Home / Tak Berkategori / Kisah Sukses Para Pebisnis Ikan Koi Lokal

Kisah Sukses Para Pebisnis Ikan Koi Lokal

Dentangan jam dinding sebanyak 6 kali membangunkan Danny Adrianto dari lelap tidur. Bergegas ia menuju kolam mungil di samping rumah. Kedua bola mata bos karoseri Kijang itu tak puas-puasnya menatap ke arah kolam. 

Di sana puluhan kohaku, showa, dan tancho—semua produksi lokal—berukuran 40 — 60 cm meliuk menebar pesona. Sembari mengamati satu per satu koi kesayangan, sesekali tangannya menebar pelet.

Liukan koi lokal nan mempesona sudah dinikmati Danny sejak 2,5 tahun lalu. Ikan-ikan kesayangannya itu dipelihara sejak ukuran 15—20 cm. “Ada kenikmatan tersendiri melihat perkembangan ikan. Apalagi jika ikan jadi bagus,” ujar Danny. Kini koleksinya di kolam mungil berukuran 2,5 m x 2,5 m x 1,2 m itu mencapai lebih dari 30 ekor. Ia membeli kerabat ikan mas itu seharga Rp 1-juta—Rp2,5-juta per ekor. Jenis koi Gosanke mendominasi.

koi Gosanke

Berbeda dengan hobiis lain yang memilih koi impor, Danny justru menggandrungi koi lokal. “Dulu saya pelihara koi impor. Sekarang kualitas koi lokal sudah sama dengan impor,” ungkapnya. Meskipun begitu saat mulai mengoleksi koi lokal, Danny sempat dicemooh rekan-rekannya. Sebab selama ini koi lokal identik dengan kualitas rendah dan murah.

Istri kedua

Meski dicibir, pria 53 tahun itu bergeming. “Tidak. Koi lokal juga bagus-bagus. Apalagi jika perawatannya benar. Warna cerah dan bisa mencapai ukuran jumbo,” ujar Danny. Memang untuk
mendapatkan koi lokal berkualitas perlu kejelian saat memilih. Buktinya kohaku koleksinya berukuran 60 cm dan berpola seimbang. Warna merah serta putih tampak cemerlang.

Untuk memperoleh koi lokal bermutu relatif sulit.Hasil survei Danny ke pusat-pusat ikan hias di pelosok Jakarta hanya beberapa kios yang menyediakan koi lokal berkualitas. “Kebanyakan yang dijajakan koi lokal kelas C,” ujar ayah 4 anak itu. Makanya meski kurang srek kadang-kadang Danny tetap membeli beberapa ikan yang kisaran harganya Rpl50-ribu—Rp200-ribu per ekor berukuran 20 cm.

Danny baru bisa menemukan koi lokal berkualitas setelah berkenalan dengan Soegianto, pemilik Fei Koi Centre. “Di sana koi lokal bagus-bagus,” ucap Danny, tanpa bermaksud mempromosikan langganannya itu. Sejak itu satu per satu koleksinya bertambah. Setiap Sabtu dan Ahad Danny rutin menyambangi kolam milik Soegi sapaan Soegianto di Cakung, Jakarta Timur,walau sekadar untuk melihat.

Andai menemukan koi bagus, tanpa pikir panjang ikan itu langsung diboyong. Kegiatan berburu koi lokal dilakukan Danny di sela-sela kesibukannya di kantor. “Kadang ada yang menawarkan koi lewat pesan singkat di telepon genggam.

Jika bagus saya langsung meluncur ke sasaran agar tidak didahului hobiis lain. Maklum penggemar koi lokal di Jakarta juga banyak,” papar penggemar bulutangkis itu. Berburu koi ke Blitar, Jawa Timur, pun dilakoni Danny, minimal 2 bulan sekali.

Untuk perawatan koleksinya Danny tak sembarang menyerahkan ke pegawainya. Ukuran kolam yang sangat kecil dan filterisasi sederhana memaksa pergantian air sering dilakukan. Sehari 2 kali air diganti sebanyak 10%. Untuk menjaga kebersihan dasar kolam, Danny tak sungkan masuk ke kolam. Koi-koi itu tak ubahnya istri kedua bagi jma penggemar bonsai itu.

Kecintaan Danny pada koi sebenarnya sudah berlangsung 10 tahun silam. Koi-koi impor yang dulu dipilih mencapai 100 ekor yang dibeli Rp 1 -juta—Rp7-juta/ekor. Sayang wabah herpes yang merebak memusnahkan seluruh koleksinya. “Sejak itu saya trauma memelihara koi. Kolam pun dibiarkan kosong selama 3 bulan,” keluhnya. Ketertarikan pada koi lokal dimulai saat melihat kohaku tangkaran Blitar di sebuah ruang pamer.

Prospek Bisnis Ikan Koi Lokal

Yang juga gandrung koi lokal adalah Effendi Gomaidy. Ia tak segan-segan membangun kolam di dalam rumahnya nan megah di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur. Kolam berukuran 23 m x 5 m x 1,5 m itu diisi 40 koi lokal berukuran jumbo. Satu di antaranya shiro utsuri berukuran 65 cm yang pernah menjadi juara ke-4 di ZNA Koi Show 2003, Jakarta.

Delapan tahun silam pengusaha pakaian anak itu hanya mengoleksi koi-koi impor. Jumlah koleksinya saat itu lebih dari 100 ekor, masing-masing berharga Rp 1-juta—Rp5-juta. Sayang ikan kebanggaannya itu ludes akibat serangan virus herpes pada 2000. Alumnus Universitas Trisakti itupun memutuskan berhenti memelihara koi. Kolam pun dibongkar.

Lewat rekannya sesama kolektor koi, Effendi dikenalkan dengan koi lokal. Melihat pattern keluar dan bentuk tubuh bagus ia pun tertarik memelihara seekor. Koi lokal pertama yang dikoleksi jenis kohaku. Ikan berukuran 20 cm itu dibeli dari salah satu toko ikan hias di Jakarta Pusat. Celakanya mutu kurang bagus.15 cm. “Jika membeli koi impor paling banter cuma dapat kelas C,” ujar Efendi. Setelah dirawat sebulan ikan itu membesar dan corak makin ngejreng. Effendi pun ketagihan mengumpulkan koi-koi lokal.

Koleksi koi-koi lokal Effendi kerap ditawar sesama hobiis. Asal bukan ikan kesayangan, Effendi rela melepas. Itu yang menginspirasi pria kelahiran Jakarta 30 tahun silam itu untuk mengembangkan koi lokal. Kini ia giat mengumpulkan koi lokal untuk dijadikan indukan. Effendi optimis pamor koi lokal bisa terangkat seperti impor.

Karena penasaran ingin memelihara koi lokal berkualitas, bungsu 2 bersaudara itu kemudian menelusuri toko-toko ikan di seluruh Jakarta. Akhirnya dari rekannya ia memperoleh koi lokal bermutu. Ikan itu ditebus dengan harga Rp 1-juta ukuran

About adi

error: Content is protected !!