Home / Tak Berkategori / Raup Untung Berlipat Lewat Bisnis Dan Budidaya Jagung Manis

Raup Untung Berlipat Lewat Bisnis Dan Budidaya Jagung Manis

Setahun terakhir Sigit Djuwarso mempunyai kesibukan baru. Ia memanfaatkan waktu luang untuk berkebun jagung manis. Pada tingkat harga Rp400 per kilo, ia mencapai titik impas. Padahal, Sigit menerima Rp2.000 per kg sehingga jutaan rupiah menggelembungkan pundi-pundinya.

Ia tertarik mengembangkan Zea mays itu lantaran risiko dan biaya produksi relatif kecil serta harga stabil. Kestabilan itu setidaknya berlaku di Sukoharjo, Jawa Tengah, tempat menanam jagung manis. Di tingkat pekebun harga berkisar Rp 1.500—Rp2.000 per kg boleh jadi lantaran di sana baru berkembang, sehingga sedikit pekebun yang mengusahakan kerabat padi itu. Wajar jika pasar di Sukoharjo, Surakarta, dan sekitarnya menyerap pasokan pekebun dengan harga memadai.

Luas penanaman 1,5 ha tersebar di 3 tempat, Karangpandan, Bekonang, dan Gawok. Sigit menanam dengan interval sepekan agar panen berkelanjutan. Dengan jarak tanam 25 cm x 75 cm, total populasi mencapai 48.000 tanaman per ha. Memperhitungkan tingkat mortalitas 20%, yang dapat dituai 38.000 tanaman. Setiap tanaman—varietas Sugar—dipertahankan 2 tongkol. Pekebun di Jawa Barat umumnya memilih varietas hawaii, hanya menyisakan sebuah tongkol per tanaman.

Pembungaan pertama dibuang; kedua, dijadikan jagung bakar. Baru pada pembungaan ke-3 dijadikan “jagung manis” untuk pasar swalayan. Rata-rata bobot tongkol mencapai 300 g, sehingga sekilo terdiri atas 3—4 buah. “Saya pernah memasok pasar swalayan ditolak karena tongkol terlampau besar,” ujar sarjana Pertanian alumnus Universitas Negeri Sebelas Maret itu. Pasar swalayan menginginkan sekilo isi 5 tongkol.

Jagung hibrida
Jagung hibrida Mulai diusahakan pekebun di luar Jawa Barat

Diperluas

Karena ditolak, Sigit akhirnya memanfaatkan pembungaan ke-3 sebagai jagung bakar yang juga dilempar ke pasar tradisional. Lagi pula harga yang diterima dari pasar swalayan hanya Rp2.250 per kilogram. Bandingkan dengan di pasar tradisional yang mencapai Rp2.000. Keistimewaannya, pasar tradisional menerima jagung manis utuh, tanpa pemotongan kedua ujung tongkol. Pemotongan itu menyita 10—15% dari bobot semula.

Dengan rata-rata bobot 300 g Sigit menuai 9 ton per ha. Artinya, Rp 12-juta ditangguk saat harga jual Rp2.000 per kg. Itu laba bersih setelah dikurangi biaya produksi Rp3,6-juta. Biaya terbesar antara lain untuk pengolahan tanah, Rp 1.250.000 per ha. Namun, biasanya pada penanaman kedua biaya itu tak dikeluarkan lantaran pekebun meniadakan pengolahan tanah. Kiat itu tak mempengaruhi produktivitas.

Menurut perhitungannya, titik impas tercapai saat harga jual Rp400. Kemudahan memasarkan dan harga memadai mendorong ayah 5 anak itu berhasrat memperluas penanaman. Pasar jagung manis diakui Ibrahim Rony Kusnady, pekebun sekaligus pengepul di Bogor, makin tumbuh. Pada 1984 ketika pertama kali ia memperkenalkan jagung manis di Indonesia, komoditas itu sangat eksklusif.

Kresek serang daun, produksi turun
Kresek serang daun, produksi turun

Minim pasokan

Sembilan tahun kemudian anggota famili Gramineae itu kian populer. “Pasar akan terus tumbuh. Suatu ketika makan jagung identik jagung manis,” katanya. Jagung nonmanis tergeser hanya untuk industri tepung dan pakan ternak. Menurut perkiraan Rony, Jakarta membutuhkan minimal 70 ton per hari. Kini jagung manis tak melulu ditemukan di pasar swalayan. Pasar tradisional pun turut menyerapnya. Rony, misalnya, memasok 1 ton per hari untuk beberapa pasar di Bogor dan Jakarta.

