Meningkatkan Produksi Susu Kambing Etawa Dengan Limbah

Berapa produksi susu maksimal kambing peranakan ettawa (PE) per hari? Setengah liter? Tiga per empat liter? Lupakan. Di Condet, Jakarta Timur, Salim Riza Alatas mendulang 70— 7 00 liter susu tiap hari dari 70 ekor kambing. Peningkatan 30% lebih itu tercapai berkat asupan pakan dari bahan yang dipandang orang sebelah mata: limbah, la menggunakan limbah dari industri tahu, industri tapioka, maupun ampas sisa penggilingan jagung untuk menggenjot produksi susu kambing PE andalannya.

Formula jitu Meningkatkan Produksi Susu Kambing Etawa tidak didapat sambil berpangku tangan atau dalam sekejap mata. Usaha angkutan penumpang antarkota yang dipimpinnya bukan penghalang untuk terus mencari campuran yang tepat. Berbagai bahan mulai sekam halus, bungkil kedelai, bungkil kelapa, molase, hingga ampas tahu dan ampas tapioka dicobanya. Itu belum termasuk singkong, wortel, maupun pakan hijauan macam rumput lapangan dan daun singkong.
Susu Kambing Etawa
Pakan kambing perah tak cukup hijauan
Di tahun ke-12 pencarian, ia menggunakan komputer untuk menganalisis pakan. Dengan alat itulah ia tahu konsentrat yang diberikan beberapa tahun terakhir mengandung nutrisi dalam jumlah fantastis: 18% protein dan 2.500 kkal energi. Nutrisi tinggi membuat susu demikian gurih hingga pelanggan ketagihan untuk mencecapnya. Itu sebabnya permintaan susu kambing mengalir hingga 700 liter per minggu. Padahal ia hanya mampu memasok 400—500 liter per minggu.
Wafer katuk

Di Bogor, Dwi Susanto punya resep lain. Pria ramah itu memanjakan kambingnya dengan wafer untuk camilan. Ya, hasil oplosan molase alias tetes tebu dan daun katuk disebut wafer. Daun katuk—dipercaya sejak nenek moyang sebagai pelancar ASI—memang kaya protein, kalsium, dan lemak. Prosesnya sederhana, daun Sauropus androgynus yang telah dikeringkan dengan penjemuran itu lalu diaduk sampai merata dengan tetes tebu.

“Karbohidrat 48—60% dalam tetes tebu membuat rasanya disukai kambing,” ungkap Dwi. Setelah dicetak, campuran itu lantas dipanaskan selama 15 menit dalam oven bersuhu 100°C. Wafer diberikan setelah makan sore karena berdasar pengalamannya, pada malam hari kambing acap mencari makanan. Toh itu tidak boros, wafer dari 1 kg daun katuk dan 1 kg tetes tebu cukup untuk 20 ekor.

Bukan cuma membuat kambing banjir susu, camilan itu membuat rasa dan aroma susu lebih gurih. Sarjana Ekonomi Manajemen lulusan Universitas Persada Indonesia itu tak sekadar berbicara. Ia menyodorkan segelas susu yang diperah langsung di depan Trubus. Hm... memang gurih rasanya dan wangi, bebas sama sekali dari prengus khas kambing.
Susu Kambing Etawa
Susu enak: gurih, wangi, dan bebas bau prengus
Bungkil kedelai

Masih di kota Hujan, Bangun Dioro punya kiat agar kambingnya menghasilkan susu melimpah. Ia membeli kulit singkong kering dari industri tapioka. Jika Salim menggunakan ampas tapioka, Bangun memanfaatkan kulit singkong. Limbah itu jadi andalan Bangun lantaran kandungan proteinnya tinggi. Efeknya, “Tak hanya produksi meningkat hingga 1,5—1,75 liter per hari, rasa susu juga lebih gurih,” ungkap tentara Angkatan Darat itu.

Nun di Medan, ada Effendi yang berbuat senada dengan Salim. Bedanya, selain ampas tapioka, ia memberikan bungkil kedelai sebagai penggenjot protein. Hasilnya, produksi susu kambing mencapai lebih dari 10 liter per minggu. Tingginya protein dalam kedelai tak disangsikan. Namun, harga selangit jadi kendala.

“Harga kedelai memang tinggi meski sudah jadi limbah. Maklum, masih harus diimpor,” tutur Dr I Ketut Sutama, peneliti di Pusat Penelitian Peternakan, Ciawi, Bogor. Harga bungkil kedelai sampai Rp4.500 per kilogram. Padahal, 1 kg konsentrat perlu 200 g bungkil kedelai.
Kambing Etawa
Dengan bungkil, produksi susu 11—15 liter per minggu
Makanya, saat racikan pakan Salim Riza Alatas hanya menghabiskan Rp5.000 per bulan untuk tiap kambing, Dwi Susanto mesti mengeluarkan 3 kali lipatnya. Untungnya Dwi tak kalah lihai, ia menjual produknya 2 % kali harga produk Salim dan Bangun Dioro. “Itu pun saya kewalahan memenuhi permintaan,” tuturnya seraya tertawa lepas.

Post a Comment

0 Comments