Senin, 29 Juli 2019

Padi Transgenik Rojolele Tahan Hama Penggerek batang

Perut Tryporyza intertulas mendadak berlubang dan ia pun langsung terkapar. Sepuluh menit lalu penggerek batang itu mengisap pakan kegemarannya, padi. Sayang ia salah sasaran. Yang disantapnya padi rojolele yang mengandung Bacillus thuringiensis. Itulah padi transgenik keluaran Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Di tengah-tengah suara pro-kontra kehadiran teknologi transgenik, Inez Hortense Slamet-Loedin justru tekun meneliti padi rekayasa genetika. Ia bersama timnya mengembangkan tanaman padi tahan hama penggerek batang. April 2003 bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi akan dilakukan uji lapangan. Perjuangan Kepala Divisi Biologi Molekuler Puslit Bioteknologi LIPI itu, agar gagasan padi transgenik diterima tidaklah mudah.



Banyak peneliti memperdebatkan keamanan pangan dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Misal ketakutan berkembangnya gulma super dan bakteri baru yang kebal antibiotik. Padahal, “Kemungkinan itu hanya 10'16. Peluang kebal antibiotik lebih besar pada pengkonsumsi obat-obatan antibiotik,” ujar ibu sepasang putri kembar itu. Bahkan ada pendapat, rekayasa genetika itu menyalahi aturan Tuhan.

Semua perdebatan itu tidak membuat Inez gentar. Ia yakin produk transgenik akan diterima. Contohnya Amerika Serikat, hampir 70% produksi kedelainya hasil rekaya genetika. Benih transgenik di negara Paman Sam yang terkenal ketat terhadap keamanan pangan itu lolos uji Food and Drugs Association (FDA). Produksinya kini menyebar ke seluruh dunia. Berarti tidak tertutup kemungkinan padi transgenik diterima konsumen.

Gen Bt


Inez menekuni padi sejak ia belajar di University of Nottingham. Setelah menyelesaikan program doktor ia melakukan riset post-doctoral selama 2 tahun di Universitas Leiden, Belanda. Subjek penelitiannya padi transgenik.

“Merekayasa gen menjadi bagian hidup. Fenomena itu rumit tapi mengasyikkan,” ujarnya. Tidak heran begitu kembali di tanah air, akhir 1994 Inez langsung merintis penelitian bioteknologi. Ia harus berjuang untuk membangun laboratorium biotek hingga menemukan kultur jaringan yang responsif. Lebih dari 40 varietas padi diseleksi.

Ternyata hanya varietas rojolele yang paling pas tumbuh di media kultur jaringan. Penelitian pun memasuki tahap isolasi gen. Mula-mula gen cryl AB alias gen Bt diisolasi dari bakteri Bacillus thuringiensis. Agar terekspresi di padi, gen Bt harus diberi mesin atau promotor. Mesin itu menentukan bagian tanaman dan jumlah ekspresinya. Setelah diperoleh vektor DNA lalu diperbanyak dalam bakteri dan diisolasi.

Benih rojolele dibiakkan dalam media kultur jaringan. Dua minggu kemudian embrio padi membentuk jaringan sel yang belum terprogram. Kalus padi itulah yang kemudian disisipi gen Bt dari bakteri.

Aman


Ada 2 cara memasukkan gen Bt, ditembak atau memanfaatkan agrobacterium tumefaciens. Cara penembakan, partikel emas dilapisi DNA kemudian ditembakkan ke jaringan. Setiap vektor DNA membawa gen target dan gen penyeleksi. Jika berintergrasi maka sel akan membelah dan membawa DNA baru. Dikatakan berhasil jika gen penyeleksi bekerja menunjukkan perubahan warna. Alat tembak tidak dapat membaca kromosom target sehingga penembakannya random. Akibatnya copy gen menyebar di semua kromosom.

Menggunakan agrobacterium lebih mudah, murah, dan copy gen sedikit. Lantaran ia dapat membaca kromosom target. Bakteri itu secara alami menginfeksi tanaman dan memindahkan DNA-nya ke dalam tanaman. Namun, setelah 3 hari bakteri itu harus dimusnahkan dengan antibiotik khusus, dosis 100—400 mg/ml. Jika bakteri dibiarkan hidup, pertumbuhannya lebih cepat dibanding selnya. Agar bakteri bekerja optimal harus diciptakan suasana asam pH 5,5.

