Home / Tak Berkategori / Cara Memancing Burung Walet Agar Mau Bersarang Menggunakan Lampu 5 Watt

Cara Memancing Burung Walet Agar Mau Bersarang Menggunakan Lampu 5 Watt

Selama 3 tahun—dari 1999 sampai 2002— hanya lantai paling atas resting room yang ditinggali walet. Kondisi lantai teratas memang berbeda daripada lantai lain. Di sana cahaya matahari yang masuk melalui lubang keluar-masuk burung—berukuran 1 m x 1 m—cukup membuat ruangan lebih terang. Karena terang, walet mudah menyusuri ruangan itu. Lantai lain gelap gulita. “Sebenarnya antarlantai diberi void berdiameter 30 cm yang dibuat lurus dari lantai 4 sampai lantai dasar, cukup menerangi ruangan di masing-masing lantai,” ujar Halim, pemilik rumah walet.

Ketika Halim berkonsultasi dengan ahli walet di Jakarta Barat. “Konsultan itu menganjurkan untuk memasang lampu di tiap void sebagai sumber cahaya tambahan,” ujar mantan pengusaha baju anak-anak itu. Walhasil, setelah dicoba dalam waktu 2—3 hari walet mulai tertarik masuk sampai ke lantai dasar. Populasi pun bertambah lantaran walet lain kebandrang jejak walet lama yang sudah mendiami lantai atas.

sarang walet
Ruang temaram disukai walet untuk bersarang

Rumah baru

Sejatinya Collocalia fuciphaga menyukai tempat gelap. Namun, cahaya dibutuhkan untuk menuntunnya ke setiap lantai guna mencari lokasi nyaman. “Penggunaan lampu efektif terutama pada rumah baru yang cahayanya tidak tembus sampai ke lantai dasar,” ucap Ir Lazuardi Normansah, perancang teknik pencahayaan di Jakarta Barat.

Menurut Lazuardi banyak kasus rumah walet yang populasinya tidak merata. Walet hanya menempati sudut atau ruangan tertentu, sementara ruangan lain kosong. Itu pula yang terjadi pada rumah waletnya di Jasinga, Bogor. Pada 1999 rumah walet berukuran 6 m x 12 m setinggi 3,5 lantai itu dihuni sekitar 125 ekor atau sebanyak 50 sarang. Namun, meraka hanya berkumpul di sudut bagian kanan/kiri lantai teratas. “Setelah 3 bulan dipasang lampu, sarang ditemukan di setiap lantai. Totalnya ada sekitar 100 sarang,” papar Lazuardi.

Kehadiran lampu bukan berarti kondisi ruangan menjadi terang-benderang. Dengan lampu berkekuatan 5 watt, hanya sekadar membuat ruangan temaram. Apalagi bohlam dimasukkan ke dalam kotak tripleks 10 cm x 10 cm x 15 cm yang hanya dilubangi bagian bawah sebesar koin Rp500. “Selain cahaya tidak menyebar, juga tidak menyilaukan walet,” kata Lazuardi.

Banyaknya lampu yang dipasang bergantung pada ukuran rumah dan bentuk void. Lazuardi mencontohkan, untuk rumah ukuran 6 m x 12 m dan void selang-seling cukup dipasang sebuah lampu 5 watt di setiap lantai. Lampu dipasang pada sisi dalam void di salah satu pojok. Berbeda dengan rumah besar berukuran 8 m x 20 m. Lampu dipasang di kanan dan kiri tembok pada setiap lantai. “Bila ruangan masih gelap bisa saja ditambah sebuah lampu di salah satu void,” ujar kelahiran Selat Panjang, Riau, itu.

Rumah bervoid lurus hanya memakai sebuah lampu di lantai dasar. Posisinya menghadap ke dinding sehingga cahaya dapat memantul ke tiap lantai. Namun, agar sampai ke lantai atas kekuatan lampu perlu ditambah 2—4 kali lipat, sekitar 10— 20 watt.

Lampu hanya dinyalakan pukul 14.00—20.00 WIB. Saat itu walet keluar-masuk rumah. Di atas pukul 20.00 lampu dimatikan karena walet menyukai kondisi gelap saat bersarang dan kawin. “Lampu tak dipakai lagi setelah jumlah sarang mencapai ratusan dan menyebar rata di setiap ruangan,” kata Lazuardi. Misalnya rumah berukuran 6 m x 12 m penggunaan lampu hingga jumlah sarang 100 keping; rumah yang lebih besar sesuai kelipatannya.

Lampu diletakkan pada setiap void

Suhu naik

Teknik pencahayaan dalam rumah walet memang bukan sesuatu yang baru. Sejak 1995 cara itu sudah dipakai para pengusaha walet di Pulau Sumatera. Rumah-rumah walet di sana berukuran besar dengan ketinggian lebih dari 2 lantai sehingga butuh cahaya banyak untuk menerangi setiap ruangan. Bedanya, lampu dipasang hanya di lantai dasar dengan posisi menghadap ke atas. Hal itu tak jarang membuat walet silau. Dampaknya, lantai dasar nyaris tak berisi sarang.

“Selama walet bisa tinggal nyaman tak ada pantangan menyalakan lampu di rumah walet,” katanya. adisucipto menyaksikan di sebuah klenteng di Bangkok, Thailand, walet hidup, bersarang, kawin, dan mengerami telur di atas puluhan cahaya lilin dan lampu berkekuatan lebih dari 40 watt. Kedua sumber cahaya itu hidup selama 24 jam. Cahaya terang di setiap sudut tempat sembahyang itu seakan tak mengganggu aktivitas walet. Bahkan kualitas sarang tetap prima, berbentuk mangkok dan berwarna putih.

Kondisi itu memang dapat terjadi. “Pasti walet itu sudah beradaptasi selama puluhan tahun,” ucap Lazuardi. Namun, menurut Viany Cin Hong—konsultan walet Boss di Jakarta—adanya tambahan cahaya akan membuat suhu ruangan naik dan kelembapan turun. “Kenaikan suhu bisa mencapai 4°C. Padahal, yang ditolerir sekitar 1—2°C, “tambahnya. Idealnya suhu berkisar 27—29°C

dan kelembapan 70—90%. Perubahan iklim mikro itu mengakibatkan sarang menjadi kering dan mudah lepas dari sirip. Cara mengantisipasinya dengan pengabutan atau menempatkan bak-bak berisi air di dalam rumah walet.

Untuk mengurangi kenaikan suhu yang berlebih maka sebaiknya gunakan lampu kuning yang memancarkan cahaya 30 foot candle, setara 5 watt. “Lampunya kuning, cahayanya mirip sinar matahari. Itu mirip suasana habitat asli di gua,” katanya. Dengan begitu adanya lampu hanya mengubah kondisi gelap gulita menjadi remang-remang. “Walet tidak suka di tempat yang gelap pekat, tapi remang-remang,” kata Mulyadi, pemilik realestate walet di Cisauk, Serpong, Tangerang. Digambarkan Mulyadi remang-remang adalah jika seseorang yang berdiri pada jarak 5 m hanya terlihat sosoknya, tapi tidak diketahui detail mukanya.

Di sisi lain penambahan lampu ternyata berguna juga untuk mengusir tikus. Itulah perlakuan Viany di sebuah rumah walet berukuran 8 m x 20 m di pinggiran kota Pontianak, Kalimantan Barat. Untuk mengusir tikus Viany memasang 10—11 lampu 5 watt berjarak 0,5 m dari dasar lantai. Dengan posisi lampu menghadap lantai, tikus ketakutan tak mau ngendon di rumah walet.

About adi

error: Content is protected !!