Prospek Bisnis Penangkaran Ikan Cupang Hias

Teras belakang kediaman Hermanus Joko kini tampak sesak. Ratusan stoples plastik dan akuarium berukuran 15 cm x20 cmx 15 cm terlihat berjejer rapi dalam rak besi. Sejak kontes marak digelar di berbagai kota di trimester ke-2 pada 2003, permintaan cupang hias melejit naik.

Dari teras rumah itu Hermanus setiap bulan rutin menjual 20 halfmoon kualitas kontes seharga Rp200.000 - Rp500.000 per ekor. Apkirnya minimal 100 ekor per bulan diborong bergantian oleh pembeli dari Surabaya, Samarinda, dan Tangerang. Untuk setiap ekor Betta splendens berkualitas C itu, alumnus Teknik Informatika Bina Nusantara itu mengutip harga Rp20.000 - Rp25.000.

Menurut pengusaha komputer di Jakarta Barat itu, volume penjualan melonjak 50% sejak akhir 2003. “Semua gara-gara kontes yang semakin ramai,” ujarnya. Jenis yang dijual beragam corak warna; biru, hijau, merah, putih, dan hitam. Khusus corak baru seperti copper atau tembaga, per ekor berumur 2,5 bulan dapat dijual Rp 250.000.

Untuk meningkatkan kualitas dan memperbanyak ragam halfmoon, Hermanus kini rutin mendatangkan indukan asal Thailand. Halfmoon double serit misalnya kini sudah banyak diburu oleh kolektor. Cupang tangkaran peternak di negeri Siam itu sangat kondang di kalangan hobiis mancanegara. “Harga sepasang mencapai US$200,” papar pemilik Betta4Ever yang sudah membeli 15 pasang untuk ditangkarkan itu. Jenis baru lain yang diincar dan sedang dikembangkan adalah halfmoon ekor pendek atau halfmoon short tail.

Sentra Penjualan Cupang Hias Mulai menggeliat

Peternak di sentra cupang hias, Slipi, Jakarta Barat, kini mulai terpacu memproduksi cupang lagi lantaran ada kenaikan permintaan. Muhammad Rusdi, peternak yang tergabung di Kecapi (Kelompok Cupang Hias Slipi) setiap bulan rutin menjual 1.000 cupang serit dan halfmoon berumur 3 bulan. Ikan berkualitas C itu dihargai Rp 1.000 per ekor. Untuk kualitas lebih tinggi, A dan B, sebulan minimal 100 ekor. Harga bervariasi Rp 10.000—Rp25.000 per ekor.

Menurut kelahiran Jakarta 25 tahun silam itu, permintaan yang masuk meningkat 75% jika dibandingkan saat tren lou han kurun 2003. “Sekarang untuk memenuhi permintaan dari Bandung dan Pekalongan terutama ikan berkualitas A dan B sudah sulit,” ujar alumnus Universitas Islam Negeri Syarief Hidayahtullah itu.


Febi Setiawan sejak Januari 2004 membuka gerai bernama Kios KOBAPI di bilangan KS Tubun,

Slipi, Jakarta Barat. Tujuannya agar dapat memasok pedagang berbagai daerah seperti Bandung, Pekalongan , dan Yogyakarta. Modal yang ditanam bersama 2 rekan lain, untuk menangkarkan cupang serit di belasan petak kolam berukuran 50 cm x 50 cm.

“Yang beli di sini biasanya sistem borongan,” ujar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma, Jakarta itu. Untuk setiap kolam, harga borongan alias dikuras umur 3 - 4 bulan mencapai Rp2.500 - Rp3.000 per ekor. Yang layak kontes dijual tersendiri, Rp 100.000 per ekor.

Kontes Cupang Kian marak

Pasar lokal yang merangkak naik itu imbas dari berbagai kontes cupang yang digelar di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Tak ketinggalan kota-kota kecil seperti Tasikmalaya, Bogor, dan Malang. Pesertanya pun ratusan, seperti Fishlook 2003 (149 peserta); Indofish (146 peserta); Pusat Promosi Hasil Perikanan (160 peserta); Piala Kobapi (200 peserta); dan Strawars menyedot peserta terbanyak, 212 ekor. Hobiis asal Jakarta masih mendominasi selain Bandung, Banjarmasin, Samarinda, Yogyakarta, dan Temanggung.

Seperti maskoki, lomba cupang masih bergabung dengan ikan hias lain, kecuali Piala Kobapi dan Kontes cupang STC sebulan silam. “Cupang baru ikut meramaikan, sekaligus membangkitkan minat hobiis cupang hias yang haus kontes,” ujar Setiawan Budi, ketua panitia kontes lou han dan maskoki pada Piala Walikota Bandung 2003 beberapa waktu silam kepada adisucipto.

Pada kontes bagus-bagusan itu cara bertanding pun semakin bervariasi. Henry Yin, juri cupang internasional asal Jakarta memperkenalkan lomba sistem knock out yang memperoleh sambutan bagus di kalangan penggemar. Yang lain, penambahan kelas baru, seperti di Piala Kobapi 2003. Di sana dibuka kelas serit tak beraturan dan warna dasar dasi merah. Serit tak beraturan dipertandingkan untuk mewadahi hobiis yang ternyata banyak memiliki cupang itu. Maklum, selama ini hanya double serit saja yang dilombakan.

Post a Comment

0 Comments