Home / Tak Berkategori / Penggunaan Fermentasi Daun Bandotan Sebagai Pestisida Alami Pembasmi Hama

Penggunaan Fermentasi Daun Bandotan Sebagai Pestisida Alami Pembasmi Hama

Gajah mati meninggalkan gading. Babadotan layu menyisakan aroma anyir menusuk hidung. Namun, sebelum ajal menjemput gulma dari Amerika Serikat itu berjibaku menggempur ulat grayak Spodoptera litura. Berduet dengan rimpang jahe, ia mengatasi serangan cendawan Phytophthora infestans. Rahasianya ada pada zat saponin dan cumarine.

Dengan kelebihan itu gulma bernama ilmiah Ageratum conyzoides itu banyak dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. Winarno yang mengelola sistem pertanian organik di Wonosobo, Jawa Tengah, salah seorang yang memanfaatkannya. Sejumlah 10 genggam daun dan batang babadotan diblender hingga lumat. Hasilnya dicampur dengan 4 liter air bersih. Lalu 200 ml biakan mikroba ditambahkan ke larutan babadotan. ( Baca : Kisah Sukses Budidaya Pertanian Sayuran Organik )

Winarno menggunakan mikroba buatan sendiri. Jenis-jenis mikroba seperti EM4 banyak terdapat di pasaran sehingga mudah diperoleh. Pasokan pakan mikroba diperoleh dengan menambahkan 200 ml molase atau tetes tebu. Jangan khawatir jika larutan itu sulit ditemukan. Ganti saja dengan larutan gula pasir. Sekitar 250 g gula pasir dicampur dengan 1 liter air.

Babadotan / Ageratum conyzoides

Fermentasi Ageratum conyzoides

Semua bahan diaduk rata dan biarkan selama 4-7 hari agar terjadi fermentasi. Setiap hari upayakan aduk campuran itu. Menjelang sepekan, muncul bintik-bintik putih di permukaan atasnya. Itu indikasi fermentasi terjadi sempurna. Aromanya agak asam. Sekarang bahan itu disaring dengan kain kassa agar sampah nantinya tak menyumbat lubang nozel saat penyemprotan.

Hasil saringan itulah yang digunakan untuk mengatasi serangan hama atau penyakit. Dosisnya cukup 10 ml/liter air. Setelah diaduk rata, semprotkan babadotan. Untuk pencegahan, semprotkan setiap 4 hari di seluruh permukaan tanaman. Sedangkan untuk mengatasi serangan organisme pengganggu, tingkatkan dosis 50 ml/1 air. Aroma menyengat dan rasa pahit babadotan mampu mengusir ulat.

Keistimewaan lain, kandungan zat aktif saponin tokcer merusak sistem saraf hama. Efeknya, nafsu makan hama hilang. Itu bagai reaksi berantai: hama kurang pakan, lemas, dan akhirnya mati. Menurut Ir Agus Kardinan, Msc dari Balittro, sistem kerja zat aktif pestisida nabati dapat masuk melalui oral maupun kulit hama. Racunnya akan menyerang sistem syaraf maupun pencernaan, sehingga dapat melumpuhkan dan mematikan hama.

Kambing jantan

Babadotan merupakan terna semusim. Anggota famili Poaceae itu tumbuh tegak 5-90 cm. Cabang-cabang tumbuh miring dan berbulu panjang. Pendatang dari Amerika Serikat itu mampu beradaptasi di dataran rendah hingga ketinggian 1.750 m dpi. Penyebarannya meluas di berbagai wilayah. Masyarakat Madura menyebutnya dus-wedusan; Sunda, jukut bau; Jawa, bandotan.
Dalam bahasa Jawa bandot juga bermakna kambing jantan.

Boleh jadi lantaran aromanya menyengat sehingga nama bandotan akhirnya disematkan. Itu sejalan dengan nama di lidah Inggris, billy goat weed. Awalnya Winarno mencoba gulma itu karena memiliki aroma menyengat dan kandungan minyak asiri yang lazim berguna untuk menggempur hama. Pusat Pelatihan Pertanian Terpadu dan Akrab Lingkungan (P3TAL) terus berinovasi menghasilkan ramuan-ramuan dengan bahan alam.

Prinsip penanganan hama secara organik berani memadukan bahan tanaman. Selain bahan tunggal dapat juga menggunakan perpaduan 2-3 jenis tanaman. Masing-masing karakter tanaman membawa fungsi tersendiri. Daun yang beraroma pahit, pedas, dan sepat seperti buah kecubung cocok digunakan untuk penolak hama yang gatal seperti ulat bulu. Sedangkan tanaman yang mengandung minyak asiri dan curcumin seperti jahe lebih tepat digunakan untuk penghadang serangan penyakit akibat cendawan. ( Baca : Cara Dan Tips Untuk Meningkatkan Kualitas Produksi Padi Organik )

Berkat lingkungan yang asri dan alami, para predator hama pun betah berkembang di kebun organik itu. Secara alami, mereka turut mengendalikan hama. Sebagai pembasmi serangan kutu-kutuan tepat digunakan buah mahoni dan brotowali. Resep itu dihasilkan melalui pengalaman dan percobaan.

Rasa Yang Pahit

Sunarko, pengelola lapang P3TAL juga meramu brotowali untuk menggempur kutu aphids yang kerap menyerang cabai Capsicum armuum saat kemarau. Ide memakai brotowali sebagai bahan alami pestisida nabati karena rasanya yang pahit. “Selain itu brotowali tak pernah terserang hama, itu tandanya hama tak menyukainya,” ujar Sunarko.

Kandungan zat pahit pikroterin dan harsa mampu mengusir kutu. Formulasi yang sama dengan pembuatan pestisida babadotan, ramuan itu bersifat sistemik. Ia merusak syaraf dan pencernaan hama. Dua minggu setelah penyemprotan, gerombolan kutu telah menyingkir dari pertanaman cabai.

Brotowali Tinospora crispa dapat disubstitusikan dengan penggunaan buah mahoni yang memiliki efek pahit yang serupa. Pada prinsipnya pembuatan pestisida nabati bisa memanfaatkan herba-herba liar sehingga biaya lebih murah. Sedangkan keefektifan pestisida dapat ditemukan melalui pengalaman memadukan dan memilih bahan alami yang digunakan.

About adi

error: Content is protected !!