Untung Berlipat Dari Sistim Pengolahan Singkong Sebagai Bahan Baku Bioetanol

Alexander Wattimena ingin segera mengolah singkong menjadi bioetanol penghasil rupiah. Namun, 21 kg limbah padat dan 28 kg limbah cair yang didapat dari produksi 10 liter bioetanol per hari menyurutkan langkahnya. "Mau dibuang ke mana limbah sebanyak itu?" tutur Wattimena.

Pantas jebolan Akademi Maritim Indonesia itu kelabakan. Mustahil ia menimbun limbah di halaman
rumah. Tempat tinggalnya di Jakarta Pusat berimpitan dengan tembok tetangga. Bila limbah sisa fermentasi itu ditumpuk di kediaman, bau busuk yang menguar siap mengancam kenyamanan hidup warga pemukiman sekitarnya.

Nun di Cicurug, Sukabumi, meski memproduksi 60—100 liter bioetanol berbahan singkong setiap hari, Soekaeni SE tak kebingungan. Sebanyak 3.150 kg limbah padat dan 4.200 kg limbah cair per bulan diolah menjadi bahan campuran pupuk dan pakan ternak. Selain mengatasi polusi, Soekaeni juga mendulang tambahan rupiah dari pupuk dan pakan ternak berbahan limbah.
Bioetanol
Singkong bahan baku bioetanol

Sebagai Bakteri Pengurai

Limbah cair dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan pupuk organik. “Karena berasal dari biomasa, limbah bioetanol mengandung bahan organik yang dibutuhkan tanaman,” ujar mantan karyawan PT Telkom itu. Itu dibenarkan oleh Dr Ir Muhammad Arif Yudiarto M.Eng, peneliti di Balai Besar Teknologi Pati, Lampung. “Limbah bioetanol, baik padat maupun cair, mengandung unsur makro dan mikro yang diperlukan tanaman,” ujarnya. Jangan terkejut, umbi singkong memang “celengan” nutrisi dari tanamannya.

Untuk membuat pupuk, 4 liter limbah cair dicampur dengan 1 liter larutan mineral,1    kg ampas tebu yang sudah menjadi abu, dan 2 sak alias 100 kg pupuk kandang. Pupuk kandang asal kotoran ternak adalah sumber nitrogen, unsur makro yang paling dibutuhkan tanaman. Limbah bioetanol yang mengandung enzim alfa-amilase berperan mengurai protein dalam kotoran ternak menjadi zat organik yang bisa diserap tanaman. Untuk memperkaya hara, ditambahkan larutan mineral terdiri dari unsur mikro seperti magnesium, besi, mangan, dan boron. (Chlorella sp Sebagai Alternatif Bahan Bakar Biopremium)

Sedangkan abu ampas tebu mengandung karbon aktif penghambat pertumbuhan cendawan yang kerap menyerang akar tanaman. “Karbon aktif menyerap aflatoksin yang dihasilkan cendawan sehingga cendawan tidak berkembang,” ujar Yos Sutiyoso, pakar nutrisi tumbuhan di Jakarta. Seluruh bahan itu lantas diaduk sampai rata dengan pengaduk berkekuatan 2  PK alias 1500 watt. Dengan itu, semua bahan tercampur sempurna sehingga bisa langsung ditaburkan di lahan.

Bisa juga diaduk sendiri di lahan oleh petani. “Sebaiknya didiamkan semalam dan ditutup plastik agar enzim bekerja sempurna,” kata Efendi, koordinator bagian pupuk di tempat Soekaeni. Namun, menurutnya cara itu tidak perlu dilakukan kalau diaduk dengan mesin karena sudah merata, tidak seperti pengadukan dengan tenaga manusia.
Bioetanol
Seliter bioetanol, sisakan 4 kg limbah

Kaya karbohidrat

Pengaruh pupuk organik dengan campuran limbah singkong ala Soekaeni dirasakan Made Satria di Cianjur. Pembina kelompok tani beranggota 330 orang itu menggunakannya sejak September 2007 pada penanaman kara pedang. Dibanding Canavalia ensiformis yang hanya dipupuk dengan pupuk kandang biasa, produktivitas kacang kara pedang Made Satria lebih tinggi. Setiap tanaman menghasilkan 10—15 polong, dengan pupuk kandang saja, 5 polong.

Manfaat lain jika pupuk itu dipakai pada penanaman bunga potong dan jagung. Jagung yang ditanam di lahan 2 ha maksimal hanya 1% yang terserang cendawan akar rigidoporus dan sclerotium. “Padahal biasanya serangan cendawan akar jagung mencapai 20%,” ujar pria 58 tahun itu. Pada bunga potong, pertumbuhan krisan dan sedap malam lebih cepat 15—20%. Pemakaian pupuk limbah bioetanol pun hemat, hanya 10% dosis pupuk kandang murni.

Sementara limbah padat bioetanol dicampur dengan bekatul dan pupuk kandang digunakan sebagai pakan ternak sapi. Hasil penelitian di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, limbah padat kaya kandungan karbohidrat, glukosa, dan serat. Total kalori yang dihasilkan lebih tinggi dibanding onggok—ampas tapioka, yang sama-sama dihasilkan dari singkong—dan bungkil kedelai. “Ragi untuk fermentasi kaya protein. Fermentasi juga membuat protein singkong lebih mudah diubah menjadi daging,” tutur Arif Yudiarto. Makanya total kalorinya lebih tinggi.

Maklum, meski pakan utamanya hijauan, asupan karbohidrat dan glukosa pada sapi membuat pertambahan bobot lebih cepat. Itu lantaran keduanya lebih mudah dikonversi menjadi daging ketimbang selulosa—kandungan utama pakan hijauan. Makanya begitu pakan mengandung limbah padat bioetanol diberikan pada 3 sapi peranakan ongole, bobotnya naik 10% dari 240 kg. Tak melulu sapi, limbah padat bioetanol bisa menjadi alternatif konsentrat buatan pabrik untuk kerbau, kambing, dan ayam. Andai Wattimena bisa mengolah limbah menjadi pupuk dan pakan ternak, ia tak bakal kebingungan.

Post a Comment

0 Comments