Prospek Bisnis Kedelai Jepang (edamame pandan) | Adi Sucipto

Saturday, June 1, 2019

Prospek Bisnis Kedelai Jepang (edamame pandan)

Angin senja semilir di Pasir Muncang menebarkan aroma pandan. Padahal di sana tak ada perkebunan pandan wangi. Sumber aroma itu ternyata dari edamame yang dikembangkan PT Saung Mirwan.

Edamame alias kedelai jepang lazimnya memang tak beraroma. Namun, sayuran polong baru itu memberi aroma khas seperti pandan. Saung Mirwan mendatangkan benih edamame pandan dari Jepang setahun lalu.

Sosok tanaman sama dengan edamame biasa. Tanaman bertajuk kompak setinggi 50—60 cm itu bercabang banyak dan berdaun hijau lebat. Sekitar 12—15 polong, berbiji 2—3 buah, bergelantungan di antara percabangan. Panjang polong sekitar 5 cm berwarna hijau muda.

Menurut Bambang Siswantoro dari Saung Mirwan edamame pandan lebih genjah. Umur panen lebih cepat satu minggu ketimbang edamame biasa yang mencapai 60 hari. Polong edamame pandan mulai muncul saat tanaman berumur 4 minggu. Tiga pekan berikutnya, edamame siap panen.

kacang edamame pandan


Gurih

Edamame pandan tetap segar sampai 7 hari setelah petik jika disimpan dalam pendingin. Lebih dari itu polong dan biji akan menguning. Rasanya pun tak lagi manis dan gurih.

Setelah dipetik edamame siap diolah. Cemplungkan dalam air mendidih selama 3 menit dan tambahkan sedikit garam. Camilan khas Jepang itu pun siap santap. Ketika edamame itu direbus, aroma harum kian menusuk hidung.

Saat polong dibuka, biji bulat pipih berukuran 3 kali kedelai biasa, berwarna hijau muda mengkilap tampak menggoda. Tekstur lembut, rasa manis, dan gurih khas kacang segera menggoyang lidah. Edamame pandan lebih manis ketimbang edamame biasa.

Saung Mirwan menanam edamame pandan masih dalam skala coba-coba. Luas tanam hanya 200 m2/minggu. “Selain kekurangan benih, lahan yang tersedia pun terbatas,” tutur Bambang. Dari lahan 200 m2 itu dituai 50 kg. Produktivitas sama dengan varietas ryokoh, taisho, dan soromidori yang lebih dulu dikembangkan.

Seluruh produksi dipasarkan ke sebuah pasar swalayan di Jakarta. “Sebenarnya beberapa swalayan lain meminta, tapi belum bisa dipenuhi,” tutur Hugo Ari Sukamo, manajer pemasaran. Di pasar swalayan Diamond edamame pandan dijual sekitar Rp 12.000/kg. Harga itu sedikit lebih mahal ketimbang edamame biasa, Rpll.000/kg. “Selama ini penjualan edamame pandan bagus, tapi belum terlihat peningkatan karena baru berjalan 2 bulan,” tutur Ningsih dari Diamond.

Prospek Bisnis Kedelai Jepang (edamame pandan) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: rosari J

0 comments:

Post a Comment