Manfaat Burung Merpati , Sebagai Alat Pembantu Manusia Dan Komoditi Bisnis

Burung merpati Columba livia sangat penting bagi setiap mahasiswa yang mengalami perploncoan pada awal 1970-an. Dengan susah payah saya mendapatkan yang betul-betul putih untuk dilepaskan di halaman kampus Universitas Indonesia. Mahasiswa baru Fakultas Sastra memang diharuskan membawa merpati putih. Mahasiswa Fakultas Hukum membawa yang merah atau gambir. Sedangkan Fakultas Teknik biru atau kelabu. Lainnya bebas. Boleh blorok, blirik, atau belang-belang. Harapannya, dalam satu atau dua generasi mendatang, taman-taman di Jakarta penuh merpati seperti lazimnya taman-taman kota di negeri maju.
Columba livia
Burung Merpati Karang
Setelah 30 tahun berlalu, burung merpati tak kunjung memenuhi taman-taman kota di Indonesia. Padahal ribuan teman mereka berhamburan di Central Park, New York; Trafalgar Square, London; maupun Dam Square, dekat stasiun sentral Amsterdam.

Meskipun begitu, berbagai jenis merpati hias, merpati balap, merpati tinggi, merpati pos, dan merpati goreng, dapat dilihat dan dinikmati di desa dan kota Indonesia. Di Yogyakarta, saya mengenal pengusaha restoran burung dara goreng yang paling sedikit menyajikan 200 ekor dalam seminggu, atau 30 porsi setiap malam.

Belum lagi penyalur daging merpati beku di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka bukan saja mengirim ke luar negeri (khususnya Singapura dan Hongkong), tapi juga ke kota-kota kecil di Kalimantan dan Pekanbaru, Riau.

Mengenai merpati goreng mentega ini, saya punya kenangan pilu. Seorang mahasiswi sefakultas yang kemudian menjadi ibu anak-anak saya, mengajak makan di restoran untuk merayakan lulusnya sebagai saijana. Saya memesan burung dara goreng, sebagai isyarat untuk mengajaknya terbang ke langit.

Waduh! Ternyata dia hanya makan irisan mentimun dan tomat. Burung dara goreng itu sama sekali tidak dilirik, apalagi disentuhnya. Ya, Tuhan... maafkan saya. Ternyata tidak semua orang Indonesia pemangsa unggas. Apalagi pelahap burung dara!

Masih banyak yang suka merpati tapi tidak mengkonsumsi telur apalagi dagingnya. Di Jakarta Timur saya mengenal kolektor merpati hias, Sayogo, namanya; yang rela keluar berjuta rupiah untuk memiliki merpati impor. Ternyata bentuk, warna, dan perangai merpati ada banyak macam. Dewan Omitologi—badan dunia yang mengurusi perburungan— memamerkan profil lebih dari seratus jenis merpati hias dari 318 spesies burung dara yang hidup di bumi.

Merpati Sebagai Kurir Surat Pada Periode perang

Pada mulanya, burung dara hidup di gua-gua karang di tebing pantai. Mulai sekitar 4.500 tahun sebelum Masehi mereka dipelihara oleh ibu-ibu sebagai cadangan daging, sementara para suami pergi berburu. Karenanya jangan heran, kalau monumen dan kandang-kandang merpati paling legendaris merupakan warisan wanita terkenal. Misalnya kandang merpati dari batu, peninggalan Elizabeth Arden, ibunda sastrawan terkemuka,    William Shakespeare di desa Stradford Upon Avon, Inggris. Selanjutnya peran merpati meningkat sebagai pengantar pesan. Masih ingat Cleopatra? Ratu Mesir di zaman purba itu juga mempekerjakan merpati untuk menghubungi Markus Antonius, kekasihnya. Dinas pos paling tua dalam sejarah manusia memang ditunaikan oleh merpati.

Itu sebabnya mereka bisa menjadi pahlawan. Contoh lain yang terkenal adalah Cher Ami, dara jantan hitam yang banyak mendapat bintang penghargaan.

