Arsip Bulanan: Desember 2021

Kontes Serama ITC Cempaka Mas 2021 Kamboja Menebus Dosa

Akhir Maret  2021 saat Kontes Nasional Serama di Yogyakarta, Serama Kamboja tampil sebagai pecundang. Meski diunggulkan meraih tropi terbaik, ia mesti tunduk pada Pangeran Salju.

Dosa itu ditebus seminggu kemudian di Jakarta. Berbekal dada busung sempurna, klangenan Edi Sebayang itu menekuk semua pesaing sekaligus merebut grand champion pada Kontes Serama ITC Cempaka Mas 2021.

Serama Kamboja memang tampil beda. “Ia mampu membusungkan dada setiap kali ada sorakan,” ujar Hengky Taniunp. koordinator tim juri P2ASI (Persatuan Pelestari Ayam Serama Indonesia). Gaya dan mental bertanding pun tak kalah menawan. Meski arena kontes penuh sesak, Serama Kamboja tak canggung bergaya.

Perjalanan Serama Kamboja meraih yang terbaik 1 sungguh terjal. Serama asal Tangerang itu mesti beradu molek dengan rival terberat, Janur Kuning wakil Palm saat menjadi kampiun dewasa A. Total nilai pun terpaut tipis hanya 3 angka saja.

Nama-nama tersohor lain seperti Ada Saja, Yoga, dan Triple sudah dilibas lebih awal. ’’Bulunya indah, tarikan dada bagus, kepala pun tegak, itulah keunggulan Serama Kamboja,” tutur Boyke Nenggolan, anggota tim juri.

Di kategori muda, Cenil dari Tangerang dikukuhkan sebagai jawara.Ia berhasil meraih nilai dengan total 71,5. Langkah tegaknya berhasil melibas Mantab milik Aris dari Cempaka dan Ken Arok kesayangan Yongki dari Karanganyar, Jawa Tengah.

Aduh, milik Aris dari Cempaka itu | berhasil menjadi terbaik di kategori remaja. Dengan total angka 49,5 ia menekuk Duo dan Lara. “Ia terbaik antara remaja berkualitas lainnya,” ungkap Vijay, tim juri.

Kontes berlangsung ramai

Kontes yang diikuti 50 serama berbagai daerah itu melahirkan jawara-jawara baru. Terutama di kelas anakan berumur 2—3 bulan. “Kualitas anakan sudah mulai meningkat,” ujar Rudi Pelung, Sekjen P2ASI. Itu menunjukkan hasil tangkaran peternak di tanahair sudah sangat berkualitas seperti negeri asalnya, Malaysia. Menurut Rudi, kelak kontes serama bakal di dominasi anakan tangkaran lokal. “Kita tinggal mensosialisasikan dengan standar yang akan kita buat,” tuturnya.

Dihakimi 3 juri ternama dari P2ASI pusat: Hengky Tanjung, Boyke Nanggolan, dan Vijay, kontes pasca merebaknya flu burung itu mengukuhkan Edi Sebayang sebagai juara umum. Lelaki bertubuh tambun itu berhasil merebut 4 juara di kategori dewasa A, muda, betina, dan anak dari 6 kategori yang dikonteskan.

Mengintip rumah yang disukai walet di sepanjang Sungai kapuas

Jam dinding di kamar hotel baru menunjukkan pukul 05.30 WIB. Namun, suara bising dan melengking yang terdengar di luar membuat penasaran. Saat tirai jendela kamar dibuka, tampak langit di sekitar hotel menghitam diselimuti ribuan walet. Riuhnya suara cericit walet itu mengawali langkah adisucipto menelusuri jejak si liur emas di sepanjang Sungai Kapuas yang membelah kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Pemandangan luar biasa itu menjadi sarapan pagi di berbagai sudut kota Pontianak. Kota Khatulistiwa itu memang sentra walet terbesar di Kalimantan Barat. Sebagian besar toko dan bangunan di pusat kota berubah fungsi menjadi rumah walet. Setiap pagi walet berhamburan keluar dari sarang.

Selama 15 menit mereka membuat langit di atas kota Pontianak menghitam. Kemudian secara berangsur-angsur suara cericit itu menghilang saat Colocalia fuchipaga itu terbang mencari pakan. Pemandangan serupa terulang kembali pada sore hari saat walet kembali ke sarang. “Kalau dihitung-hitung ada ratusan rumah walet di Pontianak,” kata Kartono, warga Pontianak.

Rumah Walet Bak hotel berbintang

Penampilan rumah walet di Pontianak bak hotel bintang lima di Jakarta. Tinggi rumah mencapai 20—30 m. Luas bangunan mulai ukuran 45 m2 hingga seluas 500 m2. Ada juga pengusaha yang membeli bangunan tua lalu menyulapnya menjadi rumah walet.

Sangat beralasan pengusaha lokal dan investor luar daerah berani berinvestasi untuk walet di Pontianak. Di sana ketersediaan pakan alami walet seperti serangga sangat melimpah. Maklum, di sepanjang Sungai Kapuas terbentang perkebunan sawit, sagu, dan rotan. Total jenderal luasnya mencapai 11.787.860 km2. Keuntungan lain jarak hutan dari sungai dan pusat kota dekat, berkisar 5—10 km. Dengan jarak sedekat itu walet tidak perlu terbang jauh mencari pakan.

Selain itu, pasar tradisional, pabrik kayu dan karet, serta gedung-gedung tua di Pontianak menjadi berkah tersendiri. adisucipto mengamati ratusan walet tampak berseliweran mencari ulat dan serangga di tumpukan limbah kayu di sekitar pabrik. Nah, bayangkan bila perusahaan-perusahaan kayu raksasa itu mampu menghasilkan ratusan ton limbah kayu dan karet setiap hari. Otomatis ketersediaan pakan bagi walet terjamin.

Pontianak benar-benar kota walet. Tak hanya di pusat kota, di tepi Sungai Kapuas, Sungai Landak, Sungai Ambawang, hingga anak-anak sungai banyak berdiri bangunan walet. Rumah walet juga dibangun di samping farm arwana dan kebun sawit. Di Desa Mega Timur, Pontianak, misalnya adisucipto menemukan 5—10 rumah walet yang berdiri di sela-sela sawit dan hutan belantara. “Di sini selain arwana, walet juga sumber penghasilan,” ucap Edo Kristanto, penangkar arwana di Pontianak.

Rumah Walet Semegah vihara

Selain di Pontianak, adisucipto juga menyusuri jejak walet di Kabupaten Singkawang, Kalimantan Barat. “Di Singkawang juga banyak walet,” kata Hendrik Virgilus, pekebun lengkeng yang memandu perjalanan ke Singkawang.

Baru setengah jam perjalanan dari Pontianak, 10—20 walet mulai terlihat berseliweran. Tak lama tampak 5—10 rumah walet berjejer di tepi Sei (sungai, red) Pinyuh dan Sungai Bakau. Luas bangunan 3 tingkat itu rata-rata sekitar 100—200 m2.

Setelah menempuh jarak 50 km, adisucipto pun tiba di Singkawang. Di Kota Seribu Vihara itu rumah walet berdiri hampir di setiap sudut kota. Mulai di daerah pertokoan, perumahan, hingga kawasan perkantoran. “Umur rumah walet di Singkawang berkisar 10—20 tahun. Sudah lama sekali ada,” kata Hendrik. Walaupun bangunan sudah berumur, teknologi yang dipakai mengikuti perkembangan terbaru. Contoh penggunaan cairan perangsang dan suara pemanggil walet.

Tak melulu di pusat kota, rumah walet pun bisa dijumpai di pinggiran kota. Misalnya di Kali Asin yang berjarak 5—8 km dari Singkawang. Di sana tampak pembangunan rumah walet seakan bersaing dengan vihara. Belasan rumah walet supermegah dan cantik dibangun. Tak seperti rumah walet di Jawa, bangunan di sana dihiasi guci dan perabot cina yang berharga mahal. Kamera pengintai dan tembok setinggi 3—4 m sengaja dibuat untuk menghindari pencurian. Agar diberkahi, kadang pemilik membangun kelenteng di atas rumah walet.

Saat sore tiba, langit di Singkawang pun mendadak gelap. Bukan pertanda hujan besar melainkan kehadiran ribuan walet yang kembali ke sarang. Temaram sinar surya muncul kembali saat walet-walet itu menghilang di balik tembok rumah walet. Seiring matahari yang kian terbenam, adisucipto mengakhiri perjalanannya mencari jejak walet di Pontianak dan Singkawang.