Persahabatan Benny dan ikan Koi

Dua ekor chagoi, seekor sowa, dan dua kohaku segera menghampiri saat Benny memasukkan tangan kiri ke kolam dan membuat riak-riak lembut di permukaan airnya.

Lalu shrooot! Dengan lahap chagoi berwarna kuning emas menyedot pakan di telapak tangan Benny. Begitu juga chagoi lain berwarna kecokelatan dan seekor kohaku. Setiap pagi ikan-ikan samurai di kolam itu memang sarapan bersama Benny.

Ikan anggota famili Cyprinidae itu kembali mendapat suapan dari si empunya di malam hari sekembali Benny dari kantor. Jatah makan siang didapat dari pramuwisma yang bertugas ikut merawat kol.

Ikan yang pertama kali diternakkan di Jepang pada 1980-an itu juga anteng ketika direktur sebuah perusahaan jasa ekspedisi itu membelai-belai bagian kepala.

Sifat jinak salah satu yang membuat Benny kepincut koi. Koi membikin jatuh hati karena bentuknya elok dipandang dan berwarna menarik kombinasi putih, merah, hitam, dan keemasan. Gaya berenang ikan lambang kasih sayang dan persahabatan di Jepang itu pun elegan.

Benny memelihara 11 koi koleksi di kolam berukuran 3 m x 4 m dengan kedalaman 1 m. Layaknya sahabat, koi mendapat tempat khusus di dalam rumah. Posisi kolam koi bersebelahan langsung dengan ruang makan dan tanpa sekat Dengan begitu Benny bisa menikmati liukan ikan samurai di kolam dengan atap terbuka itu sembari bersantap di meja makan.

Fasilitas terbaik untuk koi pilihan

Nishigokoi, secara harfiah berarti ikan emas berbrokat, red, itu hidup sentosa karena Benny memberi fasilitas filter terbaik. Sistem penyaringan air dengan menggunakan biokristal itu bervolume 50% volume air kolam.

Lazimnya 25-30%. Dengan filter itu air selalu jernih, pengurasan air kolam cukup 3-4 bulan sekali. Setiap dua kali dalam sebulan petugas dari salah satu perusahaan importir koi datang ke rumah untuk mengecek kesehatan ikan. Pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari itu demi mendapat bentuk tubuh ikan dan warna samurai yang baik.

Benny kepincut koi tujuh tahun silam. “Saya ini memang suka merawat satwa,” tutur Benny. Di kediamannya yang asri di Jakarta Utara, pemilik beberapa restoran itu juga mengoleksi sepasang serama.

Waktu Kami berkunjung ayam terkecil di dunia yang didapat dari pameran flora dan fauna di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, setahun silam itu hilir mudik di halaman samping rumah berlapis rumput gajah mini yang terpangkas rapi.

Selama beberapa jam di pagi hari sepasang serama itu memang dibiarkan berkeliaran. Rumah mereka sebuah kandang elok dengan ukiran jepara terletak di samping kanan sebuah gazebo yang tak kalah elok.

Di gazebo itulah Benny biasa menikmati sarapan ditemani sepasang serama di kandang dan seekor bluefront amazon, paruh bengkok berbulu hijau nan indah yang pintar bicara.

Kecintaan terhadap satwa kelangenan sudah terasah sejak Benny masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) di kampung halaman di Medan, Sumatera Utara.

Benny kecil merawat ayam, merpati, kelinci di halaman belakang kediaman orangtua yang cukup lega. Ketika hijrah ke Pulau Jawa pada 1990-an karena urusan pekerjaan kelangenan itu berganti dengan seekor anjing boxer, lalu maskoki, cupang, dan dua labrador retriever.

Perjumpaan dengan teman-teman kolektor koi membuat Benny mengenal ikan samurai itu.

Pengalaman Pahit dalam beternak koi

Layaknya sebuah persahabatan, ada cerita manis dan pahit antara Benny dan koi. Pada suatu malam ketukan di pintu kamar membangunkan Benny.

Pramuwisma yang mengetuk pintu menyampaikan kabar buruk: seekor kohaku sepanjang 65 cm meloncat keluar kolam dan menggelepar-gelepar di lantai yang berbatasan dengan ruang makan.

Segera saja Benny menghampiri kolam, mengangkat ikan samurai itu, dan memasukkannya ke dalam kolam.

Ikan selamat tapi lama-kelamaan kondisinya terus menurun. “Mungkin ketika dia melompat dan menggelepar-gelepar ada bagian tubuh yang luka atau memar,” tutur pemilik seekor american akita berbulu putih cokelat berumur 2 tahun yang diimpor dari Belanda itu.

Ayah sepasang putra-putri itu pun mesti merelakan Cyprinus carpio itu untuk dirawat orang lain. Kali lain Benny melihat salah satu saringan air berbentuk kotak di dasar kolam bergeser posisi. Tanpa pikir panjang ia langsung masuk ke kolam berketinggian air sedada itu. “Saya khawatir ada koi terluka karena terkena bagian tajam saringan air,” kata Benny.

Alih-alih mengamankan koi-koi yang baru saja diberi pakan, justru seekor kohaku tiba-tiba bergerak tidak terkendali. Beberapa saat kemudian koi berukuran 60 cm itu meregang nyawa. Dari peristiwa itu Benny baru paham ucapan seorang rekan bahwa jangan membuat koi yang baru selesai makan terkejut

Toh pengalaman buruk itu tidak membuat Benny berpaling ke lain kelangenan. ‚ÄúSetiap hobi pasti ada risikonya,” tutur pria penggemar desain interior itu.

Malah ia kian keranjingan mengoleksi jenis lebih baik. Semakin mengenal koi, kian kuat keinginan pria ramah itu untuk mengganti koleksi lama dengan koi baru berkualitas lebih baik.

Memasukkan “penghuni” baru bisa jadi saat-saat mendebarkan sebab kedatangannya berisiko mendatangkan penyakit yang membuat ikan lain sakit. Oleh karena itu sebelum menggabungkan koi baru, ikan itu dikarantina dulu.

Dengan begitu “penghuni” lama dan baru bisa bergabung dengan sentosa. Di kolam di halaman belakang rumah yang bermandi cahaya lampu di malam hari ikan-ikan samurai itu memulai persahabatan dengan Benny.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *