Memilih indukan adenium terbaik untuk persilangan

Penantian panjang Untari Retno Wahyuni di Minomartani, Yogyakarta, selama 8 bulan akhirnya terpampang di depan mata. Beberapa semaian biji adenium hasil silangan sendiri mulai berbunga. Sekitar 30 bunga di antaranya bernuansa baru. Sebut saja bright candy dengan splash merah di setiap tengah petal dan renjana bermahkota lancip berwarna ungu.

Aktivitas menyemai biji mawar gurun hasil silangan sendiri itu Untari mulai sejak 4 tahun lalu. Memang, tidak semua biji hasil silangannya disemai karena sebagian dijual tanpa ditumbuhkan terlebih dahulu. “Kalau menuruti permintaan, barangkali saya tidak akan pernah bisa menyemainya karena habis terjual. Tapi saya harus tetap menyemai sendiri. Kalau tidak bagaimana saya belajar sifat pewarisan karakter adenium,” kata wanita kelahiran Yogyakarta itu.

Makanya ibu 2 anak itu juga berharap mendapat informasi balik penampilan adenium dari hobiis yang membeli biji hasil silangannya. “Dari informasi yang didapat, ia belajar pewarisan karakter bunga untuk menentukan arah seleksi lebih lanjut. Termasuk menentukan tetua yang akan dipakai selanjutnya. Musababnya, corak bunga adenium tidak lepas dari sifat karakter indukan, bahkan karakter moyangnya. Jadi, kalau ada 2 bunga disilangkan hasilnya beragam.


Sayang, tidak semua hobiis memberikan informasi balik yang diharapkan Thari. Jika ia menyemai semua biji hasil silangan sendiri, mungkin kini didapat data lengkap karakter bunga. Selain itu, bila ada yang penampilannya bagus bisa dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan dalam bentuk biji.

Ikut tren

Untuk menghasilkan jenis baru Thari tak asal menyilang. Sebelumnya pehobiis fotografi itu memilih calon indukan berdasarkan tren pasar. Informasi pasar ia peroleh dari hobiis yang tergabung dalam milisnya. “Awalnya orang suka bunga yang berwarna merah polos dan berukuran besar,” kata Thari. Karena pasar menginginkan bunga yang seperti itu, ia pun membuat silangan yang kira-kira hasilnya seperti yang diinginkan pasar.

Pada 2004 konsumen menyukai adenium berbunga merah, berukuran besar, dan polos tanpa corak. Setelah itu, 2005, konsumen beralih ke corak yang diawali oleh kemunculan harry potter. Menurut Thari tren harry potter masih berlangsung hingga sekarang. Maksudnya, hobiis menyukai bunga bercorak, tidak polos. Dari situlah ia kemudian menyeleksi calon indukan dengan harapan silangannya mengikuti tren pasar.

Seleksi dilakukan terhadap calon indukan. Yaitu yang punya corak bunga menarik, tahan lama, dan berkuntum banyak. Dua macam sistem persilangan dilakukan. Pertama, persilangan indukan yang berkarakter mendekati tren pasar yang Thari sebut sistem pretty on pretty. Kedua, persilangan indukan yang berkarakter khusus ditujukan untuk menghasilkan breeding line tertentu yang disebut sistem gabungan.


Hasil silangan sistem pretty on pretty antara lain hp family, innocento, pinky, red sillouette, surokusumo, dan 5 jenis baru yang masih tanpa nama. Sebagian besar bentuk mahkota bulat dengan minimal 2 warna. Tujuan dari sistem silangan pertama untuk mengisi dan menyempurnakan kekurangan yang ada pada bunga saat ini sehingga penampilannya jadi lebih menarik.

Biji silangan Thari yang dijual kebanyakan berasal dari sistem pretty on pretty. Itu karena lebih cepat didapat dibandingkan dengan hasil akhir tahapan breeding line yang memerlukan waktu lama untuk dinikmati. Contoh hasil akhir breeding line adalah menciptakan bunga warna ungu. “Menghasilkan bunga adenium berwarna ungu polos sangat sulit. Warna ungu merupakan cerminan sifat homozigot gen resesif warna merah muda dan gen resesif kopigmennya. Tanpa tahapan breeding line, justru semakin lama diperolehnya,” ujar Thari.
Seleksi

Nurseri Istana Alam di Sawangan, Depok, juga memiliki adenium baru hasil seleksi. Namun, mawar gurun tersebut diperoleh dari hasil silangan lokal maupun asal Thailand dan Taiwan yang dibeli dalam bentuk biji dan seedling. Anggota famili Apocynaceae yang sedang diseleksi itu dikumpulkan dalam sebuah rumah tanam berukuran 4 m x 10 m.

Yang terlihat mencolok, adenium berbunga merah solid dengan bentuk mahkota bulat. Itu yang disenangi konsumen dibandingkan bila mahkota runcing-runcing. Warna solid merata mulai dari mahkota, corong, hingga bagian luar corong.

Namanya bang na. Mahkota cukup tebal dengan permukaan seperti beludru. Adenium yang namanya diambil dari bahasa Jawa, abang sempurna, yang artinya merah sempurna itu pun termasuk jenis yang rajin berbunga. Jumlah bunga per dompol minimal 3 kuntum.

Jenis baru lain, silviana. Penampilan adenium itu mirip dengan inspiro. Namun, mahkotanya lebih curly dan ada semacam lidah kecil yang mencuat di bibir corong. Ukuran bunga silviana pun lebih besar, berdiameter sekitar 5—6 cm.

Selain itu juga ada jenis putih tanpa nama yang cantik dengan variasi warna kuning kehijauan di corong dan ujung mahkota. Uniknya, terlihat ada semacam lubang kecil di dekat corong. Bentuk bunga si putih membulat. Jenis lain yang masih tanpa nama bermahkota merah tua dan tepi kehitaman. Tepi mahkota mengeriting. Sayang, petalnya cenderung tipis dan mengarah ke luar sehingga seperti mendongak.

Taiwan

Adenium baru juga ada di Bekasi Timur. Di antaranya sweet star yang berbentuk bintang dengan dasar merah dan merah muda di bagian pinggir. “Sweet star merupakan hasil seleksi biji,” kata Jaja dari nurseri Kabita Adenium. Jenis lain, sadena dan hariti. Yang disebut pertama berwarna merah yang semakin pudar menjadi putih ke pinggir. Sadena hasil silangan nurseri Kabita. Sementara hariti diimpor dari Thailand. Bunga berwarna merah dengan pinggir kehitaman.

Nun di Tangerang, Handri Chuhairy mendatangkan jenis baru dari Taiwan. Semua adenium baru koleksi Handry berpenampilan spektakuler dengan corak pada petal bunganya

Post a Comment

0 Comments