Kapulasan Mini Berbuah Lebat Dari Bibit Hasil Cangkokan

Pulasan Nephelium mutabile biasanya tumbuh menjulang hingga 12 m. Selain sulit dipanen, bentuk tajuk tidak menarik. Namun, si babat sebutan masyarakat Bogor di halaman rumah Irsan Salim cuma setinggi 1,5 m. Bentuk tajuk membulat dihiasi buah berwarna merah tua. Indah sebagai ornamen taman.

Kapulasan berumur 4 tahun itu memang kebanggaan Irsan Salim. Maklum anggota keluarga Sapindaceae itu terbilang langka. “Coba cari di penangkar-penangkar, pasti sulit didapat,” kata pengusaha Tas Tajur, Bogor, itu. Di pedagang kakilima pulasan nyaris tak pernah muncul. Maklum saja tak banyak yang menanam buah beijuluk bulala di Filipina itu.

Kebanggaan Irsan kian menjadi lantaran tanaman berbuah lebat meski baru kali pertama. Buah bulat lonjong berwarna merah tua menyembul di antara rimbun daun. Bunga kuning kecokelatan muncul di sana-sini. Buah mudah dibedakan dengan rambutan Nephelium lappaceum. Kulit dihiasi tonjolan-tonjolan kecil, pendek, dan sangat rapat. Karena penampilannya itu ia disebut rambutan si babat.

Tajuk yang kompak membentuk payung mempercantik penampilan pohon setinggi 1,5 m itu. Daun kecil memanjang nan rimbun mengkilap di permukaan atas. Bagian bawah, pucat dengan rambut-rambut halus dan pendek. Padahal bila tumbuh liar tajuk jelek. Cabang lemas dan daun lebat sehingga cenderung merunduk. Pohon menjulang hingga 10—12 m.
Kapulasan

Dua tahun

Sebenarnya cukup mudah membentuk pohon pulasan seperti milik Irsan. “Yang penting bibit tepat dan pengaturan pemangkasan,” tutur Markus Amin, penangkar di Depok. Supaya tajuk kompak, kurangi cabang yang nglancir ke atas. Pilih cabang-cabang yang mengarah ke samping sehingga tajuk membentuk setengah lingkaran.

Sosok pendek diperoleh dari bibit asal cangkokan. Agar cepat berbuah, pilih cabang tua. “Dengan cara itu 2 tahun setelah tanam langsung berbuah,” kata Markus. Itu lantaran tanaman asal cangkok memiliki masa muda pendek. Ia tumbuh dewasa meneruskan masa muda cabang asal. Bibit asal cangkok cenderung tumbuh rendah, melebar ke seluruh arah sehingga tetap kerdil.

Pemilik Virosa Tani itu pernah mencoba pada pohon milik tetangga. Bibit cangkokan diambil dari pohon tua. Dua tahun berselang tanaman berbuah berbarengan dengan induk. Menurut penelitian di Malaysia dengan budidaya intensif pulasan asal biji bisa berbuah pada umur 5 tahun saat pohon setinggi 5—6 m.

Keistimewaan kapulasan nama di Jawa, kualitas buah serupa induk meski diperbanyak dengan biji. Buah besar, tapi bagian yang dapat dimakan sangat sedikit ketimbang kulit yang tebal. Meski berkulit tebal ia rentan pecah terutama bila dipanen dengan cara dijatuhkan. Daging yang putih sampai putih kekuningan terasa lembut, berair, dan manis sedikit asam. Daging mudah dikelupas dari biji. Biji berwarna kecokelatan berukuran kecil, nyaris tak ada. Dahulu lemak biji dimanfaatkan sebagai minyak untuk lampu.
Kapulasan

Kebun Honduras

Kerabat lengkeng Nephelium longan itu berasal dari Malaysia bagian barat. Ia banyak ditemukan di hutan-hutan dataran rendah di Perak dan Malaysia. Di Filipina tersebar mulai dari Luzon sampai Mindanao. Tanaman berjuluk rambutan negro di Malaysia itu sudah dibudidayakan di Malaysia, Thailand, dan Filipina. Di Jawa hanya ditemukan di seputaran Bogor. Pertumbuhan pulasan di kota hujan itu paling baik.

Namun, adisucipto sempat mencicipi saat berkunjung ke Bulungan, Kalimantan Timur. Di sana ia disebut meritam alias maritam. Buah dipetik dari pohon setinggi 15 m. Di Borneo terdapat 4 jenis maritam: berambut hijau, kuning, merah tua, dan hitam keunguan saat masak. adisucipto mencicipi yang berwarna hitam keunguan. Yang berwarna merah adalah si babat.

Sebuah pohon muda dari Jawa dibawa ke Lancetilla Experimental Garden, Tela, Honduras, Amerika Tengah, pada 1927. Mulai dikembangkan besar-besaran pada 1945. Hasilnya dijual di pasar lokal. Salah satu varietas yang terkenal ialah kapulasan merah complok

0 komentar