Petualangan sang pemancing laut

Belajar dari pengalaman mancing di berbagai lokasi membuat Benyamin Hassan piawai menaklukkan ikan buruannya. Lebih dari selusin rekor nasional ia pecahkan. Namun, belakangan ia menentang aturan IGFA soal tag and release

Dokter muda itu terkapar di ruang gawat darurat. Serangan jantung memaksanya berbaring lemah. Setelah kondisinya membaik, kardiolog dan psikiater yang merawat menyarankan agar ia menekuni hobi yang paling disukainya. Itulah awal Gus benyamin Muladi Hassan menggeluti hobinya: mancing laut dalam pada 1993.

Ben, begitu ia biasa disapa, melampiaskan kesukaan mancing di Pelabuhanratu, Sukabumi dengan kapal layar sederhana. Semakin tertantang, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro itu menyambangi lokasi mancing lainnya seperti Lampung, Bengkulu, Mentawai, Padang, dan Manado. Kali ini dengan menyewa kapal yang jauh lebih mewah.

Kamus Mancing dasar Untuk Pemula

Ambon dan sekitarnya seperti Banda serta Haruku menjadi lokasi paling favorit. “Saya tahu Ambon paling cantik. Lautnya bagai kristal sehingga kita bisa melihat pemandangan hingga 30 meter bawah laut,” tutur angler itu. Itulah sebabnya ia betah berlama-lama trolling di Ambon Manise. Dengan longboat yang dilengkapi dua mesin berkekuatan masing-masing 40 PK, ia memburu marlin (Makaira nigricans).

Ketika mentari jatuh di kaki langit dan perahu telah ditambatkan di dermaga, ia masih menyempatkan mancing dasar. Menurut dia, mancing dasar justru memiliki tantangan yang lebih besar daripada trolling. Pasalnya, “Kita mengangkat beban dari bawah ke atas,” tutur pehobi masak dan fotografi itu.

Malam ia lewatkan di atas perahu yang bergoyang dipermainkan riak kecil. Keesokan harinya saat fajar merekah ia kembali menjajal kepiawaiannya menaklukkan ikan bermoncong itu. Sekali mancing minimal ia menghabiskan waktu setengah bulan. Dari pengalaman di berbagai lokasi itulah ia mengetahui teknik memancing.

Rekor ikan kuwe

Untuk melengkapi hobi, Ben mendesain sendiri kapal mancing Kemala Sari. Harga kapal berukuran 10m X 2m dengan dua mesin masing-masing 85 PK itu Rp70-juta. Dengan kapal berkecepatan 22 knot itulah ia menikmati trolling dan kadang-kadang casting.

Merasa mempunyai pengalaman, penyandang gelar Dokter Teladan Nasional pada 1982 itu mulai mengikuti berbagai game fishing. “Tapi tetap saja kegagalan sering terjadi karena ketatnya persaingan,” ujar kelahiran Tangerang 48 tahun silam itu merendah.

Padahal banyak rekor nasional yang ia ukir. Bahkan hingga saat ini rekor itu masih ia genggam erat. Untuk jenis kuwe, Ben malah pemegang rekor terbanyak. Ia pemegang 2 rekor kuwe mata besar (Caranx sexfasciatus) masing-masing di kelas kenur 2kg dengan mengangkat 2,4kg dan 3kg (6,0kg).

Di kelas kenur 3kg dan 4kg untuk kuwe sirip biru (Caranx melampygus) rekor Ben juga belum terpecahkan. Dengan kenur itu ia masing-masing menaklukkan bluefin trevally berbobot 4kg dan 5kg. Ayah dari Gusti Benindra Pratomo dan Gusti Rizky Prasetya itu tak cuma lihai mengendalikan kuwe. Rekor nasional untuk jenis kakap merah (Lutjanus sp), lima jari (Scomberiodes sp), tenggiri (Scromberomorus commerson), dan tuna gigi anjing (Gymnosardaunicolor) juga ditorehkannya.

Rekor-rekor itu umumnya dipecahkan dalam kelas kenur kecil. Ia memang lebih tertarik menggunakan kenur kecil lantaran, “Tantangannya lebih besar.” Selain itu, kesuksesannya memecahkan rekor karena ia tahu betul habitat, pola makan, dan jenis pakan ikan yang ia buru.

Ben juga tercacat sebagai angler tercepat dalam menaklukkan marlin. Dalam turnemen Piala Presiden 1997 ia hanya butuh waktu 10 menit menaklukkan ikan yang juga disebut setuhuk itu. Padahal kebanyakan para angler butuh waktu satu jam-an, bahkan lebih.

Protes T&R

Hingga saat ini ia sudah menge-tag and release (T&R) tak kurang dari 17 ikan di berbagai turnamen. Anehnya pemilik klinik Kemala Sari itu menentang program yang dicanangkan IGFA (International Game Fishing Association} itu. Sebab, dari beberapa turnamen banyak ikan yang ditag kemudian mati mengapung.

Pada turnamen Piala Presiden 1997 misalnya, tiga marlin diketahui mati setelah ditag. “Saya setuju di release saja,” kata pehobi berkebun itu. IGFA adalah organisasi mancing dunia yang berdiri pada 1939 dan bermarkas besar di Amerika Serikat.

Protesnya tidak hanya T&R tetapi juga angler yang sering mengangkat hasil pancingan dan dibiarkan begitu saja. “Itu gaya angler yang sudah dihinggapi snobisme,” ujar dokter spesialis anak lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Menjadi angler memang bukan berarti harus seenaknya. Setidaknya itulah sikap Ben yang kini lebih sering merelease hasil buruannya. Rasa “kemanusiaan”nya begitu mencuat. Ia misalnya merasa trenyuh ketika memergoki seseorang menangkap penyu dan menjualnya dengan harga Rp20.000. Ben lantas membeli penyu itu dan melepaskan kembali ke pantai.

Hobi mancing yang selama ini ia geluti juga membawa dampak positif bagi kesehatannya. Jantung kronis dan asma akut yang diderita dokter itu sirna sudah. Mungkin pergi ditelan gelombang laut membiru atau tersapu desah sang bayu ketika angler itu asyik dengan strike. Itulah sebabnya, Ben senang saja memancing walau membutuhkan dana Rp2-juta per hari. Padahal sekali mancing menghabiskan waktu berhari-hari bahkan dua minggu bila ke luar Jawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *