Home / Tak Berkategori / Budidaya Lobster Di Lahan Sempit Dengan Botol Air Mineral Bekas

Budidaya Lobster Di Lahan Sempit Dengan Botol Air Mineral Bekas

“Ya ampun… kok bisa ya?” ujar para peserta pertemuan rutin Hipelobsi (Himpunan Peternak Lobster Air Tawar Seluruh Indonesia). Mereka terpana ketika Gurhadi mengeluarkan serangkaian botol plastik minuman terpaku pada sebilah kayu tipis. Setiap botol dihuni seekor lobster berukuran 2—6 cm. Mereka bagai memiliki kamar pribadi.

Wajar bila mereka terheran-heran. Lobster air tawar umumnya dibesarkan di akuarium atau bak semen. Namun tidak di tempat Gurhadi mereka di masukan ke botol plastik kemasan air minum. Itu hasil eksperimen Aguy—sapaan    akrab Gurhadi—sejak 2 tahun silam. Ia menyebutnya EDU (extreme density unit) yang diadopsi dari sistem beternak lobster di Australia.

Ada 2 jenis lobster dicoba Aguy yaitu, Cherax quadricarinatus dan C. destructor. “C. destructor cocok diternak dengan sistem itu. Ia tidak beradu capit dengan sesamanya,” ujarnya. Jenis itu memang dikenal dengan capit yang ekstra besar.

Budidaya Lobster

Populasi tinggi

Keuntungan sistem EDU, populasi dalam luasan tertentu bertambah. Bak berukuran 2 m x 1 m menampung 2.000; cara konvensional 500 ekor. Rangkaian EDU ditempatkan secara vertikal di bak pembesaran. Setiap rangkaian terdiri dari 20 botol. Jadi, di bak itu terdapat 100 rangkaian. Aguy memasukkan lobster berukuran 2—3 cm ke botol itu. “Kalau terlalu kecil khawatir terpencet saat memindahkan ke botol,” ungkapnya. Setiap botol berisi seekor lobster.Lobster di botol perlu waktu 1,5—2 bulan hingga siap panen. Artinya sama dengan yang dipelihara di akuarium. Saat itu ukurannya mencapai 7 cm. EDU memungkinkan peternak memanen lobster dengan ukuran seragam.

Pemeliharaan di bak atau akuarium menyebabkan ukuran lobster beragam karena saling berebut pakan. Berbeda jika dipelihara soliter, pakan langsung dimasukkan ke
botol. Dengan begitu lobster tenang menyantap pakan, sehingga tumbuh normal. EDU juga menekan tingkat perkelahian antarlobster yang menyebabkan kematian. “Paling banter yang mati 1—2 ekor dari 500 ekor. Sebelumnya ketika dipelihara di bak mencapai 10%,” papar pria lulusan Oklahoma City University itu.
Murah

Membuat rangkaian EDU relatif mudah dan murah. Peternak hanya membutuhkan botol air kemasan bekas 330 ml, bilahan papan, dan paku stainless.Botol-botol itu dirangkai menjadi satu pada bilah kayu dengan menggunakan paku. Biaya membuat satu rangkaian Rp20.000. Botol dapat dipakai untuk 3 periode.

Meski terlihat sederhana, bukan berarti tanpa kendala. Pada awal percobaan Aguy menemui kegagalan. Sebanyak 100 dari 180 lobster yang dibesarkan tidak bisa moulting alias ganti kulit dan akhirnya meregang nyawa. “Air kotor biang keladinya,” kata Aguy. Makanya, peternak sejak 2002 itu kini menggunakan filter dan melubangi botol agar sirkulasi lancar. Pengurasan bak juga diperlukan untuk menjaga kualitas air, minimal sebulan sekali.

Kendala lain, saat pemberian pakan. Botol plastik dicopot satu per satu. “Ini butuh waktu lama, minimal 2—3 jam untuk memberi pakan 2.000 lobster,” tuturnya. Namun, Aguy dapat mengatasinya dengan cara melubangi botol. Pakan dimasukkan ke lubang itu. Pakan berupa campuran pelet ikan dan pelet udang dengan komposisi 1:1. Sesekali tambahkan irisan wortel untuk ekstra fooding.

About adi

error: Content is protected !!