Sukses Berbisnis Produk Olahan Ikan Bandeng

Mentari belum beranjak dari peraduan. Namun kesibukan di ruang belakang salah satu toko bandeng tulang lunak di bilangan jalan Pandanaran, Semarang, mulai berdenyut. Lima belas panci otoklaf pun telah beraksi di atas api kompor gas. Masing-masing berisi puluhan bandeng berbumbu, bobot sekitar 9 kg. Aktivitas itu terus berlangsung hingga matahari meninggi.

Saat adisucipto berkunjung pagi itu, 2 karyawan sibuk mencuci ikan yang baru dikeluarkan dari freezer berkapasitas 1.000 kg. Dua karyawan lain asyik membumbui dan memasukkan ikan ke dalam otoklaf. Sementara itu di ruang sebelah, 2 orang lagi tampak cekatan memilih dan mengemas bandeng ke dalam plastik sebelum disegel dengan mesin vacum. Pokoknya suasana tampak sibuk.

Di ruang depan yang menjadi ruang pamer terlihat puluhan karyawan melayani pengunjung. “Untuk oleh-oleh buat teman kantor,” papar Sri ketika ditemui adisucipto saat menenteng 2 kantong berisi bandeng tulang lunak. Jumat pagi itu pegawai di salah satu instansi pemerintah di Bandung yang datang bersama rombongan itu membeli 4 kg.

Artis-artis papan atas ibukota pun tak pernah lupa membawa pulang oleh-oleh sana. Nindi Ellise, Lola Amaria, Eko Patrio, Nurul Arifin, Lisa Natalia, Primus Yustisio, hingga Desy Ratnasari hanyalah beberapa di antara yang tercatat sebagai pengunjung di salah satu toko.
bisnis Bandeng

Produk Olahan Ikan Makin diminati

Menurut dr Daniel Nugroho, pemilik PT Bandeng Juwana, setiap hari perusahaannya mengolah 200—300 kg bandeng segar untuk memenuhi permintaan konsumen. Maklum, “Bandeng tulang lunak makin diminati,” papar pemegang merek Bandeng Juwana itu. Di tokonya, minimal 100 kg bandeng tulang lunak terjual setiap hari. Malah, penjualan meningkat menjadi 150—200 kg pada akhir pekan.

Hal serupa dialami Bandeng Arwana, gerai lain di kawasan Pandanaran, Semarang. Menurut Yulia Kusumarini,tulang lunak di toko itu terus meningkat. “Tahun lalu hanya 20—30 kotak per hari. Saat ini minimal 50 kotak terjual,” paparnya. Satu kotak berisi 2—5 ekor berbobot 1 kg.


Agus Pradekso juga terpaksa harus meningkatkan kapasitas produksi lantaran tingginya permintaan. Semula pelopor industri bandeng tulang lunak di Semarang itu hanya memanfaatkan dapur rumah sebagai tempat produksi Bandeng Presto—merek dagangnya. Kini hobiis fotografi itu harus membangun p'abrik pengolahan di kawasan Lingkungan Industri Kecil (LIK) Kaligawe, Semarang, untuk memenuhi permintaan 100—200 kg/ hari. Padahal, “Awalnya kami hanya memproduksi kalau ada pesanan,” papar produsen sejak 1972 itu.

Berebut pasokan ikan

Maraknya permintaan bandeng tulang lunak memang membuat industri sejenis banyak bermunculan di sana. Apalagi bandeng tulang lunak kini menjadi semacam merek dagang kota Semarang. “Ia sudah menjadi salah satu oleh-oleh khas Semarang yang paling diminati,” papar Daniel Nugroho yang berbisnis bandeng sejak 1981.

Daniel memperkirakan minimal 30 industri pengolahan bandeng berdiri di kota itu. Selain di Pandanaran, pabrik pengolahan juga dibuka di bilangan jalan Mataram, Dr Cipto, dan Pasar Johar. Dampaknya, bahan baku menjadi rebutan.

Bayangkan, “Jika setiap pabrik membutuhkan 150 kg saja per hari, berarti 4,5 ton bandeng segar per hari diserap industri di sini,” ujar mantan Soal keterbatasan bahan baku juga dilontarkan Agus. “Dulu kami tak sulit mendapatkan bahan baku,” keluh Agus. Kini, untuk mendapatkan 100 kg saja Agus harus berebut dengan produsen lain.

Untuk menyiasati ia terpaksa memesan pasokan setiap minggu. Freezer pun dibuat dalam kapasitas besar untuk menampung kebutuhan bahan baku selama seminggu. “Kalau tidak begitu, belum tentu bisa mengolah setiap hari,” papar Daniel yang bermitra dengan 3—4 pemasok.

Standar mutu yang diinginkan produsen adalah kondisi segar, daging padat tidak lembek, sisik mengkilap, insang merah, dan mata merah. Ukuran disukai 2—5 ekor per kg-

Tingginya Permintaan Pasar

Tingginya serapan pasar bandeng diakui H Achmad Syarief, petambak di Desa Kedungpeluk, Kecamatan Candi, Sidoaijo. Menurutnya, setiap hari minimal 1 ton bandeng ditampung di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sidoarjo. Meski hanya untuk pasokan lokal, “Jumlah sebanyak itu tak pernah bersisa,” papar sekretaris Forum Komunikasi Masyarakat Tambak Sidoaijo.

