Leaf Roll Ancam Para Petani Kentang

Tanpa sebab yang jelas, daun kentang milik pekebun di Pangalengan menggulung ke atas. Pertumbuhannya tegak dan warna berubah jadi kuning pucat.

Selintas menyerupai tabung. Ketika dipegang daun terasa lebih kaku ketimbang biasanya. Setelah dicabut, terlihat umbi yang terbentuk demikian kecil.

“Mucuk julang begitu istilah petani di sini,” jelas Wildan. Kebanyakan petani tak menyadari kalau musuh dihadapannya adalah virus. Yang jadi masalah, virus ini akan terus terbawa ke generasi berikutnya. “Petani bisa rugi hingga 100% biarpun itu baru penanaman generasi kedua,” tutur Sri Hendrastuti, Dosen Hama dan Penyakit IPB, Bogor.

Ironisnya, “Virus ini sulit dideteksi saat masih berbentuk bibit,” kata Wildan. Ia baru ketahuan “belang”-nya ketika bibit telah ditanam.

Setelah ditanam, mungkin penurunan produksi yang teijadi sekitar 2%. Penanaman selanjutnya makin memperjelas penurunan produksi.

Menurut petani lulusan IPB ini, penurunan produksi yang kedua bisa bervariasi. Pada varietas yang lebih tahan, mungkin hanya 4%, tetapi bagi yang tak tahan bisa juga melonjak menjadi 70%.

Potato Leafroll Virus

Potato Leafroll Virus(PLRV)[1] adalah virus penting pada kentang. Ditenggarai “Hampir seluruh daerah penghasil kentang di Indonesia telah terserang virus ini,” kata Sri. Sayangnya baru sebagian kecil petani yang mengenalnya.

Gejala primer yang acap ditemukan ditandai dengan menggulungnya daun bagian atas, terutama anak daun. Warnanya berubah menjadi kuning pucat. Pada beberapa kultivar, warna yang ditemukan ungu, merah muda atau merah.

Gejala sekunder timbul karena umbi bibit sudah mengandung virus. Infeksi biasanya teijadi pada musim tanam sebelumnya.

Tanaman yang terserang memiliki ciri daun menggulung, kerdil, pertumbuhan tegak dan daun bagian atas tampak berwarna pucat. Daun-daun yang menggulung menjadi kaku dan berbulu. Terkadang bagian bawah berwarna keunguan.

Subspesies andigena memiliki gejala yang berbeda. Teijadi klorosis di pinggiran daun dan jaringan antartulang daun bagian atas, pertumbuhan menjadi tegak dan seringkali kerdil.

Penggulungan daun-daun bagian bawah biasanya berkurang. Penularannya teijadi melalui aphid dan umbi terinfeksi.

Pengendalian virus ini cukup sulit. Menurut Petunjuk Penanganan Virus pada Kentang yang dikeluarkan Balitsa, PLRV bisa dikendalikan melalui seleksi tanaman sehat. Bisa juga dengan membatasi tanaman sakit melalui roguing pada proses perbanyakan bibit [2].

Referensi

[1] Potato Leafroll Virus in Potato Crops. https://www.agric.wa.gov.au/potato-leafroll-virus-potato-crops. Accessed 10 Nov. 2021.

[2] Pengenalan Penyakit Yang Menyerang Pada Tanaman Kentang. https://balitsa.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/berita-terbaru/367-. Accessed 10 Nov. 2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *