Kisah Sukses Budidaya Pertanian Sayuran Organik

Kabocha, kyuri, horenso, nasubi, dan sayuran jepang lain baru saja ditata di rak pasar swalayan Papaya, Kebayoran baru, Jakarta Selatan. Sayuran jepang itu bagai magnet yang menyedot pengunjung. Calon pembeli—sebagian besar ekspatriat Jepang—melingkari gerai untuk memilihnya. Dalam waktu singkat sayuran itu berpindah ke troli konsumen. Yang dijajakan memang bukan sayuran jepang biasa, tetapi organik. Pantas!

Pasar swalayan Papaya juga menyediakan sayuran jepang nonorganik yang harganya separuh lebih murah. Namun, daya jual organik jauh lebih tinggi. “Permintaan sayuran jepang organik cukup tinggi. Kami kesulitan untuk mendapat pasokan,” kata Suharyono, penyedia buah dan sayuran Papaya. Dalam sepekan pasar swalayan 3 kali dipasok beragam sayuran jepang organik. Frekuensi dan volume pasokan sejatinya ingin ditingkatkan. Sayang, saat ini baru ada satu pemasok.

Satu-satunya pemasok sayuran jepang organik adalah RR Organic Farm. Pasangan suami istri, Effendi Rustam— Reiko, sejak 2001 membuka lahan 2,8 ha di Galudra, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di lahan berketinggian 1.200 m dpi yang bisa dicapai 2,5 jam bermobil dari Jakarta, mereka membudidayakan 23 jenis sayuran jepang organik.

Beberapa di antaranya adalah horenso alias bayam jepang, kokabu (lobak bundar), komatsuna (sawi hijau), kabocha (labu), nasubi (terung), kyuri (mentimun), dan piman (paprika mungil). Benih diimpor dari Jepang atau dibeli di negeri matahari terbit kala Reiko mengunjungi kampung
halamannya di Kyoto.

Gempuran hama

Di kaki Gunung Gede Pangrango itu Rustam membangun puluhan rumah tanam. Kerangka greenhouse dari bambu, kayu, maupun besi. Ukuran greenhouse beragam: 15 m x 45 m, 10 m x 12 m, dan 14 m x 40 m. Di dalamnya tertata bedengan-bedengan yang rapi. Lebar bedengan 1—1,2 m, panjang disesuaikan dengan ukuran greenhouse. Jarak antarbedengan 30 cm. Setiap bedeng hanya ditanami satu jenis sayuran. Metodenya tidak mencampur sayuran daun, sayuran, buah dan umbi-umbian dalam satu greenhouse.

Sebelum membangun greenhouse, Rustam menanam sayuran di lahan terbuka. Sayang, serangan hama bertubi-tubi. Bayangkan, populasi 50 kol di sebuah bedeng luluh lantak. Pengalaman itu mendorong Rustam membangun rumah tanam sebagai solusi. Pada akhir 2001 greenhouse mulai dibangun, kini hampir keseluruhan sayuran diproduksi di dalamnya.

Sekarang kakek 3 cucu itu mengatasi gempuran hama dengan lampu perangkap. Sebuah bohlam 10—25 watt dinyalakan malam hari. Di bawah lampu ditaruh baskom berisi air. Ngengat dan serangga lain bakal merubung lampu dan jatuh di atas baskom. Meski demikian pestisida nabati turut disemprotkan.

Bawang putih, daun nimba, daun sirsak digunakan sebagai bahan bakunya. Penyemprotan dilakukan 3 kali seminggu. Pupuk organik yang digunakan berupa kotoran hewan dari pekebun setempat dan kompos hasil limbah rumah tangga yang diolah sendiri.

Dengan cara itu sayuran jepang yang dihasilkan tampak lebih mulus. Citra sayuran organik yang berlubang dapat dikurangi. Pengiriman dilakukan 3 kali seminggu dengan volume masing-masing 100—250 kg, terdiri dari berbagai jenis sayuran. Harga berkisar Rp20.000— Rp60.000/kg tergantung jenis. Misal untuk tomat apel mencapai Rp25.000/kg. Sayuran produksi RR Organic Farm memang relatif mahal, tetapi tetap diburu pelanggan.

Selain ke pasar swalayan perusahaan keluarga itu juga memasarkan sayurannya kepada tetangga rumah di Vila Cinere Mas, Tangerang, Banten. Permintaan kian mengalir, padahal informasi hanya tersebar dari mulut ke mulut. “Ada permintaan ekspor, tetapi barang tidak ada,” ujar Ferdinand, anak kedua pasangan Rustam dan Reiko.

Seleksi Ketat

Rustam amat ketat mengurusi kebunnya. Pemilihan benih, penggunaan pupuk, dan pestisida harus dikontrol secara berkesinambungan. Untuk mengawali penanaman ia mengistirahatkan tanahnya selama 2—3 tahun hingga kandungan tanah benar-benar bebas residu. Setelah panen pria berkacamata itu melakukan sanitasi selama 1 bulan untuk bisa ditanami kembali. Pupuk organik cair yang dijual di pasaran pantang digunakan. “Khawatir dicampur dengan pupuk anorganik,” ujar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Namun, Sarjana Teknik dari Kyoto Technical University itu mengakui, berkebun organik bukan pekerjaan mudah. Akibat produksi yang sedikit menyebabkan penjualan jauh di bawah biaya operasional. “Hingga kini kami tak pernah untung, tetapi kami sekeluarga bertekad untuk terus menyodorkan produk organik yang sehat. Bukan sekadar mencari keuntungan belaka,” kata ayah 3 anak.

Ia juga mengingatkan para pelaku organik untuk jujur dalam memberikan label produk. Jangan sampai produk yang masih menggunakan bahan kimia dilabeli organik hanya untuk mendapat keuntungan. Kepeduliannya yang tinggi akan kesehatan membuatnya terus bertahan menggeluti sayuran organik.
Sayur diproduksi di rumah tanam
Zurich

Effendi Rustam tertarik sayur jepang organik saat diundang makan siang di Zurich, Swiss, pada 1996. Di sana mereka merasakan sayuran hasil petik sendiri yang berbeda rasanya. “Kok sayurannya manis, gurih, dan lezat, tidak seperti di Indonesia?” ujar sang istri, Reiko. Keinginan mendalam untuk menikmati sayuran serupa begitu membuncah. Tiba di tanah air mereka menanam sayuran jepang di halaman rumah.

Penanaman pertama menghasilkan sayuran berkualitas. Sayang, sukses tak terulang pada penanaman kedua. Saat itu tanaman terserang hama hingga rusak. Rustam kaget, tetapi tidak langsung patah arang. Sebaliknya, ia termotivasi untuk terus belajar dan mencari cara memproduksi sayuran yang lebih baik lagi.

Post a Comment

0 Comments