Dalam satu kisah, merpati Cher Ami menyelamatkan 194 pasukan yang terjebak. Pada tahun 1919 Cher Ami gugur karena luka-luka perang yang diderita. Jasadnya diawetkan dan dipamerkan di museum nasional AS di Behring Center. Pada 1931, ia mendapatkan medali emas dan masuk dalam Hall of Fame merpati balap, dengan jasa-jasa yang luar biasa.

Sebagai simbol Burung cinta

Satu reputasi burung dara yang paling klasik adalah sebagai simbol cinta. Mengapa? Mitos mengatakan merpati adalah pendukung monogami. Kalau pasangannya mati, yang tinggal akan terus menduda atau menjanda sampai mati. Betulkah begitu?

Pemerintah negara bagian Connecticut, kawasan yang merpatinya paling banyak di Amerika Serikat, mengakui hal itu. Memang uniknya, di alam bebas, tiap kerumunan burung dara terdiri dari jantan dan betina dengan jumlah seimbang, bahkan cenderung sama.

Di Jawa kesetiaan merpati dimanfaatkan untuk lomba. Merpati betina ditinggalkan di rumah, jantannya dibawa pergi. Nah, dalam kerinduan yang menggebu-gebu, terbanglah si jantan mencari tambatan hatinya.

Budidaya Merpati Ladang bisnis

Bisnis apakah yang tercipta oleh hubungan manusia dan merpati? Cukup banyak, meski Pigeon Watch belum pernah memperhitungkannya. Pigeon Watch adalah badan pemerhati merpati yang didirikan oleh Pusat Omitologi Universitas Cornell di New York, Amerika Serikat.

Jangan lupa, bagi masyarakat Jawa, burung (kukila) termasuk satu di antara lima pelengkap hidup seorang pria. Empat lainnya adalah rumah (wisma), istri (wanita), kendaraan (turangga = kuda), dan senjata (curiga = keris).

Makanya di banyak kota dan desa kita sering melihat pasar burung. Bukan hanya perkutut dan burung direkayasa demikian rupa, sehingga membuat burung terbang lebih cepat. ( Baca : Usaha Pembiakan Merpati Balap Modal Kecil )

Datangkan devisa

Di berbagai negeri maju, burung dibebaskan hidup di alam luas. Memiliki burung, tidak harus berarti membuatkan sangkar. Namun di banyak pulau di Nusantara, mencintai burung bisa berarti membuatkan sangkar semahal-mahalnya. Untuk memanjakan sepasang merpati aduan, ada kalanya diperlukan sangkar dengan harga beijuta-juta rupiah.

Industri wisata berburu merpati, secara tradisional berjalan paling bagus di Uruguay, Amerika Selatan. Populasi merpati liar disana sangat besar dan stabil. Dengan uang 2.000 dolar Anda bisa mengikuti paket berburu merpati selama empat atau lima hari. Sayangnya tarif ini bukan dari Jakarta, melainkan dari New York, Los Angeles, atau Austin, Texas, dan kota-kota lain di AS.

Populasi merpati di Uruguay paling stabil sepanjang tahun. Ini menciptakan pekerjaan untuk warga desa. Mereka bisa menjadi “bird boy”, semacam cady, kalau kita main golf; bayarannya 30 dolar sehari.

Di kota-kota besar yang kewalahan dengan populasi merpati, bisnis jebakan dan racun juga berjalan. Maklumlah, betapapun indahnya, kalau berlebih-lebihan ia bisa menjadi wabah.

Ada banyak cara untuk memberantas merpati sebagai hama. Ada rumah yang memasang balon berisi helium, semacam bebegik (orang-orangan sawah) yang berfungsi untuk menakut-nakuti mereka di langit. Banyak lagi yang memasang alat elektronik dengan rekaman suara burung hantu. Merpati paling takut pada suara burung hantu, karena itulah predatornya. Di Jawa bukan hanya burung hantu, alap-alap dan elang pun memburu merpati.

Merpati, bagaimana pun telah mempunyai tempat tersendiri di hati kita. Boleh kenangan masa kecil, kenangan semasa menjadi mahasiswa, tamasya ke luar negen: maupun hobi setelah memasuki usia senja. Merpati bahkan bisa menjadi identifikasi seorang pribadi. Bukan hanya seorang manusia, tapi juga seluruh dunia. Ketika bumi bersayap, semua terbang merdeka dalam perdamaian.

Post a Comment

0 Comments