Selasa, 18 Juni 2019

Berburu Durian Super Di Tanah Minang

Sumatera Barat terbukti gudang durian nan lamok bana.

Matahari hampir tepat di atas ubun-ubun ketika mobil yang ditumpangi rombongan Adisucipto dan manajemen Warso Farm melaju kencang meninggalkan Bandara Internasional Minangkabau, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat, menuju ke bagian selatan. Perjalanan kali ini untuk menelusuri durian Lezat di ranah Minang. Setiap Juni, di berapa daerah di Provinsi Sumatera Barat memang tengah musim durian.

Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam dari bandara, Kami memasuki kawasan Desa Bawan. Kecamatan Ampek, Kabupaten Agam. Tanda-tanda desa itu sebagai “sarang” durian segera saja tersaji di depan mata. Di kanan dan kiri jalan tampak deretan lapak penjual buah Durio zibethinus. Aroma khas durian yang menyengat langsung tercium, bahkan dari dalam mobil yang tertutup rapat karena pendingin udara menyala. ( Baca : Durian Dugol Varietas Durian Unggulan Dari Kota Blitar )

“Ayo kita berhenti dulu, aromanya membuat penasaran,” ujar Uyung Buana / Jayanto, penanggung jawab kebun Warso Farm di Bogor, Jawa Barat.

Warso farm adalah kebun durian dan aneka buah milik seorang pekebun senior, Suwarso Pawaka. Sang sopir pun menghentikan mobil di depan sebuah lapak beratap daun kelapa berlapis terpal biru. Di lapak itu Desa Mayanti, sang pemilik, memajang belasan durian sebesar bola sepak hingga membentuk piramida.

Durian
Durian bawan beraroma menyengat

Setengah abad


Des Mayanti bergegas memilih dan menyodorkan durian berkulit cokelat keemasan sebesar bola sepak. Begitu dibuka, tampak pongge-pongge durian berwarna putih kekuningan. Pada satu juring rata-rata terdapat 3-5 pongge. Kami mengambil sebuah pongge. Di mulut daging buah pun terasa lumer karena teksturnya sedikit basah, tapi terasa pulen saat ditelan. Rasanya manis sedikit pahit, cocok untuk pemula penggemar durian.

Durian itu tanpa nama. Menurut Des Mayanti, itu adalah durian jatuhan dari pohon induk berumur lebih dari 50 tahun. “Dalam setahun, pohon itu bisa menghasilkan 200-an buah,” kata penjual durian sejak 1987 itu. la menjual Rpl5.000 untuk durian berbobot kurang dari 1,5 kg dan Rp20.000 jika lebih dari 1,5 kg. Durian itu mulai panen pada Mei dan berakhir pada Agustus.

Perjalanan berlanjut menuju Kelurahan Kotokaciak, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam. Di sana rombongan menemui Afrizal yang sohor sebagai penjual durian jatuhan. Afrizal menyodorkan durian berwarna kulit buah hijau. “Durian ini lamok bono (dalam bahasa Minang artinya enak sekali, red)," kata Afrizal.

Begitu dibuka tampak daging buah berwarna kuning pekat. Itulah sebabnya Afrizal menamai durian itu kunyit bawan. Sebutan itu karena durian berdaging kuning dan berasal dari Desa Bawan. Saat dicecap rasanya dominan manis, pulen, dan tekstur daging buah kering sehingga agak sulit saat ditelan, “inilah asyiknya berburu durian. Rasanya masih misteri sampai kita membukanya,” kata Uyung.
Durian
Uyung Buana Jayanto (paling kanan) dan Junaedi (bertopi) tawar-menawar harga dengan penjual durian

Larangan Memetik Durian Sendiri



Usai puas menikmati durian di lapak Afrizal, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju Bukittinggi. Saat melewati Danau Maninjau di Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam, di sisi kanan jalan raya tampak pemandangan deretan pohon durian yang tinggi menjulang.

Di sela-sela tajuk tampak buah seukuran dua kepalan tangan bergelayutan. “Di daerah ini baru panen saat Lebaran nanti,” ujar Junaedi, warga asal Pandaisikek, Bukittinggi, Sumatera Barat, yang menjadi pemandu. Menurutnya durian danau maninjau tergolong sohor di Tanah Minang.

Itu lantaran semua durian di sana adalah jatuhan. "Di sini kalau ada yang memetik durian lalu menjualnya, bisa terkena sanksi adat,” ujar Junaedi. Hukumannya si pelanggar wajib menebang pohon duriannya dan menyumbang 25 sak semen ke masjid. “Sanksi itu untuk menjaga nama baik durian asal Danau Maninjau," kata Junaedi. Di sentra lain seperti di Kampung Kato, ada keyakinan jika memetik durian, maka tahun selanjutnya pohon itu tidak akan berbuah.

Menurut peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Panca Jarot Santoso, adat itu sangat bermanfaat untuk menjaga kualitas dan produktivitas durian. Keyakinan durian yang dipetik tidak akan berbuah musim berikutnya juga dapat dijelaskan secara ilmiah.

Menurutnya kebanyakan pekebun durian bukan memetik, melainkan menarik buah durian hingga kulit batang pohon di pangkal tangkai buah terkelupas. “Jika sampai terkelupas, maka jaringan meristem yang merupakan titik tumbuh bunga rusak. Akibatnya, pada musim berikutnya titik tumbuh itu tidak berbunga, apalagi berbuah," ujarnya.

Panca Jarot menuturkan durian di Kabupaten Agam dan sekitarnya dari segi kualitas hampir sama dengan durian Medan yang selama ini lebih terkenal. Pada 2009, ia pernah mencicipi durian lokal unggul di Kecamatan Kamang, Kabupaten Agam.

Masyarakat menamainya durian lenggang kamang. Rasanya manis, agak pahit legit dan pulen. “Rasanya hampir sama dengan durian asal Medan. Hanya saja masih kalah dari segi produktivitas,” tutur pakar durian yang aktif di komunitas Maniak Durian itu.

Durian
Pohon durian bawan berumur 40 tahun lebih

Durian Medan

Pamor durian Sumatera Barat memang kurang sohor di banding durian dari Medan. Menurut Jarot salah satu faktornya karena jarak yang berdekatan dengan Medan. “Medan memasok durian sekitar 15% di Indonesia, sehingga masyarakat lebih kenal durian dari Medan," kata Jarot Durian di Sumatera Barat banyak yang tergolong unggul, tapi jarang terekspos.

Itulah sebabnya Sumatera Barat menjadi salah satu daerah pilihan Warso Farm untuk memasok kebutuhan durian ketika di kebun di kawasan Bogor. Jawa Barat sedang tidak musim berbuah. Menurut Uyung. Warso Farm mendatangkan setidaknya 150 durian per hari dari Sumatera Barat “Durian Sumatera Barat berkualitas tetapi sedikit yang tahu,” kata Uyung. Menurut Panca Jarot musim durian di Sumatera Barat akan berakhir sekitar September-Oktober. Ingin mencicip durian nan lamak bana? Silakan berkunjung ke Ranah Minang.

Berburu Durian Super Di Tanah Minang Rating: 4.5 Diposkan Oleh: rosari J

0 komentar:

Posting Komentar