain itu ijuk menahan air yang berguna buat akar.

Pembuatan Lubang kecil

Setelah media dan tiang rambatan siap, bibit ditanam. Bibit sehat berumur 3 minggu sudah layak pakai. “Dengan perawatan tepat vanili bisa berproduksi 10—20 tahun,” tutur Mesakh. Perawatan tidak rumit sehingga dapat dilakukan sebagai hobi.

Supaya kebutuhan hara tanaman terpenuhi, setiap 6 bulan dibenamkan 0,5 kg pupuk kandang terfermentasi. Harwanto menambahkan penggunaan rabuk kimia dengan menyemprotkan pupuk daun, misal Growmore atau Hyponex setiap 6—8 hari. Dosis masing-masing 4 dan 6 sendok teh yang dicampur dalam 15 liter air. Di antara waktu itu pestisida disemprotkan.

Vanili membutuhkan cukup air tapi tak suka genangan. Supaya air tak menggenang di polibag, buat lubang-lubang kecil di dasar dan sisinya. Pot terakota dan karet ban mobil pun harus memiliki lubang pembuangan. Bila ada genangan di lantai segera dibersihkan. Pada kemarau penyiraman cukup 2—3 hari sekali. Dosis 1 liter yang diguyurkan ke media dan lanjaran. Memasuki musim hujan penyiraman hanya bila dibutuhkan. Untuk alasan kepraktisan, boleh saja menggunakan dengan irigasi tetes. Tentu dibutuhkan biaya lebih mahal.

Pemangkasan Dan Perawatan Yang Rutin

Perawatan yang tidak kalah penting ialah pemangkasan. Pemotongan sulur dilakukan saat anggota famili Orchidaceae itu akan berbunga. Kira-kira tanaman berumur 2 tahun. Gunakan alat steril agar luka tidak menyebabkan infeksi.

Pemangkasan juga dilakukan pada sulur yang sudah menghasilkan buah karena tidak akan berproduksi lagi,” kata Mesakh. Lalu sulur dari atas ditarik dan dimasukkan ke dalam media. Dengan cara itu, sulur produktif tersedia terus-menerus. Selain itu sosok tanaman tetap ramping.

Nah, Anda yang memiliki halaman cukup luas di rumah silakan tiru cara mereka. Sambil iseng-iseng berkebun, tak terasa tahun bergulir. Tahu-tahu emas hijau siap dipanen.

Post a Comment

0 Comments