Varietas Cabai Hibrida Dan Lokal Yang Siap Bersaing Dipasaran

Pasar benih cabai merah Indonesia dibanjiri produsen benih dari mancanegara. "Ada 60 jenis cabai merah dari berbagai merek berkeliaran di lahan pekebun,” ujar Agus Setyono dari PT East West Seed Indonesia. Hiruk-pikuk persaingan itu kini kian ramai dengan hadirnya 3 pendatang baru. Mereka adalah 2 benih hibrida dan 1 lokal.

Ketatnya persaingan itu tampak dari kebiasaan pekebun memilih varietas. Ambil contoh di dataran tinggi. Lahan cabai di sana didominasi hot chili.
Cabai Megahot, ekstra pedas dan irit pupuk
Cabai Megahot, ekstra pedas dan irit pupuk
Sedangkan di dataran rendah hot beauty. Namun, “Asal diiming-imingi produktivitas tinggi, resisten hama, dan biaya produksi rendah mereka akan cepat berpaling,” ujar Agus.

Pekebun di Brebes dan Bantul lebih menyenangi varietas lokal seperti tit super dan jatilaba. Alasannya lebih tahan penyakit sehingga biaya produksi dapat ditekan. Sedang jenis hibrida jadi primadona di Magelang dan Blitar. Pasalnya, tanaman responsif terhadap pemupukan, berumur genjah, dan keseragaman buah tinggi. Asal dirawat intensif hama dan penyakit bakal menjauh.

“Penanaman cabai merah hibrida mencapai 70% dari total lahan cabai merah di Indonesia. Sisanya ditanami jenis lokal,” ungkap Agus. Setahun terakhir bermunculan 3 varietas cabai merah baru. Semakin panjang pula daftar benih cabai di Indonesia.

Sultan, si gemuk tahan angkut Sultan, cabai merah hibrida keluaran PT East West Seed Indonesia (EWSI). Tidak ada makna khusus dari nama itu. “Supaya mudah diingat saja,” ujar Agus Setyono. Ia cocok ditanam di ketinggian 600 m dpi. Namun, di bawah 400 m dpi pun tanaman tumbuh baik. Sejak Agustus 2002 beberapa pekebun di Malang mengganti jenis hibrida lama dengan sultan.

Sosok sultan, buah gemuk, diameter mencapai 2 cm, dan panjang 16 cm. Sayang, rasa buah kurang pedas. “Ia hanya digunakan sebagai ‘pemanis’ makanan,” ujar Handoko, bagian penjualan EWSI. Keunggulannya buah cepat merah, padat, dan berisi. Warna merah terbentuk 10 hari atau 2 petikan lebih cepat dibanding varietas hibrida lain. Kulit buah keras dan tebal saat ditekan, menandakan kadar air rendah. Wajar jika ia tahan pengangkutan jarak jauh. Sultan juga tahan phytophthora, yang selalu jadi momok pekebun.

Potensi hasil 1,5 kg per tanaman. Jika perawatannya intensif pekebun akan menikmati buah kedua. Pekebun mulai panen pada umur 85—90 hari setelah tanam (HST) dan berlangsung hingga 60 hari.

Menanam jenis hibrida berarti harus berani merogoh kocek untuk biaya penyemprotan pestisida. Lantaran ia jadi sasaran empuk tungau dan trips. Minimal seminggu 2 kali tanaman harus disemprot agar hama tidak bertandang. Begitu terlambat tanaman tidak akan tertolong.
Cabai Sultan
Cabai Sultan, buah gemuk dan besar

Megahot, ektrapedas

Sesuai namanya, komoditas baru ini sangat pedas. Ia dirilis tahun lalu oleh Known You Seed, produsen benih dari Taiwan. Idealnya ia ditanam di dataran sedang, 500 m dpi. Namun, di dataran tinggi pun masih bisa bertahan.

Sosok buah ekstrabesar; panjang 18 cm, dan bobot rata-rata 22 g. Pada umur 60 hst buah dapat dipetik jika ditanam di dataran sedang; 70 hst di dataran tinggi, di atas 800 m dpi. Potensi produksi 1 kg per tanaman dengan 16.000 populasi per ha. “Perawatannya mudah. Cukup pemberian pupuk kandang dosis 1 kg per tanaman,” tutur Ir Dwi Kartiko Ghazalie dari PT Tani Unggul Sarana, distributor benih sayuran.

Trisula: tahan banting

Tidak melulu jenis hibrida yang laris di pasaran, lokal juga. PT Riawan Tani, produsen benih sayuran di Blitar, memproduksi cabai merah nonhibrida. Benih diperoleh melalui pemurnian dari tanaman lokal. Trisula cocok ditanam di dataran rendah, 300 m dpi sampai dataran tinggi 1.200 m dpi. Sebaran penanaman mencapai Bali, Sumbawa, Mataram, Kalimantan, Sumatera, dan Jawa.
Cabai Trisula
Cabai Trisula, buah lokal yang tahan banting
Sosok trisula panjang 12—15 cm, diameter 1—2 cm, dan bobot per buah 10—15 g. Warna buah matang merah tua dan tekstur keras sehingga tahan simpan selama 12 hari. Buah dapat dipetik pada 75 hst dan berlangsung hingga 8 bulan. Potensi produksi 17— 20 ton per ha. Tanaman ini menghendaki iklim hangat dan kering, suhu berkisar 18—30°C. “Serangan antraknosa dan fusarium rendah,” ujar Pujianto dari Riawan Tani. Mereka gemar hinggap di cabai merah. Solusinya hanya disemprot minimal seminggu 3 kali. Namun, dengan trisula penyemprotan cukup seminggu sekali. Jika sekali semprot menghabiskan Rp60.000, berarti pekebun bisa lebih hemat Rp 120.000/ minggu.

0 komentar