Kohaku Raja Kontes Koi Bandung

Kohaku kembali unjuk gigi. The 2nd Bandung Chapter International Koi Show didominasi oleh ikan merah putih ini. Empat gelar bergengsi, satu di antaranya grand champion disabet. Dominasi berikut diraih showa sanshoku, disusul keluarga shiro.

Ajang lomba di Istana Bunga Lembang itu patut menjadi catatan. Untuk ukuran Indonesia, inilah pameran terbesar yang pernah diselenggarakan. Sejumlah 975 koi didatangkan dari berbagai kota di Indonesia.

Bahkan ada pula peserta dari Jepang dan Singapura yang unjuk gigi. “Prestasi yang cukup membanggakan,” ujar Edy Sukamto, ketua ZNA Chapter Bandung. Menurut Wendi Kumia, ketua panitia, juri didatangkan dari Jepang (3 orang), Hongkong (3), dan Taiwan (2).

Koi milik Cheng Kwok Kwai dinobatkan sebagai grand champion lantaran penampilannya prima dengan warna kontras. Anatomi tubuh pun proporsional.

Cara juri menilai koi dianggap cukup selektif oleh para peserta. Hiroyuki Miyamoto terlihat sangat memperhatikan warna kontras. “Dia cermat melihat kiwa (batas warna antara 2 sisik, red),” ujar Bagus M,

“Yang dinilai cenderung kecemerlangan warna dan anatomi,” tambahnya. Pendapat itu diamini peserta lain. Kohaku milik hobiis dari Yogyakarta ini dinobatkan sebagai juara 3 kelas <25 cm

Harus prima

Selain Bagus, bintang keberuntungan jatuh ke pangkuan Sutrisno. Kohakunya dinobatkan sebagai young champion. Untuk meraih gelar terhormat itu ia harus mengalahkan 100 pesaing di kelas 35— 45 cm.

Ini sebuah kejutan buat Sutrisno. Sebab, ia sebetulnya lebih menaruh harapan ke 8 koi lain yang dipersiapkan khusus. Koi peraih young champion itu justru semula dititipkan ke rekannya di Surabaya.

Toh, usahanya memberikan spirulina kepada 8 koi jagoannya tetap membuahkan hasil. Tanchonya yang bertanding di kelas 35—45 cm merebut gelar nomor satu; shusui, juara II (25—35 cm); shiro utsuri juara III (45—55 cm).

Yang tidak beruntung di lomba itu ialah Fanny Ariffian. Hobiis asal Yogyakarta itu harus pulang dengan tangan hampa. Dua jagoannya, taisho sanke dan tancho sanke gagal berprestasi..

Padahal, taisho sanke klangenannya itu 2 kali merajai lomba. Juara 1 diraih saat lomba di Blitar dan Surabaya setahun lalu. Ini kegagalan kedua setelah lomba di Yogyakarta “Kondisinya memang lagi drop,” ungkap Fanny memaklumi kegagalan sang ikan.

Dengan alasan kesehatan pula, maka Santoso tidak membawa sang jagoan ke kota kembang. Peternak asal Bantul, Yogyakarta ini sebenarnya memiliki koi juara hasil lomba di Yogyakarta. Namun, kondisinya tidak sehat sehingga ia diistirahatkan.

Di mata Hiroyuki Miyamoto, perkembangan koi di Indonesia cukup pesat. Berbekal pengalaman 35 tahun ia menilai, “Kualitas koi di sini sudah bagus,” tutur President of ZNA Tokyo Chapter itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *