Kamis, 27 Juni 2019

Budidaya Kangkung Mengggunakaan Sistem hidroponik Talang bertingkat

Kangkung siap panen tampak segar menghampar di atas talang bertingkat. Ipomoea reptans itu tumbuh di atas styrofoam 80 cm x 90 cm yang menutup talang. Sebuah styrofoam terdiri atas 48 lubang tanam. Di greenhouse mini ukuran 2,8 mx26 m  terdapat 66 styrofoam. Dari sebuah styrofoam, dituai 2,8 —3,5 kg kangkung segar dalam tempo 21 hari.

Pengelola greenhouse itu adalah PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya Agrowisata sejak 2000. Ketimbang sulit mengingat, sebut saja Kusuma Agrowisata. Lokasinya di lereng Gunung Panderman. Kotamadya Batu, Jawa Timur. Perusahaan yang didinkan Ir Edy Antoro itu mengelola 7 greenhouse serupa. Selain itu terdapat 2 greenhouse berukuran masing-masing 5,6 m x 26 m. Total jenderal ada 9 greenhouse yang diperuntukkan bagi budidaya sayuran daun.



Selain kangkung, 6 sayuran daun lain yang ditanam adalah bayam hijau, bayam merah, sawi daging, sawi hijau, dan sawi putih. Semua ditanam dengan jarak padat di talang bertingkat. Begini duduk perkaranya disebut padat. Luas sebuah styrofoam hanya 7.200 cm2 (diperoleh dari 80 cm x 90 cm) atau setara 0,7 m2. Jika sebuah styrofoam mempunyai 48 lubang tanam, artinya “kavling” rata-rata per tanaman hanya 140 cm2.

Bandingkan dengan pekebun hidroponik lain yang menerapkan rata-rata per “kavling” 225 - 300 cm2. Pekebun hidroponik yang menerapkan sistem jarak longgar rata-rata memetik 2 kg kangkung per m2. Meski jarak tanam padat, tetapi sosok tanaman di Batu amat prima. Kangkung tumbuh tegak, tampak kokoh, dan daun hijau segar. Di greenhouse lain, sawi dan bayam pun terlihat sehat.

Tukar tempat

Primanya penampilan sayuran, “Karena fotosintesis dan respirasi balance positif,” tutur Yos Sutiyoso. Maksudnya, proses foto sintesis berlangsung maksimal (biasanya dicapai pada suhu 25°C, tetapi respirasi tertahan lantaran rendahnya suhu. Selain prima, pertumbuhan tanaman pun cepat. Puncak respirasi terjadi pada suhu 25°C. Temperatur di Batu—lokasi greenhouse Kusuma Agrowisata—jelas sangat kondusif bagi perkembangan tanaman. Suhu pada siang hari di Batu yang berketinggian 1.100 m dpi 20—25°C; malam 16—18°C.

Sistem hidroponik talang bertingkat sebetulnya bukan model baru. Dua tahun silam, beberapa pekebun pernah mengadopsinya. Contoh, Ismet Hakim di Sukabumi dan PT Pangan Lestari di Pasuruan. Talang bertingkat diterapkan semata-mata untuk efisiensi lahan. Dengan talang bertingkat lonjakan produktivitas sekitar 40%. Keduanya menerapkan hidroponik Nutrient Film Technique (NFT).

Di balik kelebihan itu, menurut Ir Yos Sutiyoso, pengamat hidroponik, sistem talang bertingkat amat riskan. Musababnya, teknologi itu berisiko menghambat pencahayaan. “Apalagi yang ditanam kangkung. Kebutuhannya sinar matahari amat tinggi. Kalau cahaya kurang, bisa-bisa (kangkung, red) etiolasi,” ujar alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Kusuma Agrowisata bukan tak menyadari ancaman risiko itu. Oleh karena itu saat tanaman berumur 7 hari dan 14 hari, styrofoam di talang atas dan bawah dipertukarkan.


8 jam

Agak merepotkan memang menukarkan puluhan styrofoam. Namun, demi mutu akhirnya cara itu tetap ditempuh. Kusuma Agrowisata mengadopsi teknologi DFT alias Deep Flow Technique. Bedanya adalah kedalaman aliran nutrisi di talang DFT mencapai 8 cm; NFT, 3—4 mm. Menurut Yos Sutiyoso sistem DFT berisiko terjadi deoksigenisasi. Artinya, tanaman kekurangan oksigen akibat aliran air menghambat oksigen terlarut.

Lagi-lagi lokasi greenhouse di Batu diuntungkan oleh rendahnya temperatur. Menurut Yos semakin rendah suhu, oksigen terlarut dalam air kian tinggi. Pada suhu 25°C, misalnya, oksigen terlarut di permukaan air sekitar 10 ppm. Ketika suhu turun menjadi 20°C oksigen terlarut sekitar 12 ppm; 15°C, 13 ppm. Semakin ke bawah dari permukaan air, oksigen terlarut pun kian kecil.

Menurut Manajer Operasional Ir Teguh Suprijanto, nutrisi diberikan hanya 8—10 jam per hari. Pompa nutrisi diaktifkan pukul 08.00—17.00. Meski belum dihitung akurat, operasional pompa yang terbatas mampu menghemat biaya produksi. Di farm hidroponik lain, nutrisi didistribusikan 12 jam, bahkan 24 jam nonstop.

Talang Tripleks

Talang yang digunakan Kusuma Agrowisata bikinan sendiri dari tipleks 10 mm. Lebar 80 cm, tinggi 10 cm, panjang 26 cm. Seluruh permukaan tripleks dilumuri serat fiber sehingga diperkirakan tahan hingga 5 tahun. Jarak talang bawah dari permukaan tanah 25 cm. Sedangkan jarak antartalang 75 cm. Supaya kokoh, setiap interval 1 m dipasang tiang besi sebagai penyangga.

Kedua talang dihubungkan pipa PVC sebagai jalan untuk mendistribusikan nutrisi dari talang atas ke bawah. Styrofoam kemudian menutupi talang. Di atas gabus itulah beragam sayuran daun ditanam. Khusus kangkung dibudidayakan tersendiri di beberapa greenhouse. “Kangkung itu perlu banyak nutrisi sehingga kalau dicampur dengan tanaman jenis lain akan mempengaruhi pertumbuhan,” kata Drs Soemanto dari Kusuma Agrowisata.

Selain itu permintaan kangkung paling tinggi ketimbang sayuran lain. Saat ini Kusuma Agro baru dapat melayani 120 kg kangkung, komoditas lain, 50 kg per pekan. “Ada rencana menambah sebuah greenhouse khusus kangkung karena permintaan terus bertambah dan belum terpenuhi,” ujar Teguh. Kusuma Agrowisata menjual sayuran hidroponik Rp 10.000—Rp 12.000 per kg. Menurut Soemanto, biaya produksinya relatif kecil.

Budidaya Kangkung Mengggunakaan Sistem hidroponik Talang bertingkat Rating: 4.5 Diposkan Oleh: rosari J

0 komentar:

Posting Komentar