Varian Alpukat Dari 3 Kota Di tanah Air Yang Sering Dibudidayakan

Alpukat milik dede rustandi itu sangat lebat. dompolan buah bergelayutan di antara rimbun dedaunan. begitu buah dibelah terlihat biji berbalut daging buah berwarna kuning menggugah selera. rasanya agak manis dan gurih seperti mentega. teksturnya lembut nyaris tanpa serat. pantas, alpukat asal desa karangpawitan, kecamatan karangpawitan, garut, jawa barat, itu jadi andalan kota intan.

Dede menanam 5 pohon alpukat Persea americana di halaman rumah. Kelima pohon itu keturunan pohon induk yang ditanam kakeknya pada zaman Belanda. Sayang, 10 tahun silam pohon induk yang dikenal dengan sebutan comson itu mati. Beruntung pada 1985 Dede sempat memperbanyak alpukat comson dari biji. Tanaman yang berbuah lebat dan lezat diberi nama Alpukat sindangreret.

Dulu comson populer karena rasanya istimewa. Buahnya juga sangat lebat. Sifat unggul itu menitis pada sindangreret. Dari pohon berumur 25 tahun, Dede memanen 500 kg alpukat/pohon/tahun. Produktivitas itu setara dengan varietas pesako asal Kotabaru, Jambi, yang dilepas sebagai buah unggul nasional pada 2007. Produktivitasnya mencapai 300-700 kg/pohon/tahun. Bedanya ukuran sindangreret lebih kecil, bobotnya 400-500 g/buah, pesako 600-700 g/buah. “Jumlah yang dipanen jauh lebih banyak ketimbang pesako,” kata Ir Wawan Suwandi, dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat.
Budidaya Alpukat
Alpukat sindangreret, kecil tapi berdaging tebal dan berasa manis. Di pasar swalayan harganya Rpi2.000/kg

Daging Buah Yang Lebih Tebal

Meski berbuah kecil, daging buah sindangreret tebal hingga 3,5-4 cm. Itu karena ukuran biji mungil, hanya berdiameter 4-4,5 cm dan panjang 5-5,5 cm. Beda dengan pesako yang berukuran lebih besar, tapi daging buah tipis hanya 2-2,5 cm. Biji pesako lebih besar. Diameter 5-6 cm dan panjang 5-7 cm.

Sejak dulu alpukat milik Dede itu disukai pedagang buah karena laris-manis di pasaran. Namun, ketika itu ia populer dengan sebutan alpukat mentega karena rasanya gurih dan daging buah kuning mirip mentega. Hasil panen sebanyak 2,5 ton dari 5 pohon berumur 25 tahun selalu tandas. Padahal, harga di tingkat konsumen mencapai Rp 8.000/kg. “Di pasar swalayan harganya Rp l2.000/kg,” ujar Dede. Harga itu jauh lebih mahal ketimbang harga alpukat biasa yang hanya Rp 6.000/kg.

Belakangan pada 2000 para penangkar buah berbondong-bondong memperbanyak. Dari para penangkar, alpukat asal Karangpawitan itu menyebar ke seantero Garut la banyak ditanam di daerah berketinggian 50-850 m dpi. "Sindangreret diperkirakan sudah menyebar ke 42 kecamatan di Kabupaten Garut,” kata Wawan.

Hingga 2008, populasi alpukat di Kabupaten Garut mencapai 457.275 pohon. Sayang, dari jumlah itu tidak terlacak jumlah tanaman hasil perbanyakan vegetatif sindangreret. Maklum, sebagian warga memperbanyak dari biji sehingga kualitas buah beragam. “Tanaman yang diperbanyak dengan biji biasanya menyimpang dari sifat induk," kata Drs Jawal Anwarudin Syah MS, ahli buah di Pasarminggu, Jakarta Selatan.

Terlebih saat ini banyak warga Garut yang menanam varietas lain dari luar daerah. Karena itu Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut dan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, menelusuri pohon induk unggul dari ratusan varian yang dimiliki warga. “Dengan begitu, pengembangan alpukat di Kabupaten Garut di masa mendatang menjadi seragam,” tutur Wawan.
Budidaya Alpukat
Varian lain alpukat jumbo asal Hawaii yang berbentuk bulat di kebun Prakoso Heryono di Demak, Jawa Tengah

Alpukat Tanggamus

Bila sindangreret menjadi andalan Kabupaten Garut, maka Kabupaten Pringsewu, Lampung, punya alpukat andalan yang diberi nama pringsewu. Alpukat milik Cahyo Widodo itu bentuk buahnya mirip sindangreret yakni bulat lonjong. Bedanya berukuran lebih besar. Bobotnya bisa mencapai 700 g per buah. Rasanya legit dan nyaris tanpa pahit. Daging buah berwarna kuning mentega dengan gradasi hijau muda di bagian tepi. Ketebalan daging 2,5 cm.