Sebanyak 10 ton bandeng segar per hari yang masuk ke Pasar Ikan Sidoaijo habis terserap pasar. Bahkan, “Sebanyak 20 ton yang masuk saat panen raya pun tetap terjual habis,” ungkap Muhammad Muchlis, petambak di Sidoaijo. Maklum, puluhan pabrik di Surabaya dan Semarang membutuhkan banyak pasokan. Malah menurutnya, pabrik bandeng di Surabaya kerap mencari pasokan dari daerah lain seperti Lamongan, Gresik, dan Jepara untuk memenuhi kebutuhan.

Muchlis sendiri tak mampu memenuhi permintaan yang mencapai 5 ton/hari. Padahal, luas tambak yang dikelola pria 25 tahun itu mencapai 400 ha. “Saya hanya memanen maksimal 3 ton/hari,” paparnya.

Untung Yang Berlipat Dari Olahan Bandeng

Kalau bukan karena tergiur keuntungan, Muchlis tak mungkin berani membuka tambak dalam skala luas. “Kerugian belum pernah saya alami selama terjun di bandeng,” tuturnya. Malah, penerimaan dari tambak bisa mencapai 3.000% dari biaya benih. Dengan harga Rp6.000/kg, petambak sudah dapat menikmati keuntungan.

Dari 5 ha lahan, dapat ditebar 20.000 ekor. Dengan asumsi tingkat kematian 20%, dapat dipanen 16.000 ekor setara 3,2 ton dalam 9 bulan. Dengan harga jual Rp6.000/ kg diperoleh omzet Rp 19,2-juta. Sementara biaya produksi hanya sekitar Rp7,5-juta/ha. Artinya, keuntungan mencapai Rpl 1,7-juta.


Angka itu memang tak terbilang besar. Namun, “Petambak kebanyakan merasa untung dengan bandeng lantaran dipelihara polikultur,” ungkap Muchammad Murdjani, kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Di Sidoaijo, misalnya, ia menjadi usaha pelengkap dalam budidaya udang windu.

Sistem budidaya polikultur dipilih untuk mengefisienkan tambak. Dipilih windu lantaran ia berenang di perairan dalam, sedangkan bandeng di atas. Dengan cara itu, minimal biaya produksi windu ditalangi bandeng. Karena itu, harga jual murah bukan masalah. Bukti bahwa usaha bandeng diminati juga dari menjamurnya hatchery skala rumah tangga (HSRT) di berbagai tempat. Di Gondol, Bali, misalnya, kini ada sekitar 1.000 unit HSRT. Padahal sebelumnya hanya 7 unit.

“Mereka berbondong-bondong mencari telur ke sini. Seperti mau berobat,” ujar Murdjani. Harga nener yang meningkat menjadi Rp30/ekordari sebelumnya Rp 10—Rp 15 per ekot memang menggiurkan bagi pemilik hatchery.

Kualitas Ikan Bandeng Yang Menurun

Bisnis bandeng tak lepas dari kendala. Lihat saja sistem pemasarannya yang sangat bergantung kepada para pedagang. “Petambak tak punya akses menembus industri pengolahan,” ungkap Syarief. Akibatnya, harga sering dipermainkan.Apalagi pada April—Mei saat banyak petambak melakukan panen pertama. Saat itu, harga beli pedagang hanya Rp5.000— Rp6.000 per kg. Kalau saja mampu menembus pintu pabrik, harga bisa lebih baik. Sebab, harga beli pabrik di Semarang cukup stabil, Rp 10.000—Rp 12.000 per kg.

Kendala itu cukup merugikan petambak. Sebab, kenyataan di lapangan pertumbuhan bandeng semakin lambat, lantaran degradasi kualitas air tambak akibat limbah industri dan pemukiman. “Kini tak mungkin lagi memanen pertama 3—4 bulan setelah tebar nener,” keluh Achmad Syarief. Belum lagi kendala cuaca yang membuat kualitas air cepat menurun. “Musim hujan membuat salinitas dan suhu air menurun,” tutur Muchlis. Padahal, bandeng menyenangi air asin dan panas.

Muchammad Murdjani mengakui hal itu. Apalagi menurutnya, kualitas nener saat ini juga terus menurun. “Ia lebih rentan penyakit,” paparnya. Itu lantaran teijadi penurunan keragaman genetik induk akibat perkawinan sedarah {inbreeding). Mengatasi hal itu, pihak Balai kini mendatangkan 100 induk tangkapan alam dari perairan Masalembo, Sulawesi Selatan. Harapannya, kualitas nener menjadi lebih baik. Dampaknya, “Selain tahan penyakit, pertumbuhan ikan juga bisa lebih cepat.”

Post a Comment

0 Comments