Volume sama juga dikirim untuk pasar swalayan setiap hari. Sebuah restoran cepat saji di Bandung dan Jakarta membutuhkan masing-masing 400 dan 1.000 tongkol per pekan. Standar mutu yang diinginkan panjang minimal 14 cm, diameter 5—7 cm, kulit dipertahankan 2 helai. Sayang, tak semua permintaan terlayani. Minimal 2 ton permintaan gagal terpenuhi per hari lantaran keterbatasan pasok.

Terbukanya pasar pun dirasakan Jajang Saeful Hidayat. Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki di Garut itu mengirimkan 1—2 ton per hari ke berbagai pasar di Jakarta dan Tangerang. Pasar Induk Caringin di Bandung dipasok 1,8 ton per hari. Pria 34 tahun itu mengandalkan pasokan 8 pekebun plasma di Cisurupan, Garut, yang mengelola 3 ha. Luasan sama juga ditanami jagung manis oleh ayah 2 anak itu.

Meluas

Sedangkan Rony memperoleh pasokan dari pekebun plasma di Garut dan Sukabumi, di samping mengandalkan kebun sendiri di Ciawi, Bogor. Meski demikian ia kesulitan memperoleh pasokan akibat kemarau panjang pada tahun silam. Dampaknya teijadi penurunan luas tanam. Itu tercermin dari volume penjualan benih. Rony yang menyediakan benih varietas hawaii, misalnya, hanya melepas 3 kuintal biasanya, 5 kuintal per bulan. Luasan 1 ha membutuhkan 6 kg benih. Keadaan itu disusul curah hujan tinggi sejak November—Maret silam, menyebabkan produksi melorot. Karena itiftah pasokan berkurang sehingga harga melambung mencapai Rpl.800 per kg. Seperti komoditas lain, harga tinggi itu juga mendorong spekulan untuk menanam jagung manis. Artinya, di sentra penanaman harga sewaktu-waktu terancam melorot. Kecuali di daerah penanaman baru seperti Sukoharjo, Surakarta, Boyolali harga diprediksi relatif stabil.

Jagung manis belakangan memang menyebar ke luar Jawa Barat. Semula hanya di Bogor, lalu menyebar ke Sukabumi, Garut, Bandung. Menurut Ir Widodo setahun terakhir komoditas itu mulai dilirik pekebun di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Catatan Region Sales Manager Syngenta Indonesia, itu penjualan benih di kedua provinsi masing-masing berkisar 30—100 kg per bulan setara 6—16 ha penanaman.

Beku

Selain dijual segar, pasar ekspor olahan mulai terbuka. Ibrahim Rony Kusnady yang bermitra dengan Kemfarm, Juni mendatang mulai mengekspor jagung beku ke Jepang. Semula negeri Matahari Terbit itu mengandalkan pasokan dari Selandia Baru. Sayangnya, negara di timur Australia itu memipil jagung manis dengan mesin, sehingga sebagian biji tertinggal di tongkol. Padahal, yang diinginkan Jepang biji pipilan utuh dengan jari tangan.

Itu tak dapat diwujudkan eksportir Selandai Baru. Soalnya, negara yang ditemukan pelaut Belanda, Abel Tasman, itu tersandung sumber daya manusia. Indonesia yang berlimpah penduduk jauh lebih siap. “Cina sebetulnya juga bisa. Tapi, jagung asal Cina mengandung pestisida tinggi,” tutur Rony. Jepang memesan 8 ton pipilan per pekan atau setara 32—35 ton dengan memperhitungkan bobot tongkol.

April sekarang Rony mulai menggandeng pekebun di sekitar Semarang. Maklum, lokasi pabrik pembekuan memang di ibukota provinsi Jawa Tengah. “Keuntungan petani, semua produk dapat terserap karena tak ada standar mutu. Pokoknya asal ada biji, pasti diterima,” ujar Rony.

Tentu saja tak melulu kisah manis yang dialami pekebun jagung manis. Tiga hari hujan tak kunjung mereda pada penghujung tahun lalu menyebabkan kualitas jagung melorot. Dampaknya harga yang diterima pun menukik sehingga laba menipis. Ganyangan penyakit “keresek” meminjam istilah pekebun di Garut acapkali meluluhlantakkan harapan pekebun. Serangan ditandai dengan mengeringnya daun. “Kalau terserang, kita susah panen,” ujar Jajang. Sekitar 0,5 ha ladang jagung yang ia kelola, akhir tahun lalu tak luput dari serangan penyakit itu.

Bagi pekebun pemula menghasilkan tongkol bermutu relatif sulit. Setidaknya itu dialami pekebun Cisurupan, Garut. Mereka mengenal jagung manis baru pada 2000. Banyak tongkol yang dihasilkan berbiji menumpuk, biji tak penuh, atau tongkol yang pendek. Akibatnya, harga yang diterima relatif rendah, Rp600 per kg. Pada tingkat harga itu, laba pekebun tipis, hanya Rp200 per kg

About adi

error: Content is protected !!