Lantaran kualitas buah yang istimewa, alpukat pringsewu kini tengah digadang-gadang sebagai salah satu varietas unggul nasional. “Dengan begitu diharapkan makin mengukuhkan Lampung sebagai salah satu sentra alpukat di tanahair," ujar Emmyati Oesman dari Badan Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Provinsi Lampung. Berdasarkan data Departemen Pertanian, pada 2008 produksi alpukat Lampung mencapai 12.951 ton per tahun. Lampung sentra keenam terbesar setelah Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.

Varietas unggul baru tak hanya bermunculan dari berbagai daerah. Para penangkar buah juga mendatangkan varietas baru. Contohnya varietas yang diboyong Prakoso Heryono, penangkar buah di Demak, Jawa Tengah, dari Hawaii, Amerika Serikat. Ciri khas imigran dari negara yang dikenal dengan pantai nan indah itu adalah berukuran jumbo. Bobotnya 0,7-1,2 kg per buah. Bentuk buah lonjong dan berpinggang.

Meski bersosok ramping, porsi daging buah yang dapat dikonsumsi cukup banyak. Daging buah terbanyak terdapat pada bagian pinggang. Ketebalan daging pada bagian yang membulat juga cukup tebal yakni 2-2,5 cm.

Prakoso menanamnya di Boja, Kendal, Jawa Tengah, pada 2002. Pada umur 4 tahun anggota famili Lauraceae itu mulai belajar berbuah. Pada panen perdana, prakoso memperoleh 15 buah Panen berikutnya minimal 25 buah. Alpukat berbentuk lonjong itu merupakan hasil persilangan alpukat jumbo yang juga didatangkan Prakoso dari Hawaii yang berbentuk bulat (baca: )
Budidaya Alpukat
Keunggulan lain alpukat sindangreret berbuah lebat, hingga 500 kg/pohon/tahun. Setara dengan alpukat pesako asal Jambi

Harga Jual Disesuaikan pasar

Kehadiran alpukat unggul di berbagai daerah menjadi kabar baik bagi pengembangan alpukat di tanahair. Maklum, alpukat memiliki potensi ekspor yang menjanjikan. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), Indonesia pernah mengekspor 169.049 kg alpukat pada 2003. Namun, pada 2004-2006 volume ekspor merosot tajam hingga 4.104-5.416 kg per tahun.

Menurut Dr M Reza Tirtawinata MS, ahli buah di Bogor, Jawa Barat, penurunan jumlah ekspor itu lantaran eksportir tak mampu mempertahankan kualitas buah. Jawal menuturkan alpukat yang diminta pasar dunia berbeda-beda tergantung negara. Yang terpenting setiap sifat harus seragam. Misalnya ukuran buah sedang, rasanya gurih, dan berwarna kuning muda. Pelepasan varietas unggul menjadi penanda karakteristik alpukat dari berbagai daerah. Dengan begitu eksportir bisa memilih jenis alpukat yang diinginkan pasar mancanegara.

Contohnya negara-negara di Eropa. Mereka menyukai alpukat berdaging tipis dan berbiji besar. Di sana alpukat digunakan sebagai gamis alias aksesori dalam menyajikan hidangan. Cekungan bekas biji menjadi wadah hidangan pembuka. Berbeda dengan konsumen di tanahair yang mengkonsumsi alpukat segar. Konsumen menghendaki daging buah tebal dan berasa enak. Jadi, dari 12 varietas unggul yang telah dilepas, silakan pilih yang dikehendaki pasar.

Cekungan bekas biji menjadi wadah hidangan pembuka. Berbeda dengan konsumen di tanahair yang mengkonsumsi alpukat segar. Konsumen menghendaki daging buah tebal dan berasa enak. Jadi, dari 12 varietas unggul yang telah dilepas, silakan pilih yang dikehendaki pasar.

Post a Comment

0 Comments