Home / Tak Berkategori / Keunggulan Menanam Mangga Chokanan Dibandingkan Jenis Mangga Lainnya

Keunggulan Menanam Mangga Chokanan Dibandingkan Jenis Mangga Lainnya

Pemandangan langka di lahan seluas 300 ha di Kecamatan Panceng, Gresik, Jawa Timur. Itu hasil kerja PT Galasari yang menggandeng pekebun sukses dari Thailand sejak 2003. Letak kebun sekitar 37 km dari kota Gresik ke arah Barat Laut, atau melewati Jalan Raya Daendels menuju Tuban.

Adisucipto menyaksikan, barisan chokanan dengan jarak tanam 6 m x 3 m. Dari setiap pohon muncul 32—60 mangga sebesar kepalan tangan orang dewasa. Tangkai buah rata-rata digelayuti 5 – 6 buah. “Saking banyaknya, cabang hampir patah,” kata Ermanu SE, presiden direktur PT Polowijo Gosari induk perusahaan Galasari. Kebun itu kian menarik lantaran pohon pendek, hanya 2,5-3 m. Setengah batang bagian bawah berasal dari mangga arumanis berumur 14 tahun. Buah muncul dari batang atas mangga chokanan yang disambung 2—3 tahun silam. Total jenderal saat ini ada 50-ribu pohon. Itulah kebun chokanan satu-satunya di Indonesia yang dirawat intensif.

Mangga Chokanan
Mangga chokanan

Chokanan Berbuah Diluar musim

Kebun itu juga istimewa karena berbuah di luar musim. Ia dimanipulasi agar berbuah pada Januari dan April. Empat bulan lebih lambat dibanding panen raya mangga terutama arumanis pada September November. Itu bertujuan agar harga chokanan stabil. Harap mafhum, saat arumanis, banjir di pasaran, harganya melorot hingga Rp 1.500 per kg.

Arumanis sulit dimanipulasi agar panen di luar musim. Dengan perlakuan “Dengan chokanan, memproduksi mangga di luar musim bukan mimpi di siang bolong,” katanya. Pasalnya, keberhasilan bunga menjadi buah tinggi. Dari 1 cluster bunga bisa muncul 5—6 buah. Bandingkan dengan arumanis yang hanya 1—3 buah untuk setiap cluster. Produksi meningkat menjadi 120—160 atau 40 kg per pohon saat berumur 5 tahun.

Panen Secara Terus-menerus

Tak hanya Galasari yang mengebunkan chokanan. Nun di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, ada Tjendra Jaya Kuswari. Bedanya chokanan milik pengusaha otomotif itu berasal dari bibit yang diokulasi sejak kecil. Saat ini terdapat 2.000 batang chokanan berumur 2—5 tahun di atas lahan seluas 5 ha. Dari 300 pohon berumur 5 tahun dipetik 50 kg per pohon. Akhir Februari chokanan kembali berbunga lebat. Tjendra memprediksi mulai Mei buah bakal dipanen terus-menerus.

Mangga asal Thailand itu dipilih karena rasanya lezat. “Saya sudah berkeliling Asia Tenggara, chokanan paling lezat dan mudah dirawat,” kata Tjendra. Chokanan manis, lembut, harum, dan agak berserat. Bahkan, saat dipetik langsung dari pohon sudah terasa manis, walau kematangan kurang dari 80%.

Hasil panen dari kebun Galasari mulai dipasarkan ke pasar-pasar swalayan. Misal di gerai-gerai Carefour di Jakarta dengan label mangga Thailand. Lantaran sosoknya yang mungil, agak berbentuk oval, dan berwarna kuning, chokanan kerap disangka mangga podang. Mangga asal Kediri itu memang berkulit kuning— sebagian bersemburat merah—tapi lebih bulat. Karena itu Galasari perlu menempatkan Sales Promotion Girl (SPG) untuk mengenalkan chokanan. Begitu pelanggan tahu itu mangga asal Thailand, chokanan seharga Rp9.000 per kg langsung ludes. “Dijual murah dulu untuk perkenalan,” kata Budi. Di Medan, chokanan dijual di toko buah khusus. Harganya di atas Rp20-ribu per kg.

Buah bergelayutan di pohon pendek

Munculnya 2 kebun chokanan yang berbuah di luar musim menjadi kabar baik buat mania mangga. Mereka dapat tetap menikmati mangga di saat arumanis—jenis paling menguasai pasar—langka. Pemilik kebun pun beruntung lantaran chokanan dihargai mahal.

About adi

error: Content is protected !!