Penyisipan gen Bt tidak membuat tanaman berubah karena hanya 1 gen saja yang dirubah. “Rasa tetap pulen dan putih,” ujar Inez. Lagipula padi transgenik aman dikosnumsi manusia. Gen Bt di padi bersifat protoksin yang berubah menjadi toksin dalam suasana alkali. Pencernaan manusia bersifat asam sehingga ia tidak lebih hanya protein yang tidak berbahaya. Toh, ketika dimasak kurang dari 1 menit protein itu rusak.

Dari Los Banos ke Sukamandi


Padi transgenik bisa dibilang padi sakti yang resisten hama penggerek. Jika ingin Oryza sativaberproduktivitas tinggi, padi transgenik bukan pilihan. Pekebun biasanya menyandarkan
harapan pada maro dan rokan. Mereka padi hibrida pertama di Indonesia hasil penelitian Dr Suwarno. Pemulia di Balai Penelitian Tanaman Padi Sukamandi itu meriset padi hibrida sejak 1998.


Penghujung 2002 pekebun sudah dapat menjajal keistimewaan mereka.Rokan menjanjikan produksi 9,24 ton per ha. Sedangkan maro 8,85, ton. Artinya, pekebun memetik hampir 2 kali lipat jika menanam varietas lain. Varietas IR 64, misalnya, hanya mampu berproduksi 5—6 ton per ha.

Pekebun cukup menancapkan sebatang bibit di setiap lubang 5 tanam. Oleh karena itu kebutuhan | benih separuh lebih kecil f ketimbang benih padi lokal atau 10 j kg per ha

Untuk padi lokal pekebun f biasanya membenamkan 2 bibit per lubang tanam. Seperti jamaknya, harga benih hibrida tentu lebih mahal, yakni Rp20.000 per kilo. Soalnya, untuk mendapatkan benih hibrida peneliti mesti menempuh jalan panjang lagi berliku. Menentukan sepasang indukan dari 2 galur berbeda yang mampu menyerbuki bukan perkara gampang (baca: Meningkatkan Kualitas Dan Produksi Padi Dengan System of Rice Intensification).

Rentan wereng


Doktor alumnus IPB itu menggunakan padi introduksi dari IRRI (International Pice Research institute) yang berpusat di Los Banos, Filipina. Galur Mandul Jantan (GMJ) IR58025A akhirnya dipasangkan dengan Galur Pemulih Kesuburan (GPK) BR827-35. Kedua induk itulah yang akhirnya “melahirkan” rokan. Maro diturunkan dari pejantan sama, GMJ IR 58025A dan GPK IR53942. Nama sungai di Riau itu diabadikan untuk menyebut 2 varietas baru.

Sosok mereka tegak dengan tinggi 98—107 cm. Per tanaman mampu menghasilkan 20 anakan. Sebuah malai menghasilkan 150—200 bulir gabah. Biaya benih yang relatif mahal, tertutupi dengan produktivitas yang tinggi. Dengan harga gabah Rp1.000 per kg, pekebun padi hibrida menangguk Rp3,2-juta (per ha) lebih banyak ketimbang pekebun padi nonhibrida.

Di balik keistimewaan itu, padi hibrida menyimpan kelemahan. Mereka rentan wereng cokelat dan hawar daun. Oleh karena itu sebaiknya mereka ditanam di lahan sawah irigasi dan bukan daerah endemis wereng.
Kekurangan itu sedang diperbaiki oleh peneliti Balitpa sehingga kelak muncul padi hibrida tahan hama dan penyakit Karena benih hibrida, pekebun hanya dapat sekali tanam. Pada penanaman berikut, pekebun harus membeli benih lagi, jika tidak ingin produksi melorot.

Padi hibrida memang bukan barang baru. Beberapa negara seperti Vietnam, India, Filipina, dan Cina lama menanamnya. Namun jenis padi hibrida mancanegara kurang cocok ditanam di Indonesia. “Semakin dekat khatulistiwa padi hibrida itu tidak menunjukkan keistimewaannya,” papar Suwarno.

Padi Transgenik Rojolele Tahan Hama Penggerek batang Rating: 4.5 Diposkan Oleh: rosari J

0 komentar:

Posting Komentar