Prospek Budidaya Komersil Buah Duku Cimara Dan Duku Sabu

Penampilan duku asal Desa Cimara, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, itu kurang menarik lantaran kulit buah banyak bercak hitam. Cimara kalah mulus ketimbang duku palembang yang sudah kondang. Akibatnya, cimara tidak laku di pasar Jakarta.
Toh penampilan buruk rupa itu tak membuat Dra Sofiah Hadi, seorang warga di sana, berpaling dari duku cimara. Rasanya yang sangat manis membuatnya tak pernah absen mencicip bila musim berbuah tiba. Di Kuningan, kerabat mahoni itu panen raya pada Desember-Januari. “Kalau tak mencicip seperti ada yang kurang. Benar-benar tak tergantikan," kata pegawai negeri sipil di sebuah instansi di Kabupaten Kuningan itu.
Buah duku
Duku sabu, varietas unggul nasional asal Lampung

Daging Buah Yang Sangat manis

Sofiah juga rela merogoh kocek dalam demi menikmati kesegaran duku kebanggaan kota yang berbatasan dengan Cirebon itu. Maklum, harga cimara di tingkat konsumen mencapai Rpl2.000-Rpl3.000 per kg, jauh lebih mahal ketimbang duku palembang yang hanya Rp7.000-Rp8.000 per kg. Menurut Wawan bin H Zaenal, pengepul duku di Desa Cimara, duku cimara disukai karena rasa manisnya tak tertandingi duku mana pun.

adisucipto berkesempatan mencicip cimara saat berkunjung ke desa di selatan Kuningan itu pada Februari 2010. Rasa manisnya lengket di lidah. Ketika diukur dengan refraktometer, tingkat kemanisan mencapai 22° briks, jauh lebih manis ketimbang palembang yang hanya 16-17° briks.

Menurut Wawan harga duku cimara di tingkat pekebun juga tinggi, Rp8.000-Rp 10.000 per kg. “Saya menjual ke pengepul di Jawa Tengah Rpl2.000-Rpl3.000/kg,” kata Wawan. Makanya di konsumen Jawa Tengah harganya mencapai Rpl5.000/kg Saat panen raya harganya tak pernah anjlok. Minimal Rp7.000 per kg. Di sentra lain seperti Palembang dan Lampung, harga saat panen raya bisa terjun bebas hingga Rp3.500 per kg.

Itulah sebabnya bagi warga Desa Cimara, duku ibarat investasi masa depan. Contohnya dialami Suharja. Semula ia hanya memiliki 2 pohon berumur ratusan tahun. Sejak diwariskan sang kakek, ayahanda Suharja kembali menanam hingga total 25 pohon. Yang termuda berumur 20-25 tahun. Ayah Suharja rela menanam duku di kebun meski harus menunggu 15 tahun hingga berbuah. Maklum, sebagian besar warga di sana memperbanyak duku dari biji. “Zaman dulu belum dikenal teknik cangkok atau sambung susu," kata Suharja.

Jerih payah sang ayah tercinta itulah yang kini dinikmati Suharja. Dari 25 pohon miliknya diperoleh 2 ton duku per tahun. Hasil panen dijual ke Semarang dan Yogyakarta. Meski pasarnya terbatas, Suharja memperoleh keuntungan tinggi karena mayoritas hasil panen berkualitas super. Dari 100 kg hasil panen, yang terbuang hanya 7-10 kg. Pantas di Cimara kehadiran pohon duku dapat mendongkrak harga jual sebidang tanah. Sebagai contoh lahan seluas 400 m2 yang ditanami duku harganya bisa mencapai Rp50-juta. Bila tanpa duku lahan itu hanya laku Rp l0-juta.
budidaya duku
Duku cimara dikebunkan cukup intensif seperti pembungkusan buah untuk mencegah lalat buah

Perawatan Yang Cukup intensif

Karena menjanjikan keuntungan tinggi, Suharja merawat duku cukup intensif, la memberikan 5 kg pupuk NPK dan 30 kg pupuk kompos setahun sekali, la juga mengatur pembungaan. Pohon dibiarkan tanpa disiram hingga daun tua mulai rontok. Ketika itu pohon segera disiram. Setelah itu biasanya muncul bunga. Perangsangan bunga dilakukan pada Juni-Juli. Dari bunga hingga buah siap panen perlu waktu 6 bulan.

Terkadang bunga muncul tidak serempak. Bunga yang lebih dulu menjadi buah dibuang saat pohon tengah semarak bunga. Ketika pembesaran buah, bunga yang muncul juga dibuang agar tidak mengganggu pertumbuhan buah. Pekebun juga membungkus dompolan buah dengan anyaman bambu atau karung bekas kentang untuk mencegah serangan kelelawar.

Sayang, hingga kini penyebab bercak hitam pada kulit duku belum diketahui. Pembungkusan buah ternyata tak mampu memuluskan buah. Menurut Ir Wijaya, ahli buah di Bogor, kemungkinan bercak hitam pada kulit buah disebabkan cendawan. Penyebabnya kondisi iklim yang terlalu lembap. Pada daerah berkelembapan tinggi, pembungkusan buah justru menyuburkan serangan cendawan.

Untuk mengatasinya, Wijaya menyarankan agar pekebun rutin menyemprotkan fungisida pada buah. Sayangnya pekebun jarang yang merawat intensif. “Sebagian besar duku bukan menjadi andalan pendapatan. Makanya dari Sabang-Merauke duku seringkah dibiarkan tumbuh begitu saja,” ujar mantan peneliti di Departemen Pertanian itu.
budidaya duku
Duku cimara dikebunkan cukup intensif seperti pembungkusan buah untuk mencegah lalat buah

Duku sabu

Di Lampung ada juga duku yang potensial dikembangkan. Namanya duku sabu. Musleh Dahlan, warga Desa Gebang, Kecamatan Padangcermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung, memiliki 100 pohon sabu. Sayang, tanamannya nyaris tak dirawat. Maklum, sebagian besar pohon berumur ratusan tahun tumbuh di hutan di perbukitan. Sumber nutrisi hanya mengandalkan serasah hutan dan kandungan humus yang tersedia di alam. Bedanya Desa Gebang daerah dengan kelembapan rendah. Meski tak disemprot fungisida dan dibungkus, kulit buah lebih mulus ketimbang cimara. Makanya ia disukai pasar Jakarta setelah dilabeli nama duku palembang.

Menurut Musleh, pohon berumur 15 tahun menghasilkan kurang dari 50 kg. Sedangkan duku cimara bisa menghasilkan minimal 80 kg. “Saya selalu menyarankan agar pemilik duku memberikan pupuk untuk pohon yang tumbuh di pekarangan rumah,” ujar Masnan Salman, kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pertanian dan Perikanan Kecamatan Padangcermin. Di Desa Gebang hampir di setiap rumah terdapat 1-3 pohon duku.

Menurut Masnan para pekebun di Desa Gebang itu harus mencontoh pekebun di sentra lain yang mulai mengebunkan secara intensif. Sebut saja Ir H Soekisno yang mengebunkan 500 pohon duku binjai di Desa Purwobinangun, Kecamatan Sei Bengei, Langkat, Sumaera Utara. Selain pemberian NPK secara berkala, pensiunan pegawai negeri sipil itu menyemprotkan pupuk organik cair yang mengandung zat pengatur tumbuh (ZPT) untuk merangsang buah.

Pupuk tambahan itu disemprotkan 10 hari sekali selama 4 kali. Alhasil, dari pohon berumur 9 tahun, Soekisno memanen 50 kg duku. Jumlah itu meningkat 2 kali lipat ketimbang tanpa perlakuan. Di kebun Soekisno, duku berbuah perdana pada umur 7 tahun. Bibit berasal dari hasil sambung pucuk. Seandainya perlakuan itu diterapkan pekebun duku di Desa Gebang, tak mustahil pendapatan pekebun ikut terdongkrak.

Post a Comment

0 Comments