Virus Dan Hama Penyakit pada Tanaman Cabai

Prawito terpaksa harus gigit jari. Modal Rp200-juta lenyap tak berbekas. Sekitar 10 ha lahan cabai yang digarap bersama petani binaan amblas terserang bulai. Gejala serangan sebenarnya sudah mulai tampak di beberapa titik penanaman sejak kuartal pertama 2002.

Namun, petani di Desa Way Mengaku, Kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat, itu tak menduga bila serangan bakal semakin meluas. Karena itu hingga Juli ia tetap mengupayakan penanaman dengan memilih lahan baru. Nyatanya serangan virus tak terbendung. Daerah penanaman baru tak luput dari incarannya.

Tak kuat menghadapi serangan virus, Prawito terpaksa berhenti mengembangkan komoditas yang sudah 3 tahun digeluti. Tujuh bulan terakhir Prawito dan beberapa pekebun beralih mengembangkan komoditas lain.

“Sampai hari ini kami masih trauma dengan penyakit itu,” tutur Prawito. Pasalnya, serangan virus benar-benar menggila. Hampir semua macam pestisida dipakai, tetapi tak mampu menanggulangi serangan.
di Tingkat pekebun bisa tembus angka RplO.OOO/kg.

Cepat menular

Prawito tidak sendirian mengalami nasib buruk itu. Malahan saking jengkelnya menghadapi serangan, Mukalam, pekebun di Blitar, Jawa Timur, akhirnya membiarkan lahan merana begitu saja. Ayah 1 anak itu mengalami gagal panen setelah 6.000 tanaman mati terserang virus. “Penularannya sangat cepat. Dalam tempo 2 hari saja tanaman terserang bisa mati,” papar pekebun 31 tahun itu.

Di Malang, Jawa Timur, Kuswanto juga terpaksa menghentikan penanaman cabai merah dan menggantinya dengan melon setelah beberapa tanaman ditemukan menguning dan berkeriput. Hal sama dilakukan Suharyana, pekebun di Desa Banyudono, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Pada September Oktober lalu, 30% tanaman berumur 20 hari terserang virus. Untuk mengatasi meluasnya ganyangan, tanaman terserang disulam dengan tomat. Meski begitu, “Tanaman yang bertahan hingga dapat dipanen tetap turun produksinya. Paling separuh dari total populasi awal tanam,” ungkapnya. Nasib serupa menimpa rekannya, Sumarlan. Sejak Oktober lalu gejala serangan mulai tampak. Semula muncul bercak kuning di atas permukaan daun. Perlahan bercak itu meluas hingga seluruh permukaan daun. Dampaknya daun menguning, kerdil, dan rapuh. Masyarakat setempat menyebutnya penyakit bulai atau kuning. “Dalam luasan 1 ha, tanaman terserang lebih dari 400 tanaman,” papar Sumarlan.

Menurut Yoga Susila, staf Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Magelang, bulai mulai menyerang di beberapa sentra sejak awal tahun lalu. Namun, serangan terparah baru terlihat sejak Oktober 2002 di 3 sentra: Dukun, Sawangan, dan Mungkid. Sampai Januari 2003, luas serangan di ketiga wilayah kecamatan itu masing-masing 67 ha, 124 ha, dan 58 ha. Jumlah ini berarti mencapai 15%, 38%, dan 43% dari total luas tanam Januari 2002—Januari 2003 di masing-masing wilayah itu.

Di Pemalang, Jawa Tengah, salah satu sentra cabai terbesar, serangan virus juga cukup memprihatinkan. “Saat ini saja sudah sekitar 25% lahan cabai di daerah ini yang mati lantaran virus baru itu,” ujar Freddy Salim, pekebun dan eksportir cabai.

Contohnya di kebun Freddy, dari 10 ha lahan yang ditanami pada Januari dan Februari, kini tinggal 7,5 ha yang masih tegak berdiri. “Satu per satu pertanaman mati hanya dalam tempo 2—3 minggu,” kata pebisnis cabai sejak 1978 itu. Lahan milik petani binaan juga tak luput dari serangan. Sekitar 5 ha dari 20 ha yang ditanam mitra pada awal tahun kini mulai menunjukkan gejala serangan.

