Home / Tak Berkategori / Teknik Tabulampot Durian Pohon Pendek Namun Berbuah Lebat

Teknik Tabulampot Durian Pohon Pendek Namun Berbuah Lebat

Nominal itu memang pantas buat tabulampot durian yang berbuah lebat. Pasalnya, durian tergolong sulit dibuahkan di dalam pot. “Durian bukan tanaman yang direkomendasikan untuk tabulampot. Sangat sulit berbuah hingga matang,” kata Eddy Lukito, pemilik nurseri Golden Image, di Jakarta Barat. Menurut Eddy, selama 25 tahun malang-melintang di tanaman buah, hanya 1—2 kali tabulampot durian berbunga dan berbuah. Buah yang muncul pun hanya bertahan hingga seukuran jempol kaki orang dewasa, lalu rontok.

Pendapat Eddy Lukito itu diamini Eddy Soesanto, pemilik nurseri Tebuwulung, di Jakarta Timur. “Bila mampu bertahan hingga seukuran bola tenis pun sudah spektakuler,” katanya. Maklum, selama ini banyak bunga dan pentil buah yang muncul dari tabulampot durian gagal berkembang. Ia menduga sifat perakaran durian dewasa yang besar dan memanjang ke samping sebagai biang keladi. Volume drum sebagai pot yang terbatas tak mendukung karakter akar. Buah gagal berkembang karena pasokan hara terbatas. Itu berbeda dengan jambu air yang akarnya lebih lentur sehingga menggulung di dalam pot.

Tabulampot Durian

Lantaran sulit banyak pekebun mengakali durian agar seolah-olah berbuah di pot. Tanaman dibesarkan di lahan, lalu dibuahkan. Tanaman baru dipindahkan ke pot saat buah seukuran bola takraw. “Kalau yang demikian banyak,” kata Eddy. Namun, teknik itu kerap dikeluhkan hobiis karena tanaman hanya berbuah saat itu. Berikutnya tanaman mogok berbuah. Bahkan cenderung tumbuh merana. Batang kurus dan daun tumbuh sedikit.

Ditepis

Kesulitan membuahkan tabulampot durian itu ditepis Edi Sofiandi, pekebun di Parongpong, Bandung. “Dulu teknik memindahkan tanaman yang telah berbuah memang lazim, tapi itu teknik lama,” kata kelahiran Bandung 43 tahun silam itu. Menurutnya dengan media dan hara tepat volume pot yang terbatas tetap mampu mendukung perkembangan buah. Dengan prinsip itu Sofiandi sukses membuahkan tabulampot durian sebanyak 50 tanaman selama 3 tahun terakhir.

Hanafi di Bogor yang memboyong tabulampot durian menjadi saksi. Tiga buah yang bergelayutan di tabulampot dipanen 2 bulan setelah pembelian. Satu buah rasanya manis. Sedangkan 2 buah matang, tapi rasanya tawar.

Di Yogyakarta, Mimi Aris Budiman juga sukses membuahkan 4 tabulampot durian hingga matang. Satu pohon berbuah 3—4 buah, tapi yang disisakan sebuah. Pemilik nurseri Watuputih itu menjual tabulampot monthong seharga Rp2,5-juta per pot setahun silam.

Menurut Ir Yos Sutiyoso, pakar kesuburan tanah di Jakarta, tabulampot durian yang berbuah lebat bukan hal yang tak mungkin. “Pasti bisa, tak ada masalah. Perakaran yang besar dan memanjang ke samping tak menjadi masalah selama tanaman cukup hara, air, dan udara,” katanya. Tiga kecukupan hara, air, dan, udara itu bisa terpenuhi dengan media tepat. Bahan organik yang dikombinasi pupuk sintetis salah satu jawaban.

Bahan organik berfungsi menjaga sifat fisik tanah seperti kemampuan tanah memegang air dan menjaga kegemburan media. Pupuk sintetis berperan memasok hara yang cepat terserap. Udara tanah dijaga dengan campuran media yang memiliki ruang pori makro dan bersifat porous. Misal sekam atau pasir. Menurut Yos dengan media yang gembur dan subur, umur rambut akar yang berfungsi menyerap hara lebih panjang, mencapai 2 minggu. Pada media tandus dan keras umurnya hanya 2 hari. ( Baca : Tips Dan Trik Agar Tabulampot Tumbuh Secara Optimal )

Pada media gembur proses pemanjangan ujung akar pun berlangsung optimal. Luas penampang total rambut akar—yang terletak di belakang titik tumbuh mencapai 12 cm. Pada ujung akar yang berada di areal yang keras, luasan penampang total rambut akar hanya 2 cm. “Semakin banyak rambut akar, serapan hara dari pupuk sintetis semakin optimal, pertumbuhan pun semakin bagus,” katanya. Selama rambut akar sehat, maka akar durian mampu menyerap hara dari media meski di dalam pot.

Bunga dan buah pentil yang sering rontok bukan karena durian membutuhkan ruang tumbuh akar luas. “Yang tumbuh di lahan pun banyak rontok,” kata Yos. Kerontokan bunga dan buah itu akibat kekurangan kalsium. Menurutnya hobiis dan pekebun jarang menggunakan kalsium sebagai pupuk. Pemberian kapur selama ini lazimnya hanya dikaitkan dengan teknik menurunkan kemasaman tanah atau media. Padahal, kapur tembok atau kapur sirih pun dapat digunakan bila hobiis sulit mendapatkan kapur pertanian alias kalsit dan dolomit.

Bertahap

Lantaran itu, menurut Sofiandi membuahkan tabulampot durian dapat dilakukan. “Prosesnya bertahap,” katanya. Sofiandi memilih monthong sebagai bakalan tabulampot. Itu karena secara alami pertumbuhan monthong genjah dan mampu berbuah besar. Hanya monthong berumur 4 bulan pascaokulasi yang subur yang dipilih. Cirinya daun lebat, segar, dan hijau. Ia lalu dipindahkan dalam polibag besar dan dirawat selama 4 bulan. Bila pertumbuhan tetap prima, tanaman dipindah ke dalam wadah yang lebih besar, seperti karung plastik.

Media berupa pupuk kandang dan tanah liat dengan perbandingan 1:1. Tanaman yang masih dalam karung— lalu dibenamkan ke tanah. Caranya dibuat lubang seukuran karung. Bagian dasar tanah diberi pupuk fosfor berupa TSP sebanyak 2 sendok makan atau setara 20 g. Fospor berfungsi mengoptimalkan pertumbuhan akar. Taburkan pula furadan dengan jumlah serupa untuk mencegah kehadiran patogen tanah. Setelah karung dibenamkan, bagian atas diberi TSP dan furadan dengan dosis sama. Menurut Sofiandi durian dipindah ke lahan untuk menggenjot pertumbuhan vegetatif.

Karung plastik dipakai agar saat pembongkaran tanaman tidak stres. “Kalau ditanam tanpa karung, saat diangkat bola akar rawan pecah,” katanya. Di lahan itu tanaman dirawat selama 8—12 bulan dengan frekuensi pemupukan 2 3 kali. Itu berupa penambahan bahan organik di sekeliling karung. Pembentukan cabang ke samping pun mulai dilakukan sejak tahap itu. Tanpa dibentuk, tanaman bisa bongsor hingga 3 m.

Pascaperawatan selama setahun tanaman diangkat untuk dipindah ke dalam drum. Usai diangkat, karung disobek, lalu diganti karung baru. “Biasanya plastik lapuk sehingga bola akar masih rawan pecah,” katanya. Tanaman dengan bola akar yang terbungkus karung baru, lalu ditanam di drum. Ruang antara karung dengan dinding drum diisi media utama pupuk kandang dan tanah liat plus jerami. Tujuannya media mudah mengalirkan air dan pori-pori udara cukup. Akar baru dirangsang keluar dari karung dengan menyiramkan perangsang akar sebanyak 25 ml per 10 1 air. Perangsang itu disiram setiap hari selama 1 minggu.

Menurut Sofiandi kegemburan dan kesuburan media yang berada di antara karung dan dinding drum dijaga dengan menambahkan pupuk organik tabur setiap 2 bulan sebanyak 2 kg. Tanaman biasanya tumbuh stabil setelah 2—4 minggu. Dengan perawatan rutin seperti penyiraman, pemupukan TSP, dan pupuk organik biasanya tanaman berbuah setahun berselang. “Bila hara tercukupi dan laju fotosintesis optimal, maka pembungaan mudah terpicu,” kata Yos. Buah yang muncul dapat dicegah kerontokannya dengan menambahkan kapur.

About adi

error: Content is protected !!