Bambu Rezeki Sebagai Hiasan Untuk Memperindah Ruangan

Bagi sebagian perempuan, spiral alternatif terbaik untuk mencegah kehamilan. Namun buat Ukar, spiral berarti duit. Dengan membuat bambu rejeki berbentuk spiral, pria kelahiran Sukabumi itu menjual Dracaena sanderiana sampai ke Amerika Serikat.

Kreasi ketua Paguyuban Pengrajin Suji Sukabumi memang sangat unik. Dari kejauhan, rangkaian dracaena berbatang meliuk-liuk itu seperti pohon cemara. Begitu didekati, spiral itu terlihat bak sekelompok ular kobra India sedang menari ketika mendengar irama seruling. Penampilannya kian menarik di atas pot keramik khas Cina.

Ayah 4 anak itu juga membuat kreasi lain yang tak kalah indah. Bentuk guci salah satunya. Diberi nama guci memang karena bentuknya seperti tempat air yang gendut di bagian perut itu. Guci kelihatan padat karena terdiri dari banyak batang yang tersusun dalam 2 lapis. Bagian luar dan dalam saling bersilangan, sehingga kelihatan kompak dan saling menguatkan. Supaya terlihat cantik, daun di setiap ruas tidak dipangkas. Bentuknya jadi seperti tanaman yang dipotkan di guci antik.
Dracaena sanderiana

Bambu Rezeki Dlm Beragam bentuk

Bentuk lainnya adalah lampion. Sesuai dengan namanya, bentuknya memang seperti lentera kertas khas Tiongkok. Bagian bawah kecil, menggembung di tengah, dan mengecil lagi pada bagian atas. Walaupun warnanya hijau-lampion lazimnya merah, tapi bentuk ini sangat mempesona. Kreasi lampion mini banyak diminati oleh konsumen di Eropa dan Kanada.

Model seperti air mancur, kepangan, kendi, sangkar, gurali, dan kempis juga tak kalah indahnya. Maklum, konsumen mudah bosan sehingga Ukar mesti rajin-rajin menciptakan bentuk-bentuk unik dan menarik. Ide membuat aneka bentuk itu datang secara kebetulan. Contohnya, pembuatan model spiral terinspirasi dari sifat tanaman yang selalu tumbuh ke atas. Dengan memutar batang 60-70° setiap 3-4 minggu, spiral pun terbentuk.


Ide bentuk guci didapat pria kelahiran Sukabumi itu ketika sedang melancong ke Plered, Bandung. Daerah itu adalah sentra pembuatan dan penjualan keramik. Ketika melihat guci, dia langsung terpesona dengan bentuknya yang indah. Setelah menuangkan ide dalam coretan-coretan di kertas, akhirnya pria 50 tahun ini mendapatkan cara tepat membuat bentuk guci.

Lain halnya dengan lampion, idenya diperoleh ketika berjalan-jalan ke kelenteng. Ukar melihat keindahan lampu kertas berwarna merah menghias rumah ibadah itu. Dari situ terbesit ide membuat bentuk lampion dari bambu rejeki. Ternyata kreasi itu digemari konsumen dari negara-negara Asia.

Bambu Rezeki Sebagai Simbol keberuntungan

Pantas jika bambu rejeki banyak diminati. Lucky bamboo tanaman indoor sangat populer, karena tahan berada lama dalam ruangan. Anggota keluarga Agavaceae itu memiliki pertumbuhan batang tunggal dan tegak. Di Jepang dracaena digunakan untuk ikebana (rangkaian bunga khas Jepang, red). Di Cina ia simbol keberuntungan. Di Indonesia bambu rejeki mulai digemari sejak 8 tahun silam untuk memperindah pemandangan dalam ruangan.

Kreasi bambu rejeki yang pertama dibuat dan populer adalah pagoda. Seiring dengan bergulirnya waktu, muncul beragam variasi bentuk. Spiral, guci, dan lampion bentuk yang sedang diminati sekarang. Gara-gara bentuk itu pula bisnis Ukar sampai ke mancanegara.

Bagi Ukar bambu rejeki betul-betul pembawa rejeki. Bentuk spiral, setinggi 80-100 cm dijual Rp5.000/batang atau total Rp75.000/pot. Harga itu sudah mengalami penurunan jika dibandingkan saat pertama kali diperkenalkan 6 tahun silam yang mencapai Rp 12.000 per batang. Penurunan harga karena bahan baku semakin mudah didapatkan.

Dracaena sanderiana berbentuk guci dijual seharga Rp 70.000 per pot dengan tinggi 70 cm. Sangkar hijau dengan tinggi 70 cm, Rp 26.000/pot; bentuk gurali setinggi 40 cm, Rp l8.000/pot. Spiral satu-satunya bentuk yang dijual dengan harga per batang. Sebab untuk membuatnya butuh waktu 6-8 bulan. Selain itu bentuknya unik, jadi wajar saja bila harganya mahal. Dengan beragam kreasi, bambu rejeki Ukar pun melanglang hingga Korea, Dubai, Timur Tengah, Amerika Serikat, dan Kanada.

Post a Comment

0 Comments