Virus kerupuk Pada tanaman cabai

Menurut DR Atie Sri Duriat, peneliti Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang, virus baru ditemukan di beberapa daerah sejak awal tahun lalu. Ketika itu serangan dilaporkan terjadi di sentra cabai di Sumatera bagian selatan. Gejalanya, mula-mula terdapat bercak kuning di permukaan daun.

“Lama-kelamaan bercak meluas hingga seluruh permukaan daun berubah kuning,” papar Duriat. Serangan membuat daun mengerdil dan bertekstur remah. Karena daun terserang mudah patah, Duriat menyebut penyakit itu sebagai virus kerupuk, Dari pengalaman petani, virus terutama menyerang tanaman berusia di bawah 1 bulan setelah tanam. “Pada usia di atas 45 hari, tanaman masih bisa lolos dari serangan,” ungkap Suharyana.

Ir Yohanes Soekoco, Marketing Manager PT East West Seed Indonesia (EWSI), menuding lambatnya respon pemerintah membuat penyebaran virus makin meluas. Semula penyakit ini hanya dianggap kasus kecil sehingga tidak segera ditangani. “Kutu putih yang diduga salah satu vektor tidak dikendalikan. Akibatnya, serangan makin mengganas dan sulit diatasi,” papar alumnus Universitas Brawijaya itu.

Hingga saat ini jenis virus belum teridentifikasi. Tak hanya itu, biang keladi munculnya virus dan media penyebarannya juga belum diketahui. | Karena itu upaya penanggulangan yang 7 dilakukan pekebun tak membawa hasil. ° “Ini menjadi PR yang harus segera dituntaskan oleh lembaga penelitian dan perguruan tinggi terkait,” papar Ir Final Prajnanta MM dari Aventis Corp Science yang juga pengamat agribisnis cabai. Jika penanganannya berlarut-larut, krisis cabai bisa menjadi semacam bencana nasional.

Final menuding benih sebagai biang keladi meluasnya penyakit. Karena itu di mana pun benih ditanam, pasti akan terserang penyakit serupa. Namun, pendapat itu ditampik Ir Dwi Kartiko Ghazalie dari PT Tani Unggul Sarana (TUS), distributor benih keluaran Known You Seed asal Taiwan. “Saya kira bukan seed born disease karena benih yang sama jika ditanam di daerah lain tidak terserang,” paparnya. Ia tidak melihat adanya varietas tertentu yang rentan atau resisten terhadap penyakit baru itu.

Dwi menduga pemicu meluasnya serangan justru pola tanam yang terus-menerus. Seorang pekebun mungkin merotasi penanaman. Namun, pekebun lain di sekitar lahan terus menanam cabai. Dampaknya, siklus hidup virus tak terputus.

Saprotan menurun

Serangan virus di berbagai sentra ternyata tak hanya dirasakan dampaknya oleh petani. Efek dominonya kini mulai menghantam bisnis penjualan sarana produksinya. Lihat saja penjualan EWSI, produsen benih sayuran bermerek Panah Merah di Purwakarta. Menurut Soekoco, sejak pertengahan tahun lalu penjualan benih cabai terus turun. “Sampai akhir tahun omzet penjualan baru turun sekitar 40%. Saat ini penurunan telah mencapai 60%,” keluh Soekoco.

Dalam kondisi normal, penjualan benih cabai berlabel Panah Merah di Sumatera bagian selatan mencapai 200— 250 kg/bulan. Satu hektar lahan hanya membutuhkan sekitar 125 gram benih. Saat ini penjualan tinggal sekitar 100 kg/ bulan. Upaya mengalihkan pemasaran ke provinsi lain baru mampu mendongkrak penjualan hingga 20%. Sebab, butuh waktu untuk merintis pasar di wilayah baru.

