Bulai Cabai, Penyakit Bawaan Benih Yang Hanya Menyerang Tanaman Cabai

Sudah setahun penyakit bulai cabai dilaporkan kehadirannya. Namun, hingga kini serangannya belum teratasi. Malah, makin meluas ke berbagai sentra. Kalau tidak segera ditangani, pasar bakal mengalami kekosongan pasokan. Dalam 2 - 3 bulan ke depan, harga bakal melonjak. Kalau sudah begini, siapa yang bertanggungjawab?

beberapa daerah saya melihat, petani mulai “lempar handuk”. Banyak yang beralih ke tanaman lain. Contoh di Muntilan, Kabupaten Magelang, petani cabai mulai melirik tomat dan kol dataran rendah. Kalau pun masih ada penanaman, paling tak seluas biasanya. Di Lampung Barat kabarnya malah hampir tak ada lagi penanaman baru. Mereka kapok menanam cabai.

Pasalnya, serangan sulit dibendung. Penyemprotan pestisida untuk menghambat serangan tak membawa hasil. Upaya penanaman di lahan baru pun tak banyak membantu. Buktinya, tanaman tetap mengalami serangan dalam 2 - 3 minggu kemudian. Akibatnya, petani kehilangan modal produksi.

Di Jawa Timur yang semula aman-aman saja, kini juga mulai tampak adanya serangan. Di antaranya di Kediri dan Blitar. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, wilayah itu juga bakal mengalami nasib sama.
penyakit bulai cabai
penyakit bulai cabai

Penyakit berasal dari benih?

Untuk mengatasi hal itu, pemerintah dan para ahli terkait harus melakukan penelitian serius. Sebab, sampai saat ini belum jelas penyebab penyakitnya. Dari gejala serangan, jelas itu akibat serangan virus. Semula muncul bercak kuning pada permukaan daun, lalu meluas ke seluruh permukaan hingga daun menjadi kerdil dan mudah patah. Hanya saja jenis virus belum diketahui. Apakah itu jenis virus baru, atau virus lama yang sebelumnya menyerang tanaman lain.

Sementara ini banyak orang menuding virus gemini pada tomat yang hingga saat ini pun belum teratasi sebagai biang keladi. Namun di lapangan, tomat yang ditanam setelah cabai ternyata tidak terserang. ( Baca : Virus Dan Hama Penyakit pada Tanaman Cabai )

Logikanya, kalau virus sejenis yang menyerang, berarti penanaman tomat pun gagal. Bukti lain, tanaman cabai di daerah baru pun ikut juga terserang. Artinya, virus memang spesifik menyerang tanaman cabai.

Melihat hal itu saya menduga penyakit ini justru bawaan benih (seedborn disease). Jadi di mana pun benih ditanam, pasti akan terserang penyakit. Sebab, kalau itu virus lama, berarti harus ada vektor yang menyebarkannya. Padahal, tanaman sudah terserang sejak usia dini, saat serangga vektor belum menyerang.

Itu pula sebabnya sehingga aplikasi pestisida untuk menghambat serangan tak menyelesaikan masalah. Namun, benih mana yang mengandung virus, itu yang harus dilacak lebih detil. Dugaan saya, biang keladinya salah satu varietas cabai keriting eks impor. Sebab, kasus serangan terbanyak muncul di sentra-sentra penanaman varietas itu. Kasus yang menyerang varietas lain kurang. Itu pun karena ditanam di daerah endemik. Hanya saja perlu penelitian serius sebelum menjatuhkan vonis.
serangan virus pada tanaman cabai

Tanaman Cabai Masih mempunyai prospek

Akibat serangan virus baru itu, stagnasi produksi jelas bakal terjadi. Sebab, sejak beberapa bulan terakhir produsen dan distributor benih mengalami penurunan penjualan hingga 50%. Artinya, luas penanaman pun berkurang separuh. Akibat itu pula sehingga omzet penjualan pestisida ikut merosot. Itu pasti, sebab dengan matinya tanaman di usia dini volume dan frekuensi penyemprotan pun menurun.

Menurunnya luas penanaman jelas membuka peluang. Namun, penanaman sebaiknya dilakukan di daerah baru. Hebatnya serangan di wilayah Muntilan dan Lampung Barat juga disebabkan penanaman berulang-ulang di satu areal. Di daerah baru pun sebaiknya dilakukan pergiliran varietas untuk meminimalkan kegagalan. Kalau perlu, coba pikirkan penggunaan varietas lokal. Lihat saja di Brebes (Jawa Tengah) dan Rejanglebong (Bengkulu), kasus serangan tergolong rendah karena petani banyak menggunakan varietas lokal.

Jika berhasil, petani bakal menikmati harga tinggi. Bukan tidak mungkin dalam 2—3 bulan mendatang harga cabai menembus angka Rp10.000/kg akibat kurangnya pasokan. Berarti, dengan produksi 50% saja dari kondisi normal, petani masih bisa menikmati keuntungan. Jika produksi per hektar hanya 10 ton saja, berarti petani bisa memperoleh omzet Rp100-juta.

Penanaman cabai pot dalam skala komersial barangkali bisa pula dipertimbangkan. Perlu ada produsen atau lembaga yang melakukan sosialisasi. Sebab, menanam di polibag berarti mengubah kebiasaan. Lagipula, analisis ekonominya perlu dikaji terlebih dahulu sebelum kegiatan itu dilakukan. Yang pasti, cabai masih layak untuk diusahakan

0 komentar