Jalan Jalan Di Pandeglang Surga para Penikmat Durian

"Ini durian pandeglang, dijamin manis," tutur seorang pedagang di salah satu sudut Pasar Parung, Bogor. Tanpa ragu ia buka sedikit kulit buah, lantas menyodorkan secuil daging untuk adisucipto. Hm...sipedagang memang tak bohong. Rasa manis legit langsung menggoyang lidah. Supaya lebih puas, yuk telusuri langsung ke sentra durian di Pandeglang.

Memasuki Kabupaten Pandeglang dari arah Serang terlihat deretan pedagang durian di kiri kanan jalan. Buah ditata di kios-kios sederhana atau cukup ditumpuk di pinggir-pinggir jalan. Pemandangan serupa ditemui dalam perjalanan menuju kawasan wisata Pantai Carita.

Padahal, saat adisucipto berkunjung pada awal Maret musim durian hampir berlalu. “Tahun ini panen memang lebih panjang. Dari Juli (2018, red) sudah ada yang panen, sekarang masih ada sedikit-sedikit,” kata Romansyah, PPL Kecamatan Bojong. Lazimnya musim petik berlangsung pada Desember Februari.
Dari Pandeglang sampai ke Jakarta
adisucipto mampir di salah satu kios di pusat penjualan di Kecamatan Saketi. Di tepi jalan sepanjang 500 m berjejer tak kurang 20 lapak. Durian dipasok dari desa-desa di sekitar. Setelah melalui tawar menawar yang cukup alot, buah berbobot sekitar 2,5 kg dijual Rp 15.000. Begitu dibelah terbersit kecewa lantaran daging pucat tak menarik. Namun, begitu dicoba, hm...daging terasa manis dan lembut seperti memakan es krim. Biji besar tapi bagian yang dapat dimakan cukup banyak. Satu juring berisi 4—5 pongge

Minum kopi

Kios-kios sejenis juga terdapat di sentra lain di Kecamatan Bojong, Mandalawangi, dan Cadasari. Namun, hati-hati bila memburu di kaki lima. Terkadang ada pedagang nakal yang memakai nama pandeglang untuk durian asal Sumatera. “Tapi kalau di Saketi bisa dipastikan durian asli pandeglang,” tegas Ir Agus M Tauchid, Msi, Kasubdin Bina Usaha Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang yang menemani adisucipto.

Saung-saung kebun di desa-desa di Kecamatan Cadasari malah buka 24 jam. Rupanya sambil menunggui buah jatuh, pemilik sekaligus berjualan. Harga jual lebih murah, antara Rp7.000 - Rp8.000 per butir. Bila dijajakan di pinggir jalan menjadi Rp 15.000.

Di saung-saung desa itu setiap pembeli disuguhi kopi pahit. Maksudnya supaya tak mabuk meski makan dalam jumlah banyak. Lagipula kopi menghilangkan bau Durio zibethinus itu saat bersendawa. Durian di kios-kios itu biasanya tanpa nama. Raja buah yang sudah punya nama, misal IM di Desa Tapos, Kecamatan Cadasari, langsung diborong pengepul untuk pasar luar kota.

Toh, meski tanpa nama durian asal Pandeglang memang enak-enak. Seorang pedagang buah di kawasan Muarakarang, Jakarta Utara, kerap memborong bila musim durian di tempat lain usai. Durian asal Pandeglang juga membanjiri Parung dan Bojonggede di Bogor, serta Slipi, Jakarta Selatan. Harga jual relatif murah, Rp 10.000 per 3 butir berbobot 8 ons di awal musim; panen raya Rp7.500 per 3 butir.

Wajar saja harga murah lantaran produksi di sentra sendiri berlimpah. Pada 2002 total panen se-kabupaten mencapai 162 ton. Bila rata-rata bobot buah 2 - 3 kg, itu setara 54.000—81.000 butir.

Cadasari dan Mandalawangi sentra utama. Kebanyakan merupakan tanaman “warisan nenek moyang.” Populasi per luasan lahan di sana sudah padat. “Di Cadasari mencapai 67.000 pohon, sementara total Kabupaten Pandeglang 200.000 pohon,” papar Agus. Penanaman dengan bibit hasil perbanyakan secara vegetatif mulai dilakukan di 2 sentra baru, Saketi dan Bojong.
Si holol

Lantaran sudah kesohor, durian pandeglang jadi incaran para pedagang. Pengepul desa umumnya sudah memanjar buah beberapa bulan sebelum panen raya. Yang dikejar tak melulu yang punya nama. Menurut Romansyah harga borongan tahun lalu mencapai Rp3.000 per butir. Nilai itu lantas dikalikan dengan jumlah buah di pohon.

Pengepul lantas memasarkan kepedagang kakilima di pinggir jalan. Setelah memperhitungkan upah petik dan ongkos angkut durian dijual minimal Rp8.000 per butir. Wajar bila harga jual ke konsumen mencapai Rp 10.000— Rp15.000. Kalau volume cukup besar sekitar 2 colt durian langsung dibawa ke Jakarta.

Tak semua pohon bisa diborong. Itu biasanya durian yang sudah punya nama. Sebut saja si Holol di Desa Bojong. Pohon berumur 60 tahun itu setiap musim menghasilkan 150 butir. Pada 1995 pernah mencapai 300 butir. Daging kuning pucat, beraroma tajam, rasa manis legit, dan cukup tebal. Wajar ia jadi incaran pedagang.

Lantaran sudah kesohor enak harga di kebun relatif tinggi, Rp 10.000 per butir berbobot 2—2,5 kg. Begitu panen raya turun menjadi Rp5.000. Durian incaran lain, si Botol alias si Lojor. Ia disenangi lantaran aroma dan tekstur tidak berubah meski sudah 3 hari jatuh pohon.

Durian di Kaki lima

Gudang durian Provinsi Banten tak melulu Pandeglang. Kecamatan Serang yang bertetangga dekat juga incaran para penggemar buah berbau menyengat itu.

Sebelum Anda memasuki jalan bebas hambatan ke arah Jakarta, mampir dulu dialun-alun dekat pintu keluar tol Cilegon Timur. Pedagang-pedagang kagetan menjajakan durian lokal setempat.

Kisaran harga jual Rp5.000—Rp 15.000 per butir tergantung besar buah. Bila mahir menawar, 6 butir berbobot l kg bisa diborong Rp25.000. Lantaran lokal rasa bervariasi, tapi dijamin enak-enak. Ada yang manis legit kering, manis sedikit lembek, dan manis sedikit pahit. Ingin mencicipi? Silakan berburu langsung

0 komentar