PT Tani Unggul Sarana di Semarang juga pernah mengalami penurunan penjualan. Namun, Dwi menampik anggapan penurunan terjadi akibat adanya serangan virus. “Penurunan penjualan benih lebih karena peralihan konsumen di Yogyakarta dan Magelang dari cabai besar ke cabai keriting,” tegas Dwi. Itu pun terjadi pada 1998.

Menurut Dwi, sampai saat ini penyakit baru secara langsung belum mempengaruhi volume penjualan benih cabai TUS. Sebab, sepanjang 2002 penanaman benih cabai TUS masih sekitar 1.000 ha, atau sekitar 250 kg benih. Setara dengan penanaman pada 2001.

Penurunan penjualan juga mulai dirasakan Aventis Corp Science Indonesia, produsen pestisida. Final Prajnanta memperkirakan penurunan omzet akibat kehadiran penyakit baru itu mencapai 30%. Sebab, pekebun cabai salah satu pasar terbesar Aventis. “Karena tanaman sudah mati sejak usia dini, aplikasi pestisida pun otomatis berkurang,” papar alumnus Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto itu. Padahal, untuk mengatasi serangan hama penyakit, cabai menghabiskan 30—50% dari total biaya produksi per ha.

Bakal kosong

Final menduga, akibat serangan penyakit itu, pasokan cabai di pasaran bakal menurun dalam 2—3 bulan ke depan. Apalagi, curah hujan di beberapa sentra masih tinggi. “Di daerah bebas serangan pun produksi bakal berkurang jika hujan terus-menerus,” paparnya. Dampaknya, harga bakal melonjak.

Freddy Salim juga memperkirakan harga cabai merah bakal menembus angka RplO.OOO/kg di bulan Juni—Agustus karena pasar mengalami kekosongan pasokan. ’’Tanaman bulan Januari dan Februari yang mestinya panen pada April— Agustus saat ini banyak yang rusak,” papar Freddy. Selain karena terserang penyakit bulai, kerusakan juga karena terendam banjir. Misal di wilayah Brebes, 60% dari sekitar 1.000 ha lahan yang ditanam Januari dan Februari rusak akibat banjir.

Menurut Freddy, kekosongan pasokan terutama teijadi di seantero Jawa. Pasalnya, lahan bermasalah justru terjadi di sentra-sentra seperti Brebes, Pemalang, Magelang, Kediri, Blitar, dan Lampung yang menjadi pemasok terbesar ke pasar Jawa. Solusi mendatangkan dari luar Jawa dan Sumatera pun tak cukup mengatasi masalah. Sebab, kebutuhan konsumsi cabai di Pulau Jawa saat ini diperkirakan mencapai 670 ton/hari.

Freddy memang termasuk salah satu pemasok yang bakal merasakan dampaknya. Sebab, dalam kondisi normal saja permintaan pasar ekspor minimal 300 ton/tahun sering tersendat pasokannya. Belum lagi permintaan pasar lokal Jakarta dan Bandung yang mencapai 1.000 ton/ tahun. Maklum, produktivitas kebun rata-rata 20 ton/ ha. Dengan luas lahan 30 ha, berarti hanya bisa diproduksi 300 ton. Apalagi dalam kondisi saat ini, “Produktivitas tanaman yang lolos serangan pasti turun hingga 30—40%,” urainya.

Karena alasan itu pula Sumarlan tak ingin meninggalkan cabai meski penyakit masih terus menghadang. Menurutnya, begitu mulai menunjukkan adanya gejala serangan, tanaman terserang langsung dicabut dan dibakar. “Paling tidak 50% tanaman masih bisa lolos dari serangan,” paparnya.

Taufik, pekebun di Desa Pojok, Kecamatan Srengat, Blitar juga tak kapok menanam cabai. Meski keadaan belum membaik hingga Februari 2003, ia tetap melakukan penanaman baru. Malah, lahan bekas cabutan tanaman sakit hanya didiamkan 1 minggu. Toh, ia yakin ketika panen bakal memperoleh harga tinggi.

0 komentar