Peluang Bisnis Pertanian Agrowisata

Kabut tipis laksana tirai yang menghampar dari langit biru di atas Cihideung, Bandung. Pancaran sinar matahari perlahan menggulungnya bersamaan dengan antrean pengunjung agrowisata Galeri Valega. Akhir pekan di penghujung April 2004 mereka menjadi pekebun sehari. Mengolah lahan dan memanen beragam sayuran menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Antrean pengunjung mengular di mulut loket Galeri Valega. Mereka datang dari Bandung, Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Beberapa pengunjung malahan berjalan pakai kruk dan didorong di atas kursi roda. Mereka ingin menghirup udara segar yang kian mahal di kota besar. Tampak pula ekspatriat Cina, Jepang, Jerman, Amerika Serikat, dan Italia menunggu giliran di loket.

Menurut Shirley Hermily, penanggung jawab Galeri Valega, pengunjung pada akhir pekan membludak, hingga 800 orang sehari. “Beragrowisata bersama keluarga pada akhir pekan menyenangkan,” katanya. Lokasi agrowisata Galeri Valega dipemukiman Graha Puspa, Cihideung, Bandung.
Jadi Pekebun Sayuran di Akhir Pekan

Dari pusat kota tempat itu bisa dicapai hanya dalam waktu setengah jam. Pilihan lokasi amat pas lantaran selama ini Cihideung masyhur sebagai daerah wisata bunga. Apalagi tarif beragrowisata relatif murah. Setiap pengunjung hanya dikutip Rp2.500.

Panen tomat
Kepuasan pertama yang dapat dirasakan adalah panorama alam nan elok. Setelah memperoleh tiket, pengunjung bakal menyeberangi sungai kecil selebar 1,5 m. Batu-batu alam menghampar dilalui jernihnya air. Bunyi gemericik yang ditimbulkannya memberikan sensasi tersendiri bagi indra pendengaran.

Di seberang sungai itulah terdapat bedeng-bedeng sayuran siap panen. Sebuah papan informasi berisi nama sayuran dalam bahasa lokal dan latin terpampang di setiap guludan. Informasi itu memudahkan pengunjung mengenali ragam sayuran. Tomat cherry seukuran kelereng, mentimun jepang yang hijau segar, atau terung nasubi keunguan menjadi daya tarik bagi pengunjung.

Mereka boleh memanen sendiri. Seorang pemandu mengingatkan cara panen yang baik, agar tidak merusakan tanaman. Contoh saat memanen mentimun, pilih buah tua berwarna hijau gelap dan potong tangkai buah dengan pisau.

Pengunjung lantas memasukkan sayuran hasil panen di keranjang plastik. Di dekat lahan penanaman, juga terdapat ruang pajang seluas 15 m2 yang berisi rak-rak besi bertingkat. Beraneka sayuran seperti tomat cherry, nira, okra, nasubi, dan mentimun dikemas rapi dalam plastik bening. Meski baru saja memetik di kebun, sayuran segar itu tetap menjadi rebutan pengunjung sebagai oleh-oleh.
Rumah pekebun

Masih ingin menikmati agrowisata dengan suasana berbeda? Silahkan ke negeri Swiss Kecil alias Kota Batu. Pengunjung agrowisata dapat tinggal bersama di rumah pekebun sayuran selama beberapa malam. Sarapan bersama, bercengkerama, dan melihat kehidupan pekebun sehari-hari. Biayanya relatif murah, cukup Rp50.000 per peserta. Ide agrowisata dengan melibatkan pekebun setempat itu dikemas oleh Dinas Pertanian Kota Batu.

Lembaga itu menjalin kerja sama dengan pekebun sayuran di Desa Tulungrejo, Pandanrejo, dan Giripumo. Semuanya di Kecamatan Bumiaji berketinggian 1.100 m dpi. Tiga kelompok tani binaan Dinas Pertanian— Makmur Abadi, Sumber Abadi, dan Pangestu—lahannya    dijadikan
agrowisata sayuran. Lokasi bejarak 15 km itu dapat dicapai setengah jam dari Kota Batu.satu benih kentang ditanam di atas bedeng berukuran 1,5 m x 6 m hasil cangkulan mereka. Selesai menanam kentang, pengunjung menuju kebun selada. Setelah 10 menit berjalan kaki, hamparan selada segar bagai permadani hijau menggoda untuk dipetik.

Panen selada

Sebelum memanen, pekebun menjelaskan pengolahan lahan hingga cara memanen selada. Usai dijelaskan cara panen yang tepat dengan cara memotong batang terbawah, 2 cm dari tanah, mereka segera menuainya.

Selada keriting dan romain di atas bedengan berpindah ke tas yang mereka jinjing. Senyum bahagia dan tawa riuh terdengar.

Setiap Sabtu dan Minggu, lokasi agrowisata padat pengunjung. Memanen sendiri memang memberikan kepuasan. Berlama-lama di bawah terik matahari sesekali diterpa angin pegunungan tak jadi masalah. “Mereka merasa berada di kebun sayuran sendiri,” kata Eko Yulianto dari Dinas Pertanian Kota Batu.

Selain ke lahan, pengunjung juga diajak ke tempat sortasi sayur di Kota Batu. Di sana pengunjung menyaksikan pencucian, sortir, pengemasan, dan penyimpanan beragam sayuran. Melewatkan akhir pekan menjadi pekebun menyisakan pengalaman dan kenangan yang berkesan.

Saat pagi baru merekah pengunjung diantar ke berbagai tempat agrowisata. Pertama, pengunjung diajak untuk bercocok tanam sayuran sendiri.

Setelah mendengar penjelasan sekilas dari petugas Dinas Pertanian, dan pekebun, mereka pun mulai bercocok tanam. Dengan celana digulung sebatas betis, ayunan cangkul pun terasa lebih ringan.

Pengunjung mencangkul, membuat bedeng, dan menanam sayuran. Walau tampak kelelahan, senyum kepuasan tetap tersungging di bibir mereka. Satu persatu benih kentang ditanam di atas bedeng berukuran 1,5 m x 6 m hasil cangkulan mereka. Selesai menanam kentang, pengunjung menuju kebun selada. Setelah 10 menit berjalan kaki, hamparan selada segar bagai permadani hijau menggoda untuk dipetik.

Panen selada

Sebelum memanen, pekebun menjelaskan pengolahan lahan hingga cara memanen selada. Usai dijelaskan cara panen yang tepat dengan cara memotong batang terbawah, 2 cm dari tanah, mereka segera menuainya.

Selada keriting dan romain di atas bedengan berpindah ke tas yang mereka jinjing. Senyum bahagia dan tawa riuh terdengar.
Setiap Sabtu dan Minggu, lokasi agrowisata padat pengunjung. Memanen sendiri memang memberikan kepuasan. Berlama-lama di bawah terik matahari sesekali diterpa angin pegunungan tak jadi masalah. “Mereka merasa berada di kebun sayuran sendiri,” kata Eko Yulianto dari Dinas Pertanian Kota Batu.

Selain ke lahan, pengunjung juga diajak ke tempat sortasi sayur di Kota Batu. Di sana pengunjung menyaksikan pencucian, sortir, pengemasan, dan penyimpanan beragam sayuran. Melewatkan akhir pekan menjadi pekebun menyisakan pengalaman dan kenangan yang berkesan.

Post a Comment

0 Comments