Home / Tak Berkategori / Sentra Budidaya Kangkung Jenis Aini dan Gomong Di Ampenan

Sentra Budidaya Kangkung Jenis Aini dan Gomong Di Ampenan

Cobalah pesan menu makan siang di sebuah restoran ayam bakar taliwang. Niscaya sepiring pelecing kangkung yang masih hangat jadi salah satu menu yang disajikan. Kangkung rebus yang dihidangkan dengan sambal cabai tomat dan urap kelapa parut memang masakan khas Lombok asal muasal restoran ayam bakar taliwang. Disantap dengan nasi panas dan ayam goreng taliwang,ehm..nikmatnya.

Itu pula yang adisucipto nikmati kala bersantap siang di sebuah restoran di pinggiran kota Mataram penghujung tahun silam.

Sepiring pelecing kangkung jadi makanan pembuka penggugah selera. Berlanjar-lanjar kangkung rebus berwarna hijau segar dan sejumput kecambah rebus diguyur dengan sambal cabai tomat nan merah. Diatasnya ditambahkan urap kelapa parut dan kacang tanah goreng.

Sebelum dilahap, aduk seluruh isi piring agar kangkung terasa gurih. Dimakan bersama nasi panas enak, disantap begitu saja pun lezat. “Kalau ke sini, tapi tidak makan pelecing kangkung, ya seperti belum pernah ke Lombok,” tutur Ir Ahmad Sarjana, kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Nusa Tenggara Barat yang mendampingi adisucipto.

Kebun kangkung
Kebun kangkung, menggantikan padi sawah

Si nyonya

Selorohan ayah 3 anak itu sah-sah saja. Masyarakat NTB pantas bangga dengan menu pelecing kangkung yang mereka miliki. Bukan karena melulu disajikan dengan bumbu dan sambal yang enak, tapi kangkung rebusnya pun memang istimewa. Ipomoea aquatica yang digunakan bukan jenis sembarang. “Kangkungnya harus kangkung ampenan,” ujar Ahmad Sarjana.

Itulah anggota famili Convolvulaceae khas Lombok yang punya banyak keunggulan. Sosoknya besar-besar diameter batang bisa sebesar ibu jari tapi empuk, minim serat, dan tetap renyah sehingga gampang dikunyah. Bila direbus, tidak blenyek dan warna tetap hijau kangkung lain biasanya berubah jadi hitam. Pantas bila Rumah Makan Ayam Taliwang Bersaudara di kawasan Panglima Polim, Jakarta Selatan, rela “mengimpor” kangkung ampenan setiap 2 – 3 kali seminggu dari Lombok. Sekali kirim terdiri atas 50 ikat besar-besar.

Seikat kangkung “bermetamorfosis” jadi sekitar 5 porsi pelecing.

Sejatinya yang disebut kangkung ampenan adalah 2 varietas unggul asal Desa Tunjung dan Bayan di Lombok Barat bagian utara, yaitu aini dan gomong. Semula mereka dikenal sebagai kangkung si nyonya. Maklum awalnya yang sering membeli sayuran daun itu perempuan-perempuan keturunan etnis Tiongkok biasa disapa nyonya.

Nama ampenan kemudian melekat karena lara sebutan kangkung di Bima banyak dijual di Ampenan. Kota tua terletak di sebelah barat Mataram ibukota NTB, juga di Lombok Barat itu dahulu terkenal sebagai kota pelabuhan yang ramai. Di sanalah perniagaan kangkung ampenan berkembang.

Sejak 2002 nama Kangkung aini dan gomong yang dipopulerkan. Keduanya jenis si nyonya yang telah diidentifikasi. Meski sama-sama unggul, aini dan gomong punya perbedaan khas. Yang disebut pertama bertepi daun bergerigi; gomong, mulus. Aini diambil dari nama istri mantan gubernur NTB Harun Al-Rasyid; gomong, nama sentra kangkung terbesar di Ampenan.

Sentra Penghasil Kangkung

Lantaran perniagaannya kian marak, pekebun di Ampenan pun tertarik membudidayakan kerabat tanaman hias morning glory Ipomoea indica itu. Dimulai 35 tahun silam kebun-kebun kangkung pun bermunculan di kota pelabuhan sejak zaman Belanda itu. Gomong, Dusun Pesongoran, Kelurahan Pagesangan, merupakan sentra terbesar. Di sana terdapat sekitar 30 ha areal tanam. Belakangan penanaman meluas hingga ke kota Mataram. Menurut data Pucuknya dipanen 30 – 35 hari setelah setek ditancapkan ke tanah sawah dan berlanjut setiap 2 minggu tanpa henti.

Pantas di berbagai tempat rumpun-rumpun padi yang mesti menunggu panen sekitar 4 bulan beralih rupa jadi rambatan-rambatan kangkung. adisucipto melihat hamparan kebun kangkung di sepanjang jalan menuju Lingsar, Narmada, Batukumbung, dan Suranadi sentra buah-buahan di sebelah timur Mataram.

Jaring pasar dan Pemasaran kangkung

Sayang, mula-mula penanaman tidak intensif. Pucuk-pucuk kangkung dipetik dari pohon itu-itu saja yang ditanam sejak awal. Akibatnya produksi terus menurun. Makanya sejak 3 tahun lalu disosialisasikan peremajaan tanaman dengan menggunakan setek baru setiap 5 bulan. Yang digunakan setek bagian tengah bukan pucuk sehingga tingkat keberhasilan mencapai 100%. Setek yang digunakan sekitar 2 jengkal atau 40 – 50 cm.

Dari daerah-daerah sentra, kangkung dipasarkan di pasar lokal NTB hingga dikirim ke luar daerah. Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Bali penyerap terbesar. Lantaran dibutuhkan segar, pengiriman keluar daerah pun menggunakan armada pesawat. Pemasaran keluar daerah dikoordinir oleh Asosias; Kangkung Kota Mataram yang diketuai H Sadrul Iman. Akses lain melalui PD Krida Mataram.

Nah, lain kali bila Anda sempat bersantap siang di rumah makan ayam taliwang perhatikanlah pelecing kangkungnya. Itulah aini dan gomong yang melanglangbuana dari Lombok ke berbagai daerah

About adi

error: Content is protected !!