Solusi Walet Mogok Bersarang Dengan Menggunakan Menara Air

Pemilik rumah walet di pantai utara Jawa waswas. Tambang emas itu terancam akibat produksi melorot tajam hingga 60%. "Iklim rusak akibat hutan terus dijarah," ujar Ir Rosich Amsyari, peternak di Surabaya yang juga mengalami nasib serupa. Dengan mendirikan "menara" air yang sederhana, kecemasan itu tak berkepanjangan.

Penurunan produksi mencapai 60% jelas sangat mengkhawatirkan. Jika sebuah sarang walet biasa menghasilkan 5 kg sarang, pemilik hanya dapat memetik 2 kg setelah terjadinya penurunan itu. Artinya, Rp45-juta yang mestinya dituai, sirna. Rosich menganalisis biang keladi anjloknya produksi karena banyak hutan rusak.

“Otomatis siklus iklim berubah, sehingga tingkat pengembunan berkurang. Jadi panas terus,” ujar alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu. Kondisi itu dirasakan sejak Maret tahun silam. Pengamatan Rosich menunjukkan, beberapa area hijau di Gresik, salah satu sentra di Jawa Timur, mengalami kerusakan. Apalagi hingga akhir 2018 hujan tak tercurah sama sekali.
sarang walet

Tiga tiang

Untuk mengatasi masalah itu Rosich mendirikan 3 menara air di rumah walet di Sidayu, Kabupaten Gresik. Rumah itu berlantai satu berukuran 15 m x 20 m. Sedangkan halaman belakang berukuran 15 m x 10 m. Di belakang rumah walet itulah ia mendirikan 3 tiang besi berdiameter 1,5 cm dengan ketinggian beragam, 3 m, 4 m, dan 7 m. Tinggi tiang beragam lantaran, “Burung terbang kan berbeda-beda, ada yang tinggi dan juga yang rendah,” kata 2 anak itu.( Baca : Cara Memancing Burung Walet Agar Mau Bersarang Menggunakan Lampu 5 Watt )

Di setiap ujung tiang dilekati sprinkel statis yang terdiri atas 4 saluran air. Sebuah pompa menarik air tanah, lalu disemburkan sprinkel. Setiap menara air dilengkapi sebuah pompa. Air dialirkan 3 kali sehari pada tiang 7 m. Masing-masing pada pukul 05.00—06.00, 00.10—12.00, 16.00—18.00. Tiang lain setinggi 4 m, dialirkan selama 12 jam sehari sejak pukul 06.00—18.00.

Menara lain, dialirkan hanya pada pukul 16.00—18.00. Dengan pengaturan otomatis—mirip pompa pada teknologi aeroponik sayuran—air mengalir dengan interval tertentu. Ide pembuatan menara air itu sederhana saja. “Burung kan perlu minum setelah terbang jauh. Ternyata betul, setiap sore burung berputar-putar di sekitar tiang itu sebelum masuk ke rumah,” ujar sarjana Teknik Elektro itu.

Lantai disiram

Dampak menara air rumput yang semula kering kecokelatan, sejak hadirnya sprinkel itu berubah hijau royo-royo. Itu berkat tetesan air yang membasahi rerumputan. Akhirnya seluruh halaman disiram setiap hari pada pukul 15.00. Setelah rumput hijau, populasi serangga pakan walet pun meningkat. ( Baca : Teknik Memancing Walet Menggunakan CD Rekaman Suara Walet Birahi )

Menurut Rosich populasi walet yang relatif tinggi meningkatkan temperatur ruang, sekaligus menurunkan kelembapan. Pada kondisi itu walet merasa tidak nyaman yang berdampak menurunnya produksi. Untuk mengatasi, anak ke-2 dari 6 bersaudara itu menggelontor lantai rumah yang dilapisi kotoran walet setebal 50 cm.

Lantai rumah disemprot air bersih hingga, “Kalau diinjak terdengar ces..ces... Becek merata. Telur yang jatuh saja tidak pecah,” kata mantan dosen Universitas Darul Ulum Jombang itu dengan logat Suroboyoan yang kental. Penyiraman itu menekan melonjaknya suhu ruang. Meskipun di dalam ruang Rosich juga menyediakan 10 tempayan berkapasitas masing-masing 30 liter.

Tak hanya itu, penyemprotan lantai tanah juga mengurangi kadar amonia sehingga kualitas sarang meningkat. Ruang berkadar amonia tinggi biasanya menghasilkan sarang berwarna kuning. Membuang kotoran untuk mengurangi amonia sangat riskan. Dengan adanya kotoran, walet sebetulnya lebih kerasan.

Rosich, misalnya, selama 7 tahun terakhir tak pernah mengurangi kotoran walet hingga menumpuk setebal 50 cm. Penyiraman pada bulan tertentu—ketika kemarau panjang—seperti dilakukannya, efektif menekan amonia. Kalau ada yang minta kotoran, paling ia hanya mengambil 10 karung masing-masing berbobot 25 kg. Setahun hanya sekali pengurangan.
sarang walet

Logis

Frekuensi penyemprotan 10 hari sekali. Waktu ideal penyiraman pukul 09.00—10.00 saat walet keluar ruangan. Dengan 2 perlakuan itu 3 bulan berselang produksi sarang kembali meningkat 20%. Produksi kembali stabil beberapa bulan kemudian. Keruan saja kiat yang diterapkan dosen Akedemi Perawatan RSI Surabaya itu ditiru banyak peternak lain. Mereka juga ingin melorotnya produksi tak berkepanjangan. ( Baca : Skema Pemasangan Tweeter Walet Secara Optimal )

Menurut Dr Boedi Mranata, pengamat walet, langkah yang ditempuh Rosich Amsyari masuk akal. Kelembapan tinggi mendorong kelenjar saliva yang memproduksi liur mampu bekerja maksimal. Sebaliknya, pada kondisi kelembapan rendah dan temperatur tinggi.

0 komentar