Nanas Kuning Dari Wamena Yang Terkenal Akan Kelezatannya

Enaknya nanas berukuran 2 kepalan tangan, berbobot 0,5 kg itu Sudah diduga sebelumnya. Penampilannya menarik, berkulit kuning cerah. Beberapa pembeli di Pasar Jibama pun memilih nanas itu ketimbang 2 jenis lain yang berukuran 2 kali lebih besar. Padahal, biasanya masyarakat Papua cenderung menyukai ukuran jumbo. Toh, nanas obelum tetap disuka. “Sekali makan, kita bisa menghabiskan 3 buah,” ungkap Jomin yang diamini rekan-rekannya di pasar.

Sebutan obelum rupanya kurang memasyarakat. Beberapa penduduk Wamena yang adisucipto temui tak mengenal nama Ananas comosus berbentuk bulat itu. Tak terkecuali Orva Wenda yang membawanya dari Bogondini,  kota kecamatan di Tolikara. “Saya menyebutnya nanas kuning saja. Toh orang-orang tidak akan keliru,” tuturnya. Perempuan yang kini berprofesi sebagai pengumpul buah merah itu menyelipkan belasan nanas di dalam mobil carterannya.

Nanas Kuning
Nenas Wamena

Nanas Bertekstur Kering

Menurut Orva, selama ada nanas kuning jenis lainnya kurang laku. Itu lantaran nanas kuning memiliki banyak kelebihan. Rasanya sangat manis hampir menyamai mangga arumanis. Berdasarkan pengalaman adisucipto mengunjungi sentra-sentra nanas di Lombok, Riau, Palembang, Blitar, Boyolali, dan Purwokerto, belum pernah ditemukan nanas selegit obelum. Bahkan nanas madu dari Subang, Jawa Barat, yang terkenal manis pun masih kalah. Sayang, tingkat kemanisannya belum pernah diukur.

Dagingnya yang kuning hanya sedikit mengandung air sehingga tampak kering. Terbukti hanya menggunakan serpihan mika bekas wadah kartu nama buah dengan gampang dibelah menjadi 2 bagian. Lalu dengan tangan kosong tanpa alat apa pun buah yang sudah terbelah dipatahkan sedikit demi sedikit. Karena memang kering, tekturnya regas dan tidak ada air yang    menetes sama sekali ketika dimakan.

Yang istimewa, empulur atau hati buah sama enaknya dengan daging buah: renyah dan manis. Pantas kalau Jomin berujar, “Tak ada yang terbuang jika Bung memakan obelum.” Toh jika tak mau dikatakan rakus, tidak rugi membuang empulurnya yang sangat kecil. Panjang empulur cuma 2/3 panjang buah dan sempit, bergaris tengah 1 cm, meruncing di bagian ujung.

Lantaran itu pula dagingnya yang halus tampak lebih tebal. Apalagi jarak antarmata berjauhan, sehingga rendemen dipastikan lebih tinggi dibanding nanas-nanas lain. “Mata buah dangkal. Makanya sewaktu mengupas cukup dicongkel, jangan dibuat alur spriral agar tidak banyak daging terbuang,” anjur Jomin.
Tumpang sari

“Obelum mungkin nanas endemik Wamena. Di tempat lain saya belum menemukan nanas spesifik seperti itu,” ujar Dr Mohammad Reza Tirtawinata, pakar buah-buahan di Bogor. Kalaupun ukurannya nyeleneh kecil bisa jadi karena nanas belum dianggap komoditas penting. Berbeda dengan hipere sebutan ubijalar di Wamena yang menjadi makanan utama masyarakat di pegunungan sana. Bobotnya mencapai 2—3 kg per umbi, nyaris sebesar kepala.

Herbagiandono ahli nanas dari Bandung, juga masih asing dengan nama obelum. “Ada memang nanas berukuran kecil-kecil yang disebut nanas rakyat. Nanas ini bobotnya berkisar 6—8 ons per buah,” katanya. Kulit nanas rakyat kuning kemerah-merahan, daging padat, dan rasanya manis. Ia tersebar antara lain di Boyolali, Jember, dan Salatiga. Di Bondowoso penduduk mengenalnya nanas oling karena daunnya kecil-kecil sebesar belut (belut di Jawa disebut oling, red). Sedangkan di Purwokerto populer sebagai nanas batu.

Di Wamena, obelum bisa dengan mudah ditemukan sepanjang waktu. Meski dalam jumlah terbatas, setiap hari para pekebun buah dan sayuran dari berbagai penjuru Wamena menjualnya di Pasar Jibama. Maklum sampai sekarang belum ada yang mengebunkan nanas secara intensif. Ia masih ditanam sebagai tanaman pekarangan atau pagar pembatas. Paling banter ditumpangsarikan dengan tanaman pisang.

“Saya tengah mengembangkan di Desa Bolakme hingga ribuan tanaman, karena sebetulnya nilai jual obelum cukup lumayan,” kata Jomin. adisucipto membeli dari pedagang pengecer Rp 10.000 untuk 3 buah pada Februari lalu.

Post a Comment

0 Comments