Jenis Lobster Air Tawar Yang Menguntungkan Untuk Dibudidayakan

Di Indonesia budidaya lobster air tawar dirintis sejak 1991. Iskandar, penangkar ikan hias di Jakarta Timur, serius mengembangkannya. Sayang, perkembangannya lambat lantaran terbentur adaptasi dan ketersediaan induk. Kisah sukses baru terjadi pada 1996. Sukses di Jakarta, lalu diikuti hobiis di kota lain seperti Bogor, Yogyakarta, dan Malang. Tiga spesies Lobster yang dibudidayakan mereka adalah sebagai berikut.
Lobster Air Tawar
Lobster Air Tawar

1. Cherax quadricarinatus

Saat adisucipto berkunjung ke ruang pamer milik Hondo Wiyanto di bilangan Prawirotaman, Yogyakarta, tampak deretan akuarium berisi yabby. Akuarium itu ditempatkan di belakang rumah tepat di samping ruang kerja Hondo. Yabby yang diternak adalah jenis Cherax quandricarinatus. Red claw hummer sebutan di Australia itu terlihat didominasi oleh wama biru langit. Bintik-bintik putih menyelimuti sekujur tubuh. Sepintas sosoknya mirip udang galah, tapi karapas kepala agak besar.

Red claw dari Queensland, Australia, itu menempati akuarium berukuran 100 cm x 40 cm x 40 cm. Setiap akuarium dilengkapi selang aerator, potongan pipa T, dan batu bata berlubang untuk persembunyian tatkala udang berganti kulit. Pembesaran calon induk menempati kolam seluas 2,5 m x 2,5 m. Tepi kolam dilapisi kaca untuk menghindari yabby kabur.

Menurut ayah dari 3 putra itu, bibit Cherax diperoleh dari seorang penangkar di J1 Gajah Mada, Yogyakarta. Ia membeli 5 ekor yabby (1 jantan dan 4 betina) berumur setahun pada 2001. Ujung capit jantan merah, itu tidak ditemui pada betina. “Saat ini total ada sekitar 500 ekor dari beragam ukuran mulai burayak hingga panjang 5—8 cm,” ucap pemilik galeri barang antik HM Antiques itu.

Setiap betina rata-rata menghasilkan 75—80 telur sekali pijah. Jumlah itu meningkat sejalan pertambahan umur. Pada umur 2 tahun produksi meningkat 300—400 telur. Bahkan di Negeri Kanguru dapat diperoleh 1.400 telur. Di habitat aslinya lobster yang dijumpai di Papua itu mencapai panjang 35 cm dan berbobot 1,5 kg. Rekor di akuarium yang tercatat di Jerman mencapai panjang 20 cm.

Di alam, masa kawin hewan berjuluk crayfish itu terjadi 2 kali setahun yakni September dan April. Crayfish menyukai lingkungan bersuhu 20—24°C, pH 7—8, dan kesadahan 10—20°. Akuarium agak gelap pun digemari oleh anggota keluarga Crustaceae yang bersifat omnivora. Meki demikian di tempat Hondo, yabby diberi pelet udang windu.
Cherax quandricarinatus
Cherax quandricarinatus yang jantan bergurat merah diujung capit

2. Cherax destructor

Iskandar di Jakarta Timur, memelihara yabby dari jenis Cherax destructor. Dibanding saudara sepupunya, C. quandricarinatus, jenis C. destructor bersosok garang. Ia bercap it besar, mirip perkakas mobil, tang. Senjata itu untuk berkelahi saat menggaet betina bila musim berpijah tiba.

Yabby ditempatkan di akuarium 80 cm x 40 cm x 40 cm disusun 3 tingkat. Puluhan akuarium berjejer rapi memenuhi beranda di belakang rumah seluas kira-kira 5 m x 3 m. Sebagian yabby lain dipelihara di belasan bak-bak semen sedalam 50 cm berukuran 1,5 m x 1,5 m. Setiap akuarium dan bak dilengkapi selang aerator dan pipa T aneka diameter sesuai ukuran yabby.

Akuarium rata-rata diisi 4—6 ekor berukuran panjang 5—8 cm. Beberapa akuarium terisi oleh 1 induk yang menggendong telur. Yang lain, 2—3 akuarium tampak kosong. Namun, sebenarnya di situ tersimpan burayak baru menetas. Di bak rata-rata dipelihara udang berukuran di atas 5 cm.

Warna udang yang dagingnya juga digemari oleh burung kookaburras di Australia itu kebiruan. Dengan karapas di punggung merah kecokelatan. Di alam dijumpai pula yang berwarna hijau— kuning, abu-abu—hitam, merah solid, dan biru. Namun, semua warna itu kepucatan lantaran yabby ini senang berkubang di lumpur, terutama saat musim kering tiba.

Yabby-yabby itu didatangkan oleh Iskandar dari Australia pada 1991. Setelah beberapa generasi beranak-pinak kini jumlahnya ribuan. Rata-rata panjang der zerstorer, sebutan mania ikan hias di Jerman, berukuran 5—8 cm. Beberapa ekor lagi mencapai panjang lebih dari 10 cm. Itulah yang dipakai sebagai mesin produksi telur.

Soal produktivitas, lobster dikenal cinta damai itu serupa C. quandricarinatus. Begitu pula syarat hidup yang diperlukan. Bedanya, hanya sifat hidup. Jangan coba-coba mengusiknya saat sedang menggendong telur. Jika dilanggar, capit segera menyambar dan bisa menyebabkan luka.

Di Australia, musuh ikan platypus itu dikenal berumur pendek sekitar 3 tahun di akuarium. Namun jika pemeliharaan pas mampu memperpanjang usia. Seperti yabby lain, ia pun bersifat omnivora. Yang paling suka disantap cacing tanah dan serangga air. Namun seperti Hondo, Iskandar pun hanya memberi pakan pelet udang windu.

3. Procambarus sp

Jenis terakhir yang mulai diternak adalah Procambarus sp. Ia hidup di rawa-rawa payau di Lousiana, Amerika Serikat. Iskandar mendatangkan red crayfish itu pada pertengahan 1990. Jumlahnya memang tidak banyak hanya belasan ekor. Jenis ini agak rewel diternak karena sifatnya yang kelewat agresif dan ingin menguasai daerah sendiri.

Lobster yang mempunyai karapas kemerahan dengan semburat biru itu menyukai lingkungan bersuhu 18—20°C. Warna merahnya merupakan daya tarik utama sehingga selain dikonsumsi ia pun dimanfaatkan sebagai penghias akuarium. Dibandingkan yabby, produktivitas jenis ini relatif rendah. Umur 2 tahun hanya sekitar 60—100 telur.

Selain itu menjelang dewasa, pertumbuhan yang semula cepat perlahan melambat. Ia pun jarang moulting. Dampaknya, pertumbuhannya mandek ketika menginjak umur 6 bulan.

0 komentar