Home / Tak Berkategori / Teknik Pemupukan Untuk Memperoleh Hasil Panen Yang Maximal

Teknik Pemupukan Untuk Memperoleh Hasil Panen Yang Maximal

Sekali-kali cobalah buka literatur klasik pertanian. Lalu cari rekomendasi pemupukan tanaman buah. Di sana biasanya tertulis, pemupukan dilakukan setahun 2 kali: menjelang penghujan dan menjelang kemarau. Kini, sebuah revolusi pemupukan dilakukan Budi Dharmawan, pekebun lengkeng di Semarang, la meningkatkan frekuensi pemupukan menjadi 24 kali setahun.

Teknik pemupukan yang diperkenalkan Budi tidak lazim. Biasanya, tanaman buah—tanaman tahunan—dipupuk dengan periodisasi panjang. Pupuk kandang diberikan setiap 6 bulan; NPK, 3 bulan. “Bila diberikan lebih cepat tidak akan optimal. Pupuk NPK bersifat slow release (lambat urai, red). Kecuali pupuk dilarutkan terlebih dahulu. Tapi itu sangat repot sekali,” kata Ir AF Margianasari, kepala Bagian Produksi Buah TamanWisata Mekarsari, Bogor.

Bagi sebagian orang, cara yang dilakukan Budi memang repot. Sebanyak 8.000 lengkeng itoh di lahan seluas 40 ha di kawasan Boja, Kendal, dibagi menjadi blok-blok berdasarkan umur penanaman. Pada tahun pertama setiap pohon mendapatkan 360 g pupuk NPK 21:21:21. Pemupukan dilakukan setiap 2 minggu. Artinya frekuensi pemupukan 24 kali dengan dosis 15 g per tanaman per aplikasi. Jadwal pun ditetapkan, pemupukan jatuh pada tanggal 5 dan 20 setiap bulan. Dosis pupuk tanaman berumur dua tahun, 30 g per pohon; umur 3 tahun, 60 g per pohon.

Pemupukan tahun pertama hingga tahun ketiga disebut pemupukan dasar. “Pupuk NPK diberikan seimbang karena tanaman masih dalam masa pertumbuhan,” ujar mantan perwira Angkatan Laut itu. Pada tahun keempat, tanaman memasuki fase dewasa alias siap dibungakan dan dibuahkan. Budi merangsang lengkeng dengan larutan berformula khusus. Setelah berbunga pascaperangsangan, pupuk dasar diberikan sesuai jadwal, ditambah NPK 10:30:30—yang disebut pupuk produksi.

Teknik Pemupukan

Pupuk produksi

Budi berasumsi tanaman dewasa— berumur di atas 5 tahun—sanggup memunculkan 100 kg lengkeng. Untuk memasok energi yang dibutuhkan saat pembentukan buah, dosis pupuk produksi sebanyak 1,2 kg. Total kebutuhan pupuk itu dibagi 6 aplikasi selama 3 bulan. Jadi, pupuk produksi diberikan 20 g per aplikasi.

Perlakuan berbeda setelah buah dipanen. Pascapanen tanaman mengalami stres. Makanya diberi pupuk pemulihan berupa pupuk kandang yang telah difermentasi. Dosis pupuk bervariasi 1—2 karung setara 20—50 kg, tergantung kondisi tanaman. Tanaman yang terlihat lebih stres membutuhkan dosis lebih banyak.

Menurut Budi, sepintas cara superintensif itu merepotkan. “Kelihatannya berbiaya tinggi karena butuh tenaga kerja banyak. Namun, bila dikelola secara komersial malah menguntungkan,” katanya.

Pupuk diberikan dengan cara dibenamkan pada lajur lingkaran sedalam 10—15 cm. Lajur berjarak sekitar Vi m dari tajuk terluar. Pada posisi itulah akar serabut aktif menyerap hara. Setelah pupuk dibenamkan, daerah di bawah tajuk disiram. Tujuannya agar pupuk yang diberikan terlarut dalam tanah. “Tanaman menyerap pupuk dalam bentuk terlarut, bukan gumpalan atau kristal,” kata Dr Dedik Budianta, pakar ilmu kesuburan tanah dari Universitas Sriwijaya, Palembang.

Menurut Budi pemupukan superintensif yang dilakukannya berpengaruh secara signifikan memperbaiki kondisi tanaman. Sebagai gambaran, tanaman berumur 1—2 tahun sudah bisa dirangsang berbunga dan berbuah. Kondisinya pun sehat. Padahal,tanaman berumur muda yang dipaksa berbuah kerap merana pertumbuhannya.

Untung-rugi

Pemupukan superintensif ala Budi, fenomena baru buat Sobir PhD. “Jarang pekebun yang mau melakukan karena cara itu dianggap pemborosan,” ujar Kepala Pusat Kajian Buah Tropis IPB. Menurut Sobir, pemupukan frekuensi tinggi punya keuntungan dan kerugian.

Jika pupuk diberikan dengan cara benar dan bisa langsung diserap tanaman, pemupukan superintensif menguntungkan karena efisien. Namun, bila dikocorkan ke tanah, pupuk akan banyak terbuang, sehingga biaya jadi tinggi.

Kerugian lain, inefisiensi pupuk bila dosis diberikan pukul rata. “Setiap fase tanaman membutuhkan pupuk dan dosis yang berbeda,” tutur Sobir. Secara garis besar Sobir menyebut 3 fase pertumbuhan lengkeng: vegetatif, pembungaan, dan pembuahan.

Masa vegetatif berkisar 4 bulan, pembungaan 1—2 bulan, dan pembuahan 6—8 bulan. Pada masa vegetatif pupuk yang diberikan berkadar nitrogen tinggi agar pertumbuhan daun maksimal. Pada fase pembungaan, komposisi diubah menjadi pupuk berkadar fosfor tinggi agar bunga terbentuk dengan baik.

Pada fase terakhir—pembuahan— giliran kalium tinggi yang diberikan. Itu agar kualitas buah optimal. “Tinggal dilihat masa setiap periode. Misal pada masa vegetatif pupuk dibagi 2 menjadi setiap 2 bulan. Masa pembungaan sekali, masa pembuahan sekali karena saat buah matang sudah tak efektif,” tuturnya. Dengan asumsi di atas, pemupukan paling intensif pada tanaman buah ialah 3—4 kali setahun tergantung kebutuhan (lihat ilustrasi).

Diagram pemupukan selama setahun

Musim

Dosis pemupukan pada musim penghujan dan kemarau berbeda. “Bila dosis sama, pada musim kemarau tanaman bisa mati karena air dalam jaringan tanaman—melalui akar—malah tersedot keluar jaringan. Bukannya pupuk diserap tanaman, malah sebaliknya,” tutur Sobir.

Sementara pada musim penghujan, dosis pupuk mesti lebih banyak. Curah hujan tinggi menyebabkan pupuk gampang tercuci jauh ke lapisan tanah bagian bawah yang tak terjangkau akar. “Strateginya, selain dosis diperbanyak, frekuensi ditingkatkan. Misal, pada masa vegetatif yang berlangsung 4 bulan diaplikasikan 2—3 kali,” kata Sobir.

Berbagai pertimbangan pemupukan seperti itu tak diabaikan Budi. Dosis pemupukan pada kemarau dan hujan sama semata-mata supaya lebih mudah diterapkan. Agar konsentrasi pupuk di musim kemarau tak berlebih, dilakukan penyiraman. Makanya di tengah kebun ada danau buatan untuk menjamin ketersediaan air untuk mendukung pemupukan superintensif.

About adi

error: Content is protected !!