Sentra Durian Lokal Di Pulau Bintan

Pedagang Buah Durian yang sehari-hari mangkal di ibukota Batam, itu membandrol harga Rp15.000—Rp20.000  perbuah.Dagangannya pun laris manis. “Banyak pembeli suka durian bintan karena manis dan aromanya khas,” kata pria bertubuh jangkung itu. Tak pelak, adisucipto pun tergoda untuk langsung ke sentranya. Perjalanan diawali dari Pelabuhan Telagapunggur, Batam, menyeberangi Selat Riau menggunakan speedboat menuju Pelabuhan Sri Bintanpura, Bintan. Selama perjalanan tampak pulau-pulau kecil seperti Lobam dan Penyengat membentang indah. Setelah sejam berlayar, perahu cepat itu akhirnya berlabuh di Kota Gurindam.
Hutan Di batam
Area Hutan Di batam

Sentra durian di kota batam

Senyum kecut mengiringi langkah awal adisucipto menjelajahi salah satu pulau besar di gugusan Kepulauan Riau itu pada awal Februari 2018. Bukan apa-apa, perjalanan dari pelabuhan Sri Bintanpura menuju Bintan Agro Resort tujuan pertama hanya “dihiasi” pemandangan tanah bauksit berwarna merah dan perbukitan tandus. Udara panas dan sinar matahari terik membuat bumi memantulkan cahaya yang menyilaukan mata. (Baca : Berburu Durian Super Di Tanah Minang )

Namun, siapa sangka di balik kekeringan dan ketandusan itu, Pulau Bintan ternyata memiliki hutan durian yang sangat luas. “Tiap daerah memiliki pohon-pohon yang tetap berproduksi walaupun berumur puluhan bahkan ratusan tahun,” ucap Ir Hendrik Virgilius, pekebun dari Singkawang, Pontianak, yang turut serta.    ’

Rasa penasaran dan ingin tahu pun semakin membuncah. Menurut Hanny Tawa’ang, deputy general manager Bintan Agro Resort, sentra durian lokal di Bintan tersebar di Sekuning, Batulicin, Tuapaya, dan Gesek. Sayangnya, Durio zibhetinus tidak dibudidayakan secara intensif. Buah berduri itu banyak ditemukan di hutan atau pekarangan bersama tanaman buah lain seperti rambutan, pisang, dan nangka.

Berburu Durian Hingga Masuk hutan

Setelah melepas lelah sejenak di Bintan Agro Resort, adisucipto mulai “menjelajah” hutan durian. Tak jauh dari lokasi peristirahatan, berjarak 25 km dari Tanjungpinang itu terdapat hutan durian yang dikelola penduduk setempat. Tepatnya di Desa Kawal, sekitar 500 m di depan resort. Akeng, pemilik 50—100 pohon di hutan durian yang terletak di belakang dan samping rumah, menyambut dengan suguhan durian kawal. Sosoknya memang kecil, tetapi si pedagang di Batam tak berdusta. Saat daging buah berwarna putih kekuningan menyentuh lidah, rasa manis langsung terasa. “Di sini durian memang berukuran kecil-kecil tapi enak,” kata Akeng. Buah dipetik dari pohon-pohon setinggi 20—25 m. ( Related : Duren Perwira - Durian Lokal Kualitas Unggul Dengan Rasa Manis Pahit Dari Majalengka )

Menurut wanita paruh baya itu, musim panen durian biasanya pada November hingga akhir tahun. Kadangkala buah masih dijumpai sampai awal tahun berikutnya. Saat pohon berbuah lebat, Akeng mampu meraup omzet jutaan rupiah. Maklum, duriannya dihargai tinggi, Rp20.000 per buah di sekitar Kawal. Sampai di kota melonjak menjadi Rp40.000.

Menurut Toni Wianto, generalinspector Bintan Agro Resort, lalu-lalang mobil pick up mengangkut durian menjadi pemandangan menyenangkan kala panen tiba. Beberapa mobil bak terbuka berhenti di pinggir jalan menurunkan buah berduri di kios-kios kecil. Selain dijual di lapak-lapak kecil, durian juga diangkut ke pasar-pasar tradisional dan Pelabuhan Tanjungpinang. Dari pelabuhan itu, sang raja buah asal Bintan melanglangbuana ke Batam hingga Singapura.
Pohon Durian
Pohon Durian berumur puluhan tahun
Pencarian sentra durian di Pulau Bintan terus berlanjut. Di bawah terik matahari dan panasnya cuaca bersuhu 30—38° C, adisucipto menjelajah ke kawasan Gesek. “Desa Gesek juga terkenal dengan duriannya,” kata Toni. Bila musim buah tiba, kedai-kedai kopi yang ramai di pinggir jalan sesak dipenuhi durian. ( Baca : Pesta Buah "Kadu" Di Sentra Durian Serang )

Durian Sekuning

Dari Desa Gesek, adisucipto melanjutkan perburuan ke Desa Batulicin. Desa berjarak 45 menit dari Bintan Agro Resort ke arah timur itu juga sentra durian lokal. adisucipto mengamati belasan pohon durian muda berjarak tanam rapi di sela-sela plastik mulsa tanaman cabai. Sambil menunggu anggota famili Bombaceae itu panen, tanah di bawah tajuk dimanfaatkan untuk menanam tanaman semusim. Di beberapa tempat terlihat durian ditumpangsarikan dengan jeruk dan mangga.

Kondisi serupa juga terlihat di Desa Tuapaya dan Sekuning. Di Sekuning adisucipto melihat hamparan hutan durian sejauh mata memandang. Tanaman berumur puluhan tahun yang tumbuh meraksasa berjajar di kiri dan kanan jalan. Tingginya mencapai 15—20 m. “Durian asli sini lebih enak dibanding daerah lain di Bintan,” kata Heru, staf Bintan Agro Resort. Sayang, saat adisucipto berkunjung ke Sekuning, hutan durian hanya menyisakan beberapa buah saja menggantung di dahan lantaran masa panen hampir berakhir. ( Baca : Durian Dugol Varietas Durian Unggulan Dari Kota Blitar )

Tak melulu durian, pulau tempat kelahiran Hang Tuah itu cocok untuk penanaman nanas, pisang, dan rambutan. Yang tak kalah menarik tentu saja wisata bahari. Bintan kaya pantai landai berpasir putih. Terbayang bukan, nikmatnya menyantap durian diiringi deburan ombak di tepi pantai.

0 komentar