Prospek Dan Nilai Ekonomis Pembudidayaan Jambu Jamaika

Blok di sebuah kebun di pasuruan, jawa timur, itu terlihat rapi. di sana 125 tanaman berbentuk pagoda tumbuh di lahan yang bersih dari gulma. dari balik dedaunan menyembul buah merah kehitaman. di kebun itu jambu jamaika yang dibandrol rp 10.000 per kg ludes dibeli pengunjung yang datang.

Jambu jamaika di kebun CV Bhakti Alam itu beda dengan jambo bol biasa. Warnanya merah kehitaman, jumbo, dan manis. Jambu bol lokal warnanya putih kemerahan, kecil, dan sepet. "Karena ukurannya jumbo, maka pengunjung yang datang langsung tertarik. Setiap panen pasti banyak yang minta dan pesan,” kata Muhammad Taufik, pengelola kebun.

Sejak Januari-Maret pohon berumur 6 tahun sudah berproduksi 50 kg per tanaman. Itu kali keempat Taufik memanen buah sejak tanaman belajar berbuah 2 tahun silam. Maklum, kerabat jambu air itu berbuah setahun 2 kali pada Januari-Maret dan September-Oktober. Menurut Taufik, buah dikemas dalam kemasan berbobot 1 kg seharga Rp l0.000. Musim ini diperkirakan dari kebun itu dihasilkan 6,25 ton jambu jamaika.

Di Leuwiliang, Bogor, ada Thariq Basalamah yang lebih dulu mengebunkan jamaika. Sepuluh tahun silam ia menanam 400 jambu jamaika bersama belimbing di lahan seluas 19 ha. Sayang, ia sempat menelantarkan kebun pada 2018 karena sibuk dengan properti. Pada 2006 ia kembali memulihkan kebun. Sebagai ujicoba sebanyak 50 tanaman dipelihara intensif. Kini mereka sudah rutin berproduksi.
Jambu Jamaika
Sulaeman, semula mengebunkan jamaika sekadar hobi. Kini buahnya mulai dijual ke konsumen. Dari 29 pohon berumur 13 tahun dipanen 30—40 kg jamaika per 3 bulan


Hasil Panen Selalu Habis Diborong Pengepul


Menurut Sobari, pengelola kebun Thariq, diperkirakan musim ini dipanen 750 kg buah. “Bulan ini kami baru panen 2,1 kuintal. Diperkirakan berlanjut hingga 2 bulan mendatang," kata Sobari. Setiap kg buah diambil pemasok dengan harga Rp8.000 per kg.

Buah yang diminta pemasok minimal 125 g per buah atau rata-rata 5-8 buah per kg dan berkulit mulus. Agar buah mulus Sobari membungkusnya di pohon dengan kertas koran dan karung plastik. Buah lolos sortir dibungkus lagi koran agar tidak memar selama pengangkutan.

Menurut Nanang Koswara, konsultan kebun Thariq, sebetulnya pemasok buah masih kekurangan jambu jamaika. “Selama ini berapa pun hasil panen dibeli pemasok. Yang jadi masalah kebun kami masih dalam pemulihan," ujarnya. Kini Nanang diminta Thariq merehabilitasi 400 tanaman berumur 10 tahun. Nanang berharap 2 tahun ke depan 350 tanaman yang lain bisa kembali berproduksi.

Buah Jambu Jamaica Merambah pasar Nasional


Menurut Dr Moh. Reza Tirtawinata MS, ahli buah di Bogor, jamaika mulai ramai dijajakan di toko atau lapak-lapak buah sejak 2 tahun terakhir. Sejak itu permintaan jamaika mulai mengalir ke para pemasok buah. Contohnya JK Soetanto di Subang, Jawa Barat, yang rutin menjual 100 kg jamaika setiap 4 bulan ke beberapa pasar swalayan di ibukota. Pemilik CV Boga Tani itu memperoleh buah dari 56 pohon jamaika berumur 10 tahun yang ditanam di kebun sendiri.

Sebelumnya Jambu jamaika sekadar tanaman koleksi. Buah yang unik membuat Sulaeman tergiur untuk menanamnya di kebun. Pengusaha tekstil di Bandung, Jawa Barat, itu mengebunkan 29 jamaika berumur 13 tahun. Dari jumlah itu ia memanen 30-40 kg jamaika setiap 3 bulan. Karena sekadar hobi, hasil panen dikonsumsi keluarga dan kerabat.
Jambu Jamaika
Jambu Jamaika dijajakan di salah satu gerai Foodhall di Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara, dengan harga Rp49.900/kg

Kini jamaika dijual di pasar swalayan eksklusif di Foodhall Mal Kelapa Gading 3. Di sana kerabat jamblang itu dibandrol dengan harga fantastis, Rp49.900/kg. “Jambu jamaika bersosok unik karena berukuran jumbo, lebih besar daripada jambu air biasa. Dengan keunikan itu diharapkan dapat menarik minat konsumen,” ujar Novilia Tjandra. penanggung jawab buah dan sayuran Foodhall.

Sayang, hingga kini belum terlihat lonjakan minat konsumen. “Jamaika baru tahap perkenalan produk. Hanya konsumen yang sudah mengenal dan mencoba yang membeli," kata Novilia. Karena itu, jamaika belum dijajakan di seluruh gerai Foodhall. la hanya dijual di gerai tertentu seperti Mal Kelapa Gading, Plaza Indonesia, dan Pondok Indah.

Menurut Reza pasar jambu jamaika masih terbatas karena beberapa kendala. Kadar air yang tinggi membuat daging buah terlalu empuk sehingga rentan rusak. Kulit buah juga tipis, rawan tergores. Karena itu di pasar swalayan jamaika dikemas eksklusif dengan balutan styrofoam dan plastik untuk menghindari goresan dan hantaman saat dipajang.

Menurut Ir Evi Safitri MS, peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen (BB Litbang Pasca Panen) di Bogor, Jawa Barat, jam bu jamaika yang mudah rusak bisa diatasi dengan merendam buah dalam lidah buaya seperti untuk mengawetkan belimbing, (baca: ). “Gel menyumbat pori-pori kulit sehingga laju respirasi buah terhambat," kata Evi.

Penjualan Secara langsung


Karena teknologi itu belum dikuasai semua pekebun, banyak yang menjual jambu jamaika di kebun sendiri. Contohnya Erick Wiraga yang mengebunkan 70 jamaika di sekeliling kebun durian di Desa Bunihayu, Subang, Jawa Barat.

Selain dijual di kebun, jamaika dijual ke toko buah dan restoran di sekitar Bandung. Setiap musim Erick memanen 400 kg jamaika dari 70 pohon berumur 5 tahun. Karena laris manis, Erick pun kembali menanam 200 jamaika yang kini baru berumur 1-2 tahun.
Jambu Jamaika
Di Pasuruan, Jawa Timur, jamaika dikebunkan secara intensif sebanyak 125 tanaman


Menurut Taufik meski teknologi pascapanen jamaika belum dikuasai pekebun sepenuhnya, pasarnya sudah mulai terbuka. “Yang terpenting sekarang konsumen tahu jambu jamaika beda dengan jambu bol biasa,” katanya. Bila permintaan mulai bertambah, bisa saja teknologi pengawetan pada belimbing diadopsi. Dengan begitu konsumen tak perlu jauh-jauh membeli jambu jamaika ke kebun.

0 komentar