Menikmati Kelezatan Jambu Madu Hijau Jawara Dari Kalimantan Timur

Keputusan juri menyematkan gelar terbaik bagi jambu air madu hijau tidak keliru. Nilai tertinggi dikantongi di setiap parameter penilaian yang dilakukan oleh para juri yang terdiri atas Prof Dr Sri Setyati Harjadi, guru besar Institut Pertanian Bogor; Drs Hendro Soenarjono, pakar hortikultura; Rudi Sendjaja, praktisi pemasaran buah-buahan dan adisucipto.

Penampilan jambu air asal Desa Antutan Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur, itu memukau. Bobot rata-rata 100—135 g per buah. Warna kulit hijau terang dengan semburat merah kecokelatan, licin, dan mulus. Soal rasa, Rudi Sendjaya, pemilik gerai Buah Segar berkomentar. “Manis khas jambu air. Tekstur buah pun padat,” katanya saat mencecap si daging putih kehijauan itu. Keistimewaan lain, daging tebal, juicy, dan tanpa biji. ( Baca : Prospek Dan Nilai Ekonomis Pembudidayaan Jambu Jamaika )
Jambu Air
Jambu Madu hijau

Jambu Air Hasil Cangkokan

Dengan segudang kelebihan itu, tak berlebihan jika adisucipto menyambangi langsung kebunnya di Antutan Maret 2018. Di desa berjarak tempuh 1,5 jam menggunakan speedboat dari Tarakan, Kalimantan Timur, itu Fidelis Tupen Liwun mengembangkan jambu madu hijau di lahan 4 ha. Ratusan buah bergelayut di setiap cabang pohon setinggi 2—3 m. Setiap tangkai digelayuti 3—4 buah. Total jenderal di atas tanah aluvial itu sekitar 1.000 pohon berjarak tanam 5 m x 5 m.

Tanaman dirawat intensif. Pria berusia 55 tahun itu menggunakan kotoran ayam minimal 2 kali sebulan. “Saya tidak menggunakan pupuk kimia karena tanah subur,” kata suami Benedita Barek Koten itu. Pemangkasan batang dan cabang yang mati rutin dilakukan. Gulma
di sekitar pohon dibersihkan. Tak heran bila pada umur 17 bulan sejak tanam, buah mulai dipetik dari pohon asal cangkokan.

Paulus sapaan akrab Fidelis mampu memanen 15—20 kg dari pohon berumur 8 tahun sekali musim. Pria kelahiran Larantuka, Flores, itu tertarik mengembangkan madu hijau lantaran harga menjanjikan. Di pasar Antutan, jambu madu hijau dibandrol Rp 15.000—Rp 18.000 per kg.

Di negeri jiran jambu air madu hijau dikenal sebagai jambu air berkualitas. Di Desa Papar, daerah Kinabalu, Sabah, Malaysia, misalnya, jambu madu dikembangkan secara besar-besaran. Dari sanalah ayah 5 putra itu memboyong bibit berumur 3 bulan ke Kabupaten Bulungan.

Dari kebun Antutan pula, madu merah pemenang harapan LBUN 2018 kategori j ambu air—berasal. Anggota famili Myrtaceae itu pun diintroduksi dari Malaysia. Kualitas buah sama-sama istimewa. “Bentuk lonjong dan warna menarik,” ujar Rudi Sendjaja. Kadar air lebih tinggi ketimbang madu hijau. Sayang, tekstur daging buah kurang padat dan sebagian buah sepat.

Lomba ketat

Kompetisi di kategori jambu air LBUN 2018 terbilang ketat. Perolehan nilai jambu madu hijau dan merah terpaut 0,7. Selain madu hijau dan merah, lomba itu juga diikuti oleh jambu air putih asal Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur; jambu air kapuk milik Ali Marzuki, Kudus; jambu air cilacap andalan Iwan Pirngadi Liem, Cilacap; jambu pihinwai jagoan Fuadi Yatim, Jakarta; dan jambu gelas kebanggaan Suyoto, Balikpapan.

Para kompetitor sebenarnya mampu menyaingi keistimewaan sang jawara. “Jambu pihinwai rasanya enak dan tidak berserat,” kata Hendro. Sayang, penampilan kurang menarik dan ukuran buah relatif kecil. Toh tidak tertutup kemungkinan di tahun mendatang, para pesaing justru yang keluar menjadi pemenang. Syaratnya, kualitas buah mesti lebih istimewa dari madu-madu pemenang LBUN 2018.

0 komentar