IBM Bird Farm: Bidan Susi Susanti sampai Roberto

H. Muhammad Chuzaini, salah satu maniak perkutut dari Korda Jawa Timur saat ini memang telah mundur dari arena konkurs. Namun, nama IBM Bird Farm, penangkaran perkutut miliknya tetap ramai dipergunjingkan.

Bahkan menjadi trade mark di kalangan maniak perkutut. Seakan tidak ada lagi bird farm lain yang sebagus penangkar ini. Tak heran jika hasil ternakan mereka banyak diminati para hobiis fanatik.

Dalam tiga tahun terakhir nama IBM Bird Farm benar-benar mencuat. Pasalnya, anakan-anakan perkutut hasil temakannya memiliki mental juara. Bambang Rukmirito, pengamat perkembangan perkutut di Jawa Timur pun mengakuinya.

“Di mana pun konkurs diadakan, ring IBM pasti tertera dalam daftar juara,” ungkap Bambang kepada Trubus di kantornya. Roberto, Happy Selancar, Desywati, dan Satos hanyalah beberapa di antaranya. Bahkan Roberto, cucu Susi Susanti yang lahir di kandang IBM-32 menjadi bintang konkurs sepanjang 1999.

Geser dominasi wilayah barat

Di kancah konkurs, IBM (Indonesia Bagian Madura) Bird Farm memang telah banyak makan asam garam. Sejak awal ‘ 1990-an, H. Muhammad, pemiliknya sudah melanglang j buana dari satu konkurs ke konkurs lain.

Bahkan pria berdarah Madura ini menjadi salah satu dari segelintir maniak perkutut asal Surabaya yang jjWW mampu bersaing dan mematahkan dominasi penggemar wilayah barat (Tasikmalaya, Bandung, dan DKI) di arena konkurs.

Mia Audina, Potong, Cucuk Rambo, J? Maradona, Lenggang Kangkung, Damarwulan, Bokor Mas, dan Susi Susanti adalah sederet nama perkutut miliknya yang sempat menjadi langganan juara di berbagai konkurs, baik regional maupun nasional.

Malahan Susi Susanti, hasil ternakan Warna Agung Tasikmalaya yang dibeli H. Muhammad seharga Rp20-juta pada ;iaj 1993 itu sukses mencatat legenda sebagai burung terbaik yang merajai arena konkurs sejak 1995—1997.

Tak heran jika salah satu media di Jawa Timur mengukuhkan Susi Susanti sebagai salah satu nominasi perkutut terbaik Indonesia 1995. Sedangkan Bokor Mas menjadi salah s£ju nominasi terbaik dalam kelompok yunior.

Muhafi, putra H. Muhammad yang meneruskan hobi sang ayah pun mengakui, nama besar IBM Bird Farm tak terlepas dari ketenaran perkutut-perkutut juara itu. Karena ingin mendapatkan keturunan juara, “Kami mulai mencoba menangkarkan para juara itu sejak 1995,” ungkap Muhafi kepada kami di rumahnya

Tambah kandang

Awalnya memang cuma beberapa kandang saja karena hanya untuk dipakai sendiri. Namun, karena piyik hasil tangkaran mereka diminati penggemar lain, jumlah kandang pun terus bertambah. “Mau nggak dikasih, nggak enak. Namanya juga teman,” jelas Muhafi.

Karena itu jika sampai pertengahan 1995 jumlah kandang di sana baru sekitar 100 kandang, saat ini melonjak jadi 250 kandang. Itupun belum termasuk kandang yang dibangun bekeijasama dengan Batara-Tara BF.

Tak semua kandang di bird, farm itu menghasilkan anakan berkualitas prima. “Ada juga yang tak mau bunyi,” ujar Muhafi. Piyik berdarah Mia Audina misalnya, jarang menunjukkan prestasi bagus di arena konkurs. Begitu pula dengan turunan Damarwulan.

Hanya piyik keturunan Susi Susanti saja yang banyak memperlihatkan prestasi baik. Beberapa di antaranya adalah Roberto yang menjadi perkutut terbaik 1999, Happy Selancar, Desywati, Satos, Batistuta, dan Bintang Kythavin yang merupakan cucu dan cicit Susi.

Karena terbukti banyak memunculkan turunan juara, pembeli pun banyak yang ngotot hanya ingin membeli trah Susi saja.

Peminat tidak hanya asal Surabaya, “Penggemar dari Bangkok pun kini banyak yang tertarik dengan turunan Susi Susanti,” lanjut Muhafi. Tim tangguh seperti Selancar termasuk salah satunya yang senang memborong piyik turunan Susi.

Susi idola

Saat ini ada beberapa kandang yang menjadi andalan IBM. Di antaranya kandang IBM-2, IBM-27, IBM-29, IBM-32, IBM-45, IBM-65, dan IBM-100.

“Semuanya berisi turunan Susi Susanti,” jelas Muhafi. Lihat saja kandang 27, berisi pasangan anak Bokor Mas dan cucu Susi. Atau di kandang 32 yang merupakan pasangan PSN-28 Thailand dan cucu Susi.

Menurut Muhafi, hasil ternakan dari kandang-kandang itu memang telah terbukti bermental juara. IBM-2 misalnya, menghasilkan Permata Hijau dan Rupawan.

IBM-29 menghasilkan Surya Selancar, atau IBM-65 memunculkan Bintang Kythavin. Dari kandang 32 bahkan muncul segudang juara seperti Roberto, Happy, Diesel, Batistuta, dan Desywati. Karena itulah kandang ini menjadi idola para penggemar perkutut saat ini.

Memang prestasi prima bukan dicapai oleh anak Susi. “Justru cucu dan cicit Susi yang kini muncul sebagai juara-juara konkurs,” urai Muhafi.

Roberto dan Happy Selancar, merupakan hasil ternakan kandang IBM-32. Begitu pula Satos yang memakai ring IBM-100, hasil perkawinan PSN-28 dan IBM-3 yang salah satu induknya adalah cucu Susi.

Lalu berapa harga jual piyik dari kandang-kandang itu? Untuk turunan Susi, harga minimal Rpl-juta/ekor piyik berumur 1,5—2 bulan. Malahan jika bercincin IBM-32, ’’Harganya bisa Rp5-juta—Rp7-juta/ekor,” ungkap Muhafi di akhir percakapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *