Cara Efektif Membasmi Lalat Buah Dan Serangga Penggangu

Serangan lalat Buah Pernah terjadi di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Pekebun markisa di sana nyaris gagal panen gara-gara serangan lalat buah Bactrocera tau. Buah yang dipanen dari lahan seluas lebih dari 50 ha rusak 15—25%.

Lalat buah memang hantu menakutkan bagi pekebun hortikultura di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Daya rusaknya bisa mencapai 100% bila tak diatasi. Itu yang dialami pekebun di Malaysia jika pentil buah belimbing dan jambu air tidak dibungkus. Jenis lalat buah spesifik menyerang buah tertentu. Contohnya, Bactrocera carambolae, biasa menyerang belimbing, jambu air, mangga, dan sawo. Semangka, melon, mentimun, dan tanaman dari famili Cucurbitae dirusak oleh B. cucurbitae. Lain halnya dengan B. umbrosa yang menyerang nangka dan beberapa tanaman dari famili Moraceae. Sedangkan B. tau dan B. albistrigatra masing-masing merusak markisa dan jambu biji.
Bactrocera tau
Bactrocera tau merusak buah markisa

Metode efektif

Sifat khas hama itu adalah meletakkan telurnya di dalam buah. Itu ditandai dengan adanya titik kecil hitam yang tidak terlalu jelas. Noda-noda kecil bekas tusukan ovipositor itu merupakan gejala awal serangan lalat buah. Telur yang menetas menghasilkan larva. Selanjutnya larva akan merusak daging buah sehingga buah busuk dan gugur sebelum masak. Meski jenis lalat yang menyerang masing-masing buah berbeda tapi ada cara penanganan paling efektif. Yaitu, membungkus buah dengan kertas atau plastik.

Pembungkusan sebaiknya dilakukan sedini mungkin—sejak buah pentil atau muda—untuk mendapatkan hasil optimal. Meskipun paling efektif tapi cara ini memiliki kelemahan. Butuh biaya besar dalam pelaksanannya. Pekebun belimbing di Depok, Jawa Barat, mengeluarkan biaya Rpl.400.000/musim untuk membungkus buah. ( Baca : Teknik Pembungkusan Buah Untuk Menghindari Ulat Buah Dan Hama Penggangu )

Alternatif lain menggunakan seks feromon. Bahan pemikat itu biasanya diletakkan dalam perangkap botol plastik atau tabung silinder. Lalat buah dipancing masuk dengan menggunakan metyl eugenol. Di dasar botol perangkap diisi air sehingga lalat buah akan mati tenggelam. Kekurangannya, umpan metyl eugenol hanya menarik lalat jantan. Lalat betina masih bebas berkeliaran.

Ditekan perlahan

Lalat buah juga dapat dikendalikan dengan menggunakan serangga jantan madui. Secara teori cara ini cukup ampuh karena populasi lalat di alam secara perlahan ditekan. Itu lantaran telur yang dihasilkan dari perkawinan lalat jantan mandul dengan lalat betina menjadi steril. Saat berumur 1— 2 bulan, lalat betina dan jantan mandul yang dilepas mati dengan sendirinya.

Cara lain dengan memanfaatkan musuh alami, baik predator, parasitoid, maupun patogen. Predator yang cocok adalah bangsa laba-laba, kumbang carabid dan staphilinid, serta beberapa jenis semut. Jenis parasitoid Braconidae, Calcidae dan Eulophidae menyerang lalat buah stadia pradewasa. Sedangkan dari kelompok patogen ada Beuveria bassiana.

Pestisida atau senyawa kimia dengan efek residu rendah masih banyak digunakan. Sayang, penyemprotan dengan insektisida sering tidak tepat sasaran, mengingat sifat lalat buah yang selalu bergerak.

Protein bait

pencampuran protein hidrolisat yang merupakan makanan lalat buah dengan insektisida—juga dapat digunakan. Namun, cara ini belum populer dilakukan di Indonesia. Daya jangkau tidak terlampau luas, tapi daya bunuhnya tinggi. Jika lalat buah mengkonsumsinya, bisa dipastikan langsung Mati

Post a Comment